30 April 2008

Kegalauan Akhir April

Hari terakhir di bulan April saya baru kembali ke kota tempat saya lahir ini, setelah dua pekan lebih berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain di provinsi Maluku Utara. Ketika pesawat yang saya tumpangi telah berhasil mendarat dengan sangat mulus, sembari memuji-muji skill sang kapten yang tidak saya tahu wajahnya itu, tiba-tiba terbersit gagasan untuk singgah sebentar di salah satu gerai fast-food yang ada di dekat pintu keluar. Iya, saya lapar. Pagi tadi saya bangun pukul empat, untuk mengejar waktu boarding-pass yang pukul lima. Jadi tidak ada waktu untuk makan, ataupun menghisap rokok. Lagipula jam segitu belum ada warung yang buka di Ternate.

Saya cetuskan ide itu pada Anita, partner kerja saya selama di Maluku Utara itu. Dia tampak setuju-setuju saja. Dia memang tidak pernah menolak makanan fast food. Satu-satunya yang selalu ia tolak selama dua pekan lebih itu adalah es batu. Ia tidak pernah memesan minuman apapun yang mengandung es batu di manapun kami singgah untuk makan. Sementara saya tidak pernah bisa lepas dari es teh manis, apapun makanannya. Selain itu, sepertinya ia juga sudah bosan makan ikan. Sama seperti saya yang sudah bosan dengan makanan berbahan ikan, meski sudah mencari berbagai variannya. Dibakar, digoreng, sampai yang mentah.

Saya cetuskan ide untuk membeli burger nanti, dan ia tampak setuju-setuju saja. Selanjutnya ia mengajak ngobrol, ketika penumpang yang lain terlihat sudah tak sabaran untuk turun—berdiri dan mengambil bawaan kabinnya—padahal pesawat juga masih mencari tempat parkir. Saya mau bilang padanya bahwa saya kurang bisa mendengar apa yang ia bicarakan. Bahwa telinga saya memang begini; selalu menjadi tuli apabila bepergian dengan pesawat. Gagal equalizing. Tapi dia tampak sedang senang karena akhirnya pesawat ini mendarat juga setelah tadinya kami sudah mulai jenuh berada lama di angkasa; sehingga saya pun sempat mencoba mengusir kejenuhan itu dengan melakukan aktivitas aneh. Memain-mainkan permen karet di mulut yang sudah saya kunyah sejak masih di Manado, saat pesawat transit. Karena tak tega merusak kebahagiaannya itu, saya pun membiarkan ia terus bicara, dengan sesekali tersenyum ketika ia terlihat menyelesaikan satu kalimat. Berharap ia tidak tahu kalau saya tidak mampu menyimak kata-katanya dengan kondisi seperti itu.

Setelah mengambil barang-barang di bagasi, kami pun segera keluar mencari Bang Irwan yang katanya akan menjemput kami pagi ini. Benar saja, ia terlihat sudah melambaikan tangan pada saya. Saya pun membalas lambaiannya. Padahal ini adalah kali pertama kami berjumpa. Tapi mudah baginya untuk mengenali siapa yang dijemput. Saya menjinjing kamera sony dsr pd 170. Dan tidak sulit juga mengenali siapa yang menjemput saya. Semua driver di kantor mengenakan seragam. Tanpa basa-basi saya langsung mengajak dia ikut mampir ke gerai fast food itu. Dia juga setuju. Syukurlah. Sebab kalau dia menolak karena harus mengejar waktu untuk segera kembali ke kantor, artinya saya harus menahan lapar lebih lama lagi.

Burger berisi daging dan keju lumer itu telah masuk ke dalam mulut saya. Rasanya nikmat sekali. Saat itu tanpa saya rencanakan hati saya mengucapkan terimakasih pada kapitalisme. Sebab hal seperti ini tidak saya dapatkan di Halmahera dan Tidore. Pada saat yang sama saya teringat pada teman-teman saya yang sampai sekarang mungkin masih gigih untuk anti pada Mc Donald’s. Ingatan saya juga tiba-tiba membawa saya pada satu kejadian setahun silam di jalan Thamrin. Saat itu saya ikut dalam rombongan orang-orang yang mengusung bendera hitam besar-besar dan ada lambang circle-a di tengahnya. Di depan Mc Donald’s Thamrin itu kami sempat membuat semacam aksi kecil-kecilan. Mencoret-coret tembok mereka dengan tulisan-tulisan bernada anti kapitalis; khususnya Mc Donald’s: “Mc Racun”, “Globalisashit”, dan lain-lain. Saya juga membayangkan mereka yang pada hari ini mungkin sedang bersiap-siap menyambut hari besar mereka esok. Burger di tangan saya ludes. Begitu juga dengan burger Anita dan ayam goreng Bang Irwan. Kami meninggalkan bandara.

Jalan tol dalam kota ternyata macet. Saya yang ingin merokok membuka kaca jendela, dan hawa gerah langsung nyelonong masuk ke dalam mobil. Saya menoleh ke belakang sebentar untuk memastikan apakah Anita tidak keberatan apabila kami harus bergerah-gerah sebentar saja. Tapi ia sudah tertidur. Tampaknya ia memang lelah betul. Maka saya nyalakan saja rokok itu tanpa persetujuannya.

