06 April 2008

HAMPA

"But you're wrong if you think that the joy of life comes principally from human relationships. God's placed it all around us. It's in everything. It's in anything we can experience. People just need to change the way they look at those things." –INTO THE WILD


Kalau malam sebelumnya aku duduk di sana bertemankan sebuah novel karya Budi Darma, malam berikutnya novel tersebut tidak bersamaku di sana. Kutinggal di kamar. Satu-satunya buku yang kubawa dari kamar kostku juga sudah kupindah tangankan pada temanku yang sedang bersamaku di sana pada malam itu juga. Itu novel yang kutulis dua tahun lalu. Sudah pula diterbitkan. Tapi, entah, hingga kini laporan mengenai hasil penjualannya belum lagi kudapat dari pihak penerbit setelah laporan tiga-bulan-pertama yang kudapat kira-kira satu tahun yang lalu. Aku tidak terlampau memusingkannya. Aku sudah cukup puas melahirkan karya tanpa merasa harus diapresiasi dalam bentuk royalti.

Tanpa kutahu berapa banyak yang masih tersisa di pasaran—atau barangkali sudah retur semua—sekarang aku masih menyimpan dua buah di kamar. Sebelumnya tiga. Sebelum yang satu buah kuberikan pada teman baruku malam itu. Alasanku memberikannya secara gratis pada dia ada tiga: Satu, aku rasa ia gemar membaca. Dua, dia adalah teman yang kuketahui belum sempat membaca novelku. Dan tiga, aku masih memiliki tiga buah. Aku pikir, untuk apa mereka disimpan begitu saja di kamar. Pasti akan lebih bermanfaat seandainya diberikan, atau dipinjamkan, kepada orang yang memang berkeinginan membacanya.

Dan aku mendapat semacam petunjuk bahwa ia adalah salah satu orang yang berkeinginan membaca novelku. Petunjuk yang kudapat pada dua malam sebelumnya. Sebelum pada akhirnya kuberikan juga yang satu buah—dari tiga yang kusimpan di kamar—padanya malam itu.

***

Suatu malam aku berkunjung ke sebuah rental buku milik seorang teman. Hari nama temanku itu. Sebetulnya sudah cukup lama juga aku tidak berkunjung ke sana. Semenjak yang terakhir, sekitar dua atau tiga bulan lalu, ketika aku mengembalikan Saman. Sesudah itu, aku akui, antusiasme membacaku merosot dengan cepat hingga akhirnya pun sampai pada titik nadir. Aku bukannya tidak berusaha untuk meningkatkannya kembali. Tapi saat itu sepertinya aku memang tengah kehilangan konsentrasi untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan daya konsentrasi cukup tinggi, seperti membaca.

Menurut suatu hasil observasi yang pernah kubaca pada sebuah buku mengenai Psycho-Test, rata-rata orang dapat bertahan untuk berkonsentrasi pada satu hal maksimal tigapuluh detik. Selepas itu konsentrasi seseorang akan kendor. Ia dapat kembali berkonsentrasi pada hal yang sama setelah sejenak merelaksasikan pikirannya. Namun itu pun biasanya ia tidak bisa lagi mempertahankan konsentrasi selama yang sebelumnya. Dan itu akan terus menurun hingga akhirnya ia memang harus benar-benar rehat dari satu hal tersebut untuk waktu yang lebih lama.

Seperti aku yang selalu gagal untuk mempertahankan konsentrasi pada kumcernya Nukila Amal, padahal aku baru membaca satu-dua kalimat. Pikiranku terus menerus melayang ke tempat lain. Hingga akhirnya buku tersebut kuhempaskan ke samping bantal dan aku memilih untuk berusaha tidur saja. Dan itu terjadi hampir setiap hari selama kurang lebih dua bulan. Melelahkan.

