16 Mei 2007

Apa Sebetulnya yang Mereka Takutkan?

"Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, carilah."
-Friedrich Nietzsche



Mereka ngeri. Mereka buru-buru menyibukkan diri saat melihatku datang menghampiri. Mereka cepat-cepat bicara saat melihat bibirku siap terbuka. Sesungguhnya mereka hanya tidak menginginkan aku menjadi suara bagi telinga mereka. Saat aku hendak menghantam tembok yang mereka sebut sebagai 'dunia', sebagian dari mereka lekas-lekas memalingkan muka. Sementara sebagian lagi maju menghampiri, memukuli, menghujaniku dengan kaki, dengan tahi.

Mereka memilih dekadensi. Iya kah? Ataukah jangan-jangan mereka sama sekali tidak pernah memilih? Pada hidup, mereka tidak pernah berani mengafirmasi. Pada saat yang sama sesungguhnya mereka telah menolak hidup mereka sendiri. Akhirnya, mereka terjebak selamanya di sana. Pada dekadensi yang berkepanjangan.

Mereka ngeri pada hidup mereka sendiri. Mereka lebih suka melihatnya dalam bentuk yang elok; dalam patung-patung, dalam dewa-dewi, atau dalam tulisan-tulisan seperti ini. Kemudian perlahan mereka mulai mengacuhkan isi. Pada saat yang sama mereka telah mengacuhkan hidup mereka sendiri.

Namun, impuls itu tak pernah benar-benar mati. Ia akan terus bergerak-gerak di dalam diri. Mendesak mereka untuk menabrak tembok yang mereka sebut 'dunia'. Impuls itu terus menerus menggugat. Menuntut sesuatu yang tidak mungkin. Menciptakan resah tanpa akhir. Resah. Dan akan selamanya resah. Hingga mereka menjawab panggilannya.

Mereka memiliki tanda tanya yang besar di dalam diri. Besar sekali. Tapi apa lagi yang perlu dipertanyakan saat mereka percaya bahwa semua jawaban telah tersedia di dunia mereka yang absolut. Mereka ngeri dengan tanda tanya itu sendiri. Sebab tanda tanya memang mempunyai bentuk yang mengerikan. Seperti sebuah senjata. Tajam. Serupa arit.

Sementara dekadensi perlahan membuat semuanya tumpul. Tumpul. Setumpul imajinasi mereka yang diakibatkan oleh kepasifan mereka dalam menghayati hidup.

Apa lagi yang bisa dikreasikan oleh mereka yang mengalami ketumpulan imajinasi? Nihil. Nihilisme pasif. Pada saat itu mereka tidak mempunyai pilihan selain mengkonsumsi apa-apa yang telah tersedia.

Ah, aku melihat sebagian dari mereka mulai mendengar suaraku. Mereka mulai kembali terusik oleh impuls yang ada di dalam diri mereka masing-masing. Tanda tanya yang besar itu mulai kembali ada di genggaman mereka. Tapi aku melihat mereka kebingungan. Aku melihat mereka bertanya: apa yang selanjutnya harus kulakukan?

Di tangan mereka telah tergenggam tanda tanya. Mereka telah memegang senjata. Tapi mereka masih takut untuk meruntuhkan tembok yang mereka sebut 'dunia'. Mereka akan selamanya seperti itu, bahkan akan kembali pada dekadensi, apabila mereka masih memuja patung-patung; dewa-dewi; atau tulisan-tulisan seperti ini. Sebatas itu saja. Tak ada dialektika.

Mereka akan selamanya seperti itu, apabila mereka tidak segera menghantam tembok yang mereka sebut 'dunia', apabila mereka tidak segera meruntuhkan absolutisme dengan tubuh mereka sendiri. Sebab tanda tanya itu tidaklah cukup. Mereka harus mengubah tubuh mereka sendiri serupa palu. Tidak bisa tidak.[]

24 April 2007

How Can We Be Friend, Fascist?