Sembari bergerak pelan, saya bercerita pada Bang Irwan mengenai udara di Ternate yang tidak sama dengan udara Jakarta. Di sana panas juga. Sama. Tapi di Ternate hanya panas saja. Jakarta punya panas sekaligus pengap. Lengkap. Bang Irwan menganalisa bahwa hal itu dikarenakan jumlah mobil yang terlalu banyak di kota ini. Saya mengiyakan. Dan saya pun menambahkan, apabila saya punya anak nanti, saya tidak ingin membesarkannya di kota ini; udara kota ini sudah tidak baik bagi manusia bernafas. Tapi di saat yang sama saya pun teringat bahwa tadi saya baru saja memakan burger dan berterimakasih pada kapitalisme.

Di bawah jembatan layang perempatan Kuningan mata saya sempat melihat satu grafitti yang sudah lama terpampang di sana. Saya sudah berkali-kali melihatnya. Dan selama itu pula saya memang tertarik dengan gambar Homer Simpson mengenakan caping petani dan membawa cangkul. Kemudian sang pelukis menambahkan balon kata yang berisi tulisan: “Mana Sawahnya?”. Entah kenapa, grafitti itu buat saya terkesan sangat anti-kapitalis. Dan saat itu entah kenapa saya begitu ingin membaca tulisan itu keras-keras. Bang Irwan heran, kenapa saya ujug-ujug bertanya soal sawah. Saya menjawab pertanyaannya dengan menunjuk grafitti di kanannya. Dia tertawa, dan menambahkan: “boro-boro sawah. Maen bola aja susah.”

Saya katakan padanya ada tempat dan waktu untuk bermain bola yang asyik. Besok, di Bundaran HI. Dia langsung mengerti dan tertawa. Tahun lalu saya ikut bermain bola di tengah-tengah jalan protokol yang ditutup itu. Menikmati ruang publik yang tidak ada setiap hari seperti itu ketika rombongan buruh dari berbagai kelompok sedang berbondong-bondong menuju istana negara. Saya merindukan momen itu. Dan sebenarnya saya sudah berencana untuk melakukanya lagi tahun ini. Tapi saya baru saja memakan burger dan berterimakasih pada kapitalisme.
***
Di rumah, karena memang sedang mati-lampu, saya pun berniat untuk tidur saja. Tapi baru saja saya meletakkan kepala di bantal, baling-baling kipas angin yang menggantung di tembok kamar berputar. Diikuti ucapan ‘Alhamdulillah’ ibu saya. Di dalam hati saya pun merasa bersyukur, karena saya sudah mulai merasa kegerahan. Tapi bukannya membantu saya untuk tidur, udara sejuk itu malah mendorong saya untuk bangun dan melakukan aktivitas. Apapun.

Saya nyalakan komputer. Dan segera membuka aplikasi yahoo messenger. Beberapa kawan lama langsung menyapa. Saya senang mendengar kabar bahwa mereka sehat-sehat semua. Terutama Imam. Entah kenapa, tapi saya merasa sangat dekat dengannya. Padahal kami juga baru bertemu beberapa kali, dan sudah lama tidak bersua lagi sejak terakhir sekitar setahun yang lalu.

Mungkin karena Imam pernah sangat perhatian pada tulisan saya dulu. Mungkin karena Imam pernah menawari saya tempat untuk menginap ketika saya berkunjung ke Jatinangor dulu. Mungkin karena saya dan Imam memiliki sedikit kemiripan jalan kisah percintaan. Ah, entahlah.

Di awal obrolan, Imam langsung mengingatkan bahwa esok adalah ‘mayday’. Saya sudah tahu itu. Saya menjawab: Iya, kata tv besok mayday. Dia tertawa. Mungkin dia mengerti bahwa saya sedang mengatakan bahwa ‘mayday’—yang kata itu sendiri pun berarti sandi untuk meminta pertolongan pada saat darurat—pun kini sudah menjadi sesuatu yang tidak dianggap berbahaya lagi. Bahkan tv pun telah menggunakan kata yang sama untuk menyebut tanggal 1 Mei itu. Dia tertawa dan menambahkan, “Datang ke Nidji aja.”

Saya tidak mengerti. Dan saya bertanya apa maksudnya.

“Iya, katanya Nidji juga mengadakan mayday di Gelora Bung Karno; mayday fiesta, harga tiket masuknya 20.000,” dan dia tertawa lagi. Saya juga tertawa. Entah apa yang saya tertawakan. Mungkin berbeda dengan yang Imam tertawakan. Mungkin saya menertawakan diri saya sendiri yang baru saja memakan burger, menggunakan kipas angin dan berterimakasih pada kapitalisme; sementara saya tidak berniat datang ke acara Nidji yang kemungkinan serius mengadakan event tersebut ataupun bermain bola lagi di tengah jalan Thamrin seperti tahun kemarin.[]