Baru akhir-akhir ini saja aku berhasil mendapatkan diriku kembali. Kini aku sudah bisa lagi menyendiri tanpa merasa kesepian. Duduk berlama-lama memandangi bintang-bintang sembari menyeruput kopi dengan benar-benar menikmati itu semua. Aku jadi mengerti bahwa apabila kita masih merasa kesepian ketika sedang sendirian, maka di tengah keramaian pun kita akan tetap merasakan kesepian yang sama. Ternyata perasaan teralienasi hanya dirasakan oleh orang yang tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan. Sedang aku sudah mengetahui bahwa bisa kembali menikmati waktu seperti itu adalah apa yang selama ini aku inginkan. Walau juga mungkin belum benar-benar tahu apa yang ingin kukejar. Tapi, aku pikir, untuk saat ini aku belum ingin mengejar apa-apa.

Dan kedatanganku ke rental buku Hari setelah sekian lama absen, memang bukan dengan tujuan meminjam buku. Antusiasme membacaku memang belum beranjak terlalu jauh dari titik nadir. Tapi aku rasa ada yang lebih perlu untuk segera kutingkatkan lagi: antusiasme terhadap hidup. Dua bulan terakhir yang lebih banyak kuhabiskan dengan mengurung diri di kamar kuakui sempat membuatku terpikir untuk mengakhiri hidup. Pikiran yang baru akhir-akhir ini kusadari sebagai suatu kesalahan. Salah karena hanya sebatas pikiran saja. Sebab apabila aku memang yakin bahwa bunuh diri adalah solusi bagi masalah-masalah yang kuhadapi, kenapa tidak segera kulakukan? Orang yang hanya mengeluhkan keadaan tanpa pernah memulai untuk berbuat sesuatu demi keluar dari keadaan tersebut, tentu telah menyia-nyiakan sekian banyak waktu yang semestinya bisa ia pergunakan untuk membuat perubahan. Dan itulah yang selama ini kulakukan. Merasa bahwa tekanan-tekanan ini semakin memberatkan, tapi selama itu pula tidak pernah aku membangunkan diri sendiri untuk kemudian beranjak. Hal yang sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang sedang terjatuh, seperti: segera memulihkan luka-luka dan mencoba berdiri lagi, tidak aku lakukan. Alih-alih seperti itu aku malah terus mengorek-ngorek luka itu sendiri seolah aku berniat untuk mempertahankan rasa sakit tersebut lama-lama.

Maka dengan sangat malu aku mengakui bahwa mungkin saat itu jiwaku memang tidak sehat. Dan barangkali aku memang bisa disebut psikopat. Iya. Orang sehat mana yang senang terus menerus melukai dirinya sendiri? Aku tidak ada bedanya dengan orang-orang yang berteriak-teriak pada dunia untuk meminta perhatian dengan cara berdiri di atap sebuah gedung tinggi, berpikir untuk mati, tapi tidak pernah benar-benar berniat untuk melompat. Memalukan. Tapi memang harus aku akui, aku pernah berada di sana. Setelah mengakui dan menyadari bahwa berada di sana adalah sesuatu yang ‘salah’, langkah berikutnya yang perlu kulakukan adalah: beranjak dari sana dan memulai perubahan.

Tentu tidak ada yang bisa kusalahkan apabila aku merasakan kehampaan hidup sehingga terbersit untuk menyudahi hidupku. Tidak juga orang-orang yang pergi meninggalkanku. Aku lah yang salah karena menjadi merasa tidak dapat hidup tanpa mereka. Ketergantungan. Iya, perasaan ketergantungan memang hanya membuat hidup menjadi tidak merdeka. Dengan atau tanpa mereka aku tetaplah aku―itu yang selama ini telah kulupakan.

Kesadaran itulah yang membuatku dapat kembali nyaman dengan kesendirian, dapat kembali berantusias terhadap hidup. Memandangi taburan bintang dengan ditemani segelas kopi telah kembali menjadi sesuatu yang lebih dari cukup untuk membuatku merasakan secuil kebahagiaan. Dalam hati aku berseru, ‘Hei! Semangat hidupku telah kembali.’ Itu yang terpenting.