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

dalam keyakinan kami
di mana pun –tirani harus tumbang!

(Widji Thukul, Bunga & Tembok)



Kunto adalah batu. Sekarang aku menyebutnya begitu. Tapi jauh sebelum itu, aku melihatnya sebagai harimau. Ia bicara dengan auman, terkadang disertai cakar. Begitu cara harimau itu berbicara menyatakan dirinya. Terkadang ia menakutkanku. Namun yang lebih menakutkanku sebenarnya adalah rasa takut yang muncul di dalam diriku. Iya, aku takut ketika aku mulai merasa takut. Sebab seringkali rasa takut membuatku kehilangan kendali atas diriku sendiri dan memungkinkan hal terburuk yang sangat kutakutkan terjadi: marah. Dan bukannya tidak mungkin dengan rasa takut itu aku juga akan menjadi harimau. Aku tidak mau menjadi harimau.

Ia harimau semenjak pertama kali aku mengenalnya. Ia harimau setiap kali menyambangi aku di pagi hari, siang hari, bahkan di dalam mimpi. Ia memang telah sekali mendatangiku lewat mimpi. Sialan. Sefokus itukah aku pada manifestasinya sehingga ia telah mengambil satu tempat di bawah sadarku? Sebenci itukah aku pada eksistensinya? Sebegitu inginnyakah aku membuat ia hilang dari kenyataan?

Sesungguhnya aku ingin berkawan dengan Kunto. Aku ingin kita berdua bisa berbicara dengan bahasa yang sama-sama kita sukai. Walau mungkin untuk menemukan bahasa itu, kita berdua harus melalui satu proses yang panjang. Mencari apa yang masing-masing kita sukai, kita tidak sukai, dan apa yang masing-masing kita takuti. Aku selalu ingin tahu apa yang sebenarnya ia takuti sehingga ia bisa menjadi sebegitu menakutkan.

Aku tidak ingin menjadi menakutkan. Tapi aku tahu, dengan rasa takutku yang masih sering datang ketika aku berhadapan dengannya, bukannya tidak mungkin suatu saat aku akan jadi sama menakutkannya. Aku ingin sekali mengatasi rasa takut ini.

Setiap kita memiliki rasa takut. Dan rasa takut terbesar dimiliki oleh ia yang paling menakutkan. Dengan rasa takut kita bertahan. Dengan rasa takut kita melindungi diri mati-matian: dari kesalahan, dari kegagalan, dari apapun yang bisa membuat kita mati. Kita semua punya ketakutan yang sama pada kematian. Kunto aku yakin juga demikian.

Akhirnya, untuk memastikannya aku bertanya padanya kemarin. Aku bertanya di depan wajahnya mengenai apa sebenarnya yang membuat ia menjadi sedemikian menakutkan. Apa yang sebenarnya ia takutkan. Dan aku kini sudah punya jawabannya;

Kunto takut membuat kesalahan yang bisa membuatnya mati. Kunto takut dunia yang ia jaga dan bentengi akan runtuh. Dan Kunto takut kalau harus memulai semuanya dari awal lagi.

***

Kunto adalah batu. Kunto adalah penakut yang sama seperti diriku. Rasa takut itu mengejawantah batu-batu yang ia bangun sebagai tembok di sekelilingnya untuk melindungi dirinya dari bahaya. Sebenarnya aku berharap tembok itu runtuh. Aku hanya ingin berkawan dengannya. Aku hanya ingin membangun dunia bersamanya. Bukan terus menerus membangun dunia kami masing-masing yang terpisah. Namun Kunto adalah batu. Ia tidak akan mengubah sikapnya, politiknya; karena ia pikir itu yang terbaik dan teraman bagi dirinya.