Setelah persoalan internal terbenahi, ternyata masih ada satu hal lagi yang belum beres: finansial. Aku sadar tidak mungkin dapat terus-menerus mengharapkan kebaikan dari tetangga-tetangga kostku untuk mau menyisihkan makanan mereka. Sementara perut ini tidak mau kompromi jika sehari saja tidak diisi. Dan persediaan uangku juga telah habis sejak lama. Aku juga sudah malu untuk terus-terusan meminjam uang pada kawan-kawan tanpa pernah dapat kupastikan kapan aku bisa mengembalikannya. Maka satu-satunya cara adalah aku harus mencari sumber penghasilanku sendiri. Inilah alasan kunjunganku ke rental buku Hari. Barangkali ia mempunyai info lowongan kerja.

Sesungguhnya aku tidak dapat menolak untuk berpikir: jika aku merasa tidak dapat hidup tanpa seseorang adalah sesuatu yang salah, apakah berpikiran tidak dapat hidup tanpa uang adalah sesuatu yang bisa dibenarkan?

Barangkali itu adalah pikiran yang logis. Tentunya jika dipandang dengan logika sistem ekonomi. Dimana pada sistem yang mengkomodifikasi hampir segala sesuatu ini, kita tidak bisa mendapatkan hampir segala sesuatu secara gratis. Hanya udara dan sinar matahari saja yang masih bisa didapatkan secara cuma-cuma. Untuk mendapatkan air yang laik minum saja kita harus mengeluarkan uang sekitar tigaribu rupiah. Gratis tisu basah. Apabila kita tidak ingin membeli, kita bisa langsung mengambil dari keran. Itu pun tidak ada jaminan apakah setelah meminumnya kita akan tetap sehat. Atau kita dapat memasaknya. Tapi itu pun kita harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli minyak tanah.

Harga beras yang melonjak pun, menurut berita yang pernah kubaca, merupakan imbas dari tidak tepatnya strategi pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan distribusi dan tata niaga beras. Bahkan ada yang mengatakan bahwa perberasan telah terpolitisasi: kita sesungguhnya tidak pernah kekurangan beras, namun ada pihak-pihak yang menggambarkan seolah seperti itu agar ada peluang untuk melakukan impor. Tentu bukan hanya petani yang akan dirugikan apabila pemerintah tidak bersungguh-sungguh dalam mengimplementasikan kebijakan distribusi dan tata niaga komoditas pertanian. Tapi juga masyarakat konsumen yang hanya tahu harga beras tiba-tiba naik.

Namun saat ini aku belum ingin memikirkan soal itu secara lebih serius. Aku tahu, bahkan sekalipun ingin melawan, aku harus bisa bertahan hidup lebih dahulu. Karena itu aku hanya tersenyum ketika beberapa hari yang lalu kawanku, Pam, mengkritisi hilangnya diriku dari sebuah jaringan otonomis di Jakarta selama tiga bulan ini. Dia berkata, aku tidak ada bedanya dengan kaum urban modern yang hanya mau senang-senangnya saja. Oke, barangkali dia benar. Aku memang tidak terlalu tertarik untuk berdiri di barisan depan dari komunitas nelayan di Kamal Muara untuk melindungi perkampungan mereka yang hendak digusur. Aku hanya tidak mengerti: untuk apa itu semua? Apakah berhasil membuat pecah kepala seorang aparat dapat membuat orang-orang miskin menjadi kaya?

Ah, aku jadi teringat cerita si Yerry waktu itu. Entah kisah nyata atau tidak. Tapi yang pasti menstimuli otakku untuk berpikir. Ia bercerita tentang sebuah aksi massa di Seattle dalam memprotes G8. Saat itu bentrokan fisik belum terjadi. Namun, satuan aparat telah membentuk sebuah barikade manusia. Pada saat seperti itu beberapa demonstran yang berdiri terdepan mencoba mengajak aparat-aparat tersebut untuk berkomunikasi. Salah satu demonstran bertanya, “Untuk apa sih kalian melindungi kapitalis-kapitalis itu?” Cukup mengejutkan jawaban yang keluar dari mulut seorang aparat itu, “Kapitalis-kapitalis itu yang ngasih anak saya susu.”

Terus terang, aku memang tidak pernah tertarik untuk berbentrokan dengan aparat. Karena sebelum aku mendengar cerita dari Yerry pun aku sudah mengerti, bahwa mereka hanyalah alat. Selain itu aku pun tahu, mereka juga manusia seperti aku. Mereka punya hak yang sama untuk hidup dan bahagia. Hanya saja di bawah sistem ini kita seringkali tidak punya banyak waktu untuk memilih pekerjaan apa yang bisa menjadi sumber penghasilan kita. Apalagi di bawah tekanan ekonomi yang sangat mendesak. Seseorang yang tidak tahu lagi harus bekerja sebagai apa dengan latar belakang pendidikan yang pas-pasan, akan mengambil peluang apapun yang sekiranya bisa menyelamatkan ia dari ancaman kelaparan. Jika melawan mereka dengan motif untuk melawan sistem, menurutku kurang tepat-sasaran. Itu saja.

Kalau Pam bertanya―sekali lagi: kalau―lalu apa bentuk perlawananmu sekarang? Aku akan menjawab: tidak ada. Karena seperti yang sempat kubilang tadi, sekalipun ingin melawan, aku harus bisa bertahan hidup lebih dahulu. Mempunyai penghasilan yang cukup untuk membayar biaya kost bulanan, makan, dan juga transportasi. Aku rasa dalam ketiga hal itu aku tidak bisa tidak untuk berkompromi. Dan aku memang tidak sedang mengatakan ‘suatu saat pasti aku akan kembali ke jaringan otonomis itu untuk membantu’. Tidak. Aku tahu saat ini aku baru saja mendapatkan diriku kembali. Jadi sangat bisa jadi aku yang dulu berada di sana bukanlah diriku sebenarnya. Karena itu bisa jadi juga diriku sebenarnya memang orang yang maunya hanya senang-senangnya saja, seperti yang ia katakan. Jadi, kita lihat saja apa yang sesaat lagi kulakukan di dalam sistem ini. Tidak perlu terlalu cepat membuat kesimpulan.

***

“Har, ada buku-buku terbitan Kata Kita, nggak? Saya lagi nyari pekerjaan nih,” itu kalimat pertama yang kuucapkan begitu masuk ke rental buku Hari. Yang kutanya menunjuk ke salah satu rak. Aku segera mengambil salah satu dari sekian banyak yang ada di sana secara sembarang. Sejurus kemudian aku membuka halaman pertama dan aku menemukan yang kucari; alamat penerbit. Aku meminta kertas dan alat tulis pada Hari. Tak lama, aku sudah mulai sibuk menyalin alamat yang tertera ke atas kertas.

Aku tak merasa perlu menjelaskan lebih banyak hal pada Hari. Tentang apa kaitannya antara aku yang sedang mencari pekerjaan dengan penerbit Kata Kita. Lagipula ia pun tidak bertanya apa-apa. Karena itu aku tidak melakukan hal lain ketika sedang menuliskan alamat. Aku fokus.

Pada saat itu datang seorang perempuan. Ia berdiri persis di sampingku. Di depan kami berdua adalah meja kebesaran Hari, dimana ia selalu duduk di belakangnya menjaga rental. Aku tidak mempedulikan kehadiran perempuan itu pada awalnya. Bahkan aku tidak menangkap satupun yang ia dan Hari bincangkan. Aku masih fokus menuliskan alamat.

“Ini kenalin temen gue,” tiba-tiba Hari berkata. Aku yang merasa tidak ada siapapun di depannya selain aku dan perempuan di sampingku, segera merasa bahwa Hari ingin memperkenalkan aku pada temannya itu. Atau sebaliknya. Aku spontan menoleh. Dan kami pun saling menyebutkan nama.

Selesai mencatat alamat, aku letakkan kembali buku yang tidak sempat kulihat judulnya itu ke rak. Dan tanpa merasa perlu berbasa-basi lagi, aku segera pamit pada Hari. Ketika hampir berada di luar, aku mendengar Hari berseru: “ada yang minta nomer hp lo nih!”.