Sebentar lagi Kunto datang, dan ia mungkin akan tetap harimau. Ia akan tetap berbicara dengan auman, dan mungkin disertai cakar. Ia tidak ingin mengubah caranya meski kini ia sudah tahu aku tidak menyukai cara itu. Ia ingin aku bisa menerima ia yang seperti itu. Tapi ia tidak ingin menerima aku yang seperti ini. Padahal saat ini dunia kami bersinggungan cukup banyak. Sayang sekali. Entah sampai kapan kami harus hidup dengan cara seperti ini.

Sebenarnya aku ingin berkawan dengannya. Setidaknya kami bisa menjadi lawan. Tapi ternyata ia adalah batu. Dan aku tidak mengerti bagaimana caranya berkawan ataupun melawan batu. Aku tidak ingin menjadi batu supaya bisa menjadi kawannya, pun tidak ingin menjadi batu agar bisa melawan kekuatannya. Aku tidak ingin menjadi batu.

Untuk sementara aku cukup memaklumi keinginannya dan ketidakinginannya. Karena Kunto adalah penanam modal di sini. Kunto adalah bossku. Entah sampai kapan.[]

19 April 2007

Revolusi dan Anarki yang Tidak Pernah Diajarkan di Sekolah

Siapa bilang revolusi itu tidak akan pernah ada? Kita semua sedang melakukannya. Revolusi adalah perubahan yang terjadi dengan sangat cepat. Sehingga kadangkala kita tidak menyadari keberlangsungannya. Sama seperti kita yang terkadang tidak menyadari bahwa hingga pada detik ini jantung kita masih berdetak dan memompakan darah ke seluruh pembuluh di dalam tubuh kita dengan kecepatan yang kita sendiri tidak pernah bayangkan. Sama seperti kita yang terkadang tidak menyadari bahwa kita sedang berdiri di atas sebuah planet yang masih terus berrotasi hingga detik ini. Sama seperti kita yang tidak pernah bertanya untuk apa mata kita berkedip. Sama seperti kita yang mungkin belum tahu bahwa di dunia ini ada 5 manusia yang terlahir dalam satu detik, sementara 2 lainnya menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali.

Revolusi yang berhasil adalah revolusi yang anarkis; revolusi yang tidak pernah membutuhkan komando untuk menggerakan semua hal ke dalam satu misi. Ia hanya membutuhkan kesadaran penuh akan andil yang dipunyai oleh seluruh substansi di dalam sistim yang sedang bergerak maju. Tanpa ada sesuatu pun yang diam, setiap hal berkontribusi untuk perubahan yang nyata. Dan sementara ia dianggap suatu kondisi yang kacau takterkendali, anarki justru adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat terelakkan. Seperti batu besar yang menghantam bumi pada suatu ketika dan menewaskan mahluk-mahluk raksasa, yang pada jutaan tahun berikutnya diberi nama “dinosaurus” oleh mahluk-mahluk berakal yang tidak akan pernah ada tanpa didahului oleh kejadian mengenaskan itu. Seperti tsunami yang menewaskan jiwa-jiwa di Aceh, Yogyakarta, dan Pangandaran; karena bumi bergerak untuk memperbaiki dirinya sendiri akibat ulah tangan manusia yang mengganggu keseimbangannya. Seperti kau yang tidak peduli lagi akan amarah bossmu karena pekerjaan belum selesai pada waktu yang telah ditentukan, dan kau memutuskan untuk tidur di kantor karena memang mengantuk akibat telah begadang semalam suntuk demi menyelesaikan pekerjaan itu. Seperti aku yang kentut di tengah-tengah jamuan makan malam antar direksi yang sangat formil.

Tahukah kamu kalau ada keseimbangan yang terganggu apabila kau tidak mengembalikan apa yang sudah kau ambil dalam jumlah yang sama, apabila kau tidak mengeluarkan apa yang sudah kau masukkan dalam ukuran yang setara? Tahukah kamu kalau anarki telah terjadi pada setiap milidetik di atas planet ini di saat ada keseimbangan yang terusik, bahkan di dalam tubuhmu sendiri? Dan tahukah kau bahwa tidur di saat jam kerja dan kentut di sebuah jamuan makan malam yang formil adalah sesuatu yang sama anarkisnya dengan perjuangan para Zapatista di Chiapas atau para insurgen di Papua yang menuntut kembali hak mereka?