Aku menghentikan langkah. Perempuan itu membalikkan tubuhnya ke arahku. Aku memanggil dia, “Sini!” Dan dia berjalan menuju tempatku berdiri, di ambang pintu rental. “Kenapa?” tanyaku. Dan kami pun berkenalan sekali lagi. Malam itu aku bertanya padanya apakah ia sudah membaca ‘Perang’.

Dua malam berikutnya, malam minggu, kami bertemu lagi. Lewat SMS dia memintaku untuk menemaninya mengobrol di suatu tempat. Aku tidak berkeberatan, karena sejak sore aku memang sudah berencana untuk keluar. Entah ke Gramedia terdekat untuk numpang-baca atau hanya menyaksikan orang-orang beraksi dengan papan luncur mereka di skate-park Margo City. Sebelum meninggalkan kamar, aku teringat satu hal. Aku berniat untuk memberikan satu buah novelku padanya. Karena dua malam sebelumnya ia sempat berkata ingin membaca novel itu. Maka aku bawa salah satu dari tiga yang menumpuk di atas lemari pakaian.

Aku menjemputnya di rental buku Hari. Saat itu Hari tidak ada. Di balik meja tempat biasa Hari duduk kulihat perempuan itu. Ia sedang mengolesi bulu matanya dengan maskara. “Ha? Kok dandan?” tanyaku dalam hati.

Aku masuk ke dalam rental. Dan ia pun segera berdiri dari duduknya, menghampiriku. “Mau kemana?” tanyaku.

“Ah, basi!” jawabnya.

Aku hanya tersenyum. Seandainya dia mengerti pertanyaan itu bukanlah sebuah basa-basi, melainkan semacam sindiran. Tapi barangkali ada bagusnya juga dia tidak mengerti. Sebetulnya aku hanya merasa agak rikuh berjalan dengan seorang perempuan yang bersolek seperti itu sementara pakaianku sangat seadanya. Tapi karena aku sudah tiba di sana, aku tidak berniat kembali ke kost untuk menukar celana jeans sobekku dengan yang lebih rapi. Apalagi lantas kabur dari pandangannya. Rasanya itu lebih tidak sopan daripada memakai jeans sobek di dengkul. Dan berangkatlah kami ke Margo City dengan berjalan kaki.

Tempat yang kami tuju sebetulnya tidak seberapa jauh, tapi trotoar di jalan Margonda memang tidak terlalu bersahabat bagi para pedestrian. Begitu banyak pedagang makanan yang mendirikan tenda mereka melintang di atas trotoar dengan sembarang. Sehingga seringkali kami harus mengalah berjalan di jalan raya. Saat-saat seperti itu aku menjadi ekstra hati-hati, berjalan sembari sesekali menoleh ke belakang. Khawatir ada kendaraan yang tiba-tiba menyerudukku. Ketidaknyamanan seperti itu yang membuat perjalanan terasa lebih jauh.

“Kemarin saya ke sini juga,” ujarku begitu kami duduk di undakan, tak jauh dari orang-orang yang sedang berlatih Tae Kwon Do.

“Ohya? Ngapain?”

“Baca Budi Darma… Ohya, ini ada buku buat kamu,” aku menyerahkan novel yang sedari tadi kubawa-bawa.

“Oh, terimakasih. Kemarin gue nanya ke Hari, dia bilang udah habis. Yah, padahal gue mau beli. Ternyata hari ini dikasih langsung sama penulisnya. Terimakasih ya.”

Obrolan panjang kami selanjutnya dibuka dengan dialog tersebut. Aku yang membuka. Tapi kemudian didominasi olehnya. Aku tidak berkeberatan. Aku rasa aku adalah manusia yang sudah cukup terlatih untuk mendengarkan. Walau kadang di sela-sela pembicaraannya aku ingin menyisipkan opini atau komentar. Tapi melihat ia yang hampir tak putus-putusnya bicara, aku rasa ia tidak membutuhkan itu semua.