Suatu hari nanti, ketika setiap orang sudah menyadari bahwa ia memang bagian dari sebuah revolusi yang terjadi secara berkesinambungan, ketika setiap individu menyadari bahwa ia mempunyai andil yang sama di dalam alam semesta; saat itu tidak akan ada lagi penguasa yang perlu dijatuhkan. Tidak akan ada lagi pemimpin yang dibutuhkan. Yang perlu dilawan adalah sifat-sifat yang membuat substansi-substansi di dalamnya jauh dari kesadaran akan eksistensinya sebagai bagian dari satu sistim yang tanpa sekat. Dan yang perlu memimpin diri kita adalah diri kita sendiri dengan kesadaran akan tanggungjawab dan potensi yang kita sadari sama-sama kita punya.

Suatu hari nanti revolusi bukan lagi sebuah pisau berujung meruncing, yang berusaha ditusukkan pada apapun yang dibenci oleh sipemegang pisau. Ia akan kembali pada wujud utuh sebuah kesadaran universal yang satu dari seluruh elemen yang saling beraksi-reaksi. Dan seperti bumi yang sedang menyeimbangkan diri dengan cara yang kita sebut sebagai “bencana”, kesadaran universal pun sedang menuju ke arah keseimbangan dengan cara-caranya yang kontradiktif. Saat itu tidak ada lagi polarisasi nilai. Yang ada hanyalah null. Tidak adanya kepemilikan berarti telah menjadikan seluruh alam raya ini adalah milik kita semua. Tidak adanya positif dan negatif telah mengembalikan semua sistim dan hukum ke dalam satu sistim dan satu hukum alam semesta yang hanya eksis untuk satu kepentingan: Kosmos. Keteraturan.

Maka dia yang menganggap revolusi adalah sesuatu yang tidak akan pernah ada, berarti dia telah menafikkan takdirnya sebagai bagian dari alam semesta yang terus bergerak. Dia yang menganggap revolusi adalah sebuah lelucon, berarti telah melupakan betapa lebih lucunya badut-badut Ronald Mc Donald yang bisa membuat orang-orang di 62 negara percaya bahwa makanan sampah (junkfood) adalah makanan yang berkelas, atau Mc Morran yang telah membuat berhektar-hektar tanah di papua kehilangan fertilitasnya akibat merkuri.

Dan mereka yang menganggap bahwa revolusi adalah sebuah angan-angan akan masa depan, sesungguhnya mereka tidak akan pernah kemana-mana. Karena revolusi yang mereka tunggu sebenarnya tengah berlangsung, bahkan di dalam diri mereka sendiri. Mereka yang menanti datangnya revolusi sesungguhnya telah menghabiskan waktu yang bisa mereka pergunakan untuk memahami fungsi diri mereka sendiri di dalam keteraturan (Kosmos) dan kontribusi apa yang bisa mereka berikan pada keberlangsungannya.

Sekarang kalau revolusi dan anarki tidak pernah diajarkan di mana-mana–baik itu saat kita masih duduk di bangku sekolah ataupun kuliah–jawabannya hanya satu: kita terlalu takut untuk kehilangan kemapanan yang kita rasa telah punyai. Padahal, apakah kau bisa menyebutkan satu saja hal yang sifatnya statis di alam semesta ini?

Maka apa yang lebih kontra-revolusioner dan tiran daripada apa yang sudah kita perbuat terhadap diri kita sendiri?
__________

Catatan:

1. Tulisan ini pernah di-publish di blog saya terdahulu yang telah hilang disapu 'keniscayaan sistem'.
2. Tulisan ini juga pernah ikut di-republish oleh beberapa kawan di scrapman.wordpress.com dan harisx.wordpress.com; terimakasih kawan-kawan