Ia bicara mengenai banyak soal. Soalan-soalan yang menyangkut dirinya. Ia sepertinya memang membutuhkan itu malam ini; didengarkan. Hanya itu yang ia butuhkan. Bahkan hingga orang-orang yang berlatih Tae Kwon Do terlihat sudah membubarkan diri, ia belum terlihat ingin menyudahi pembicaraannya. Seandainya ia tahu aku tidak mahir dalam mengingat, barangkali ia akan merasa apa yang ia lakukan malam itu adalah sesuatu yang sia-sia. Barangkali juga tidak. Barangkali ia memang hanya ingin bicara tanpa merasa perlu tahu apakah teman bicaranya benar-benar mengerti semua yang ia bicarakan. Barangkali.

Aku mengerti setiap hal yang ia bicarakan. Walau aku tidak menjamin bisa mengingat semuanya dengan baik. Tapi tidak terlalu sulit untuk merekam apa-apa yang menurutku cukup penting. Karena itu aku akan mencoba menuturkan kembali ceritanya dengan caraku sendiri:

“Gue lagi bosen sekarang. Udah nganggur selama sebulan. Makanya akhir-akhir ini gue sering keluar dari rumah. Nginep bahkan. Di rumah nggak tau mau ngapain. Gue kesepian. Kakak-kakak gue udah pada nikah semua dan tinggal sama suami atau isterinya. Ada sih satu yang belum. Tapi itu pun nggak di sini. Dia kerja di luar kota. Pulang ke rumah jarang-jarang. Bokap gue juga lebih sering pergi ke rumah temen-temennya.

Sebelum ini gue kerja tiga bulan. Di sini nih―di Margo City. Jadi waitress di salah satu cafĂ©. Lumayan sih. Walau gajinya cuma lima ratus ribu, tapi paling enggak udah lebih bagus dari yang sebelumnya. Sebelumnya gue kerja di daerah Radio Dalam. Di bagian cookies. Iya, cookies. Kue. Gue yang menghias-hias kue. Bukan, gue bukan kerja di toko. Tapi semacam pabrik dari kue-kue yang nantinya disupply ke toko-toko yang tersebar di seluruh Jakarta. Capek kerja di situ. Apalagi kalo dapet shift siang. Berarti gue harus pulang malem. Jam 11an. Nah, lo tau kan bis dari situ ke Depok kalo jam segitu udah nggak ada? Makanya gue harus ke Blok M dulu nyari bis yang ke Depok. Yang artinya gue harus keluarin duit buat ongkos lebih banyak dari sewajarnya. Padahal di situ gue diupah per hari. Lima belas ribu sehari. Itu salah satu yang juga bikin gue capek. Buat ongkos pulang-pergi aja upah gue udah habis sepuluh ribu. Itu yang sewajarnya. Tapi kalau pas dapet giliran pulang malem bisa lebih dari sepuluh ribu. Coba aja pikir, gue kerja capek-capek tapi cuma dapet paling banyak lima ribu sehari.

Makanya nyokap gue marah-marah. Bukan, bukan ngomel ke gue. Tapi ngomel sama kondisi yang harus gue terima. Dia bilang: ‘Mama udah nyekolahin kamu mahal-mahal, tapi kamu cuma bisa dapet duit lima ribu sehari.’ Ya, akhirnya gue cuma bertahan di sana sebulan.

Enggak, gue nggak lulusan kuliah sih. Gue lulusan SMK. Makanya gue sebetulnya pengen ngelanjutin kuliah lagi. Yang masih satu jurusan sih. Tata boga atau Pariwisata. Gue pengennya sih masuk di Sahid. Tapi nggak punya duit. Gue udah nggak mau ngebebanin orangtua lagi. Gue pengennya kuliah sembari kerja. Tapi nyari kerja lagi kok susah banget ya?

Kemaren ada temen gue yang nawarin kerjaan sih. Di semacam diskotik gitu. Jadi pramusaji. Temen gue itu DJ yang sering maen di diskotik tersebut. Tapi pas gue tanya, apa di sana pramusajinya harus pake pakaian yang ketat-ketat? Dia bilang iya. Gue nggak mau lah. Gue sebenernya nggak pernah ngerasa keganggu kalo cuma berada di diskotik aja. Gue suka kok denger musik-musik yang jedag-jedug gitu. Gue suka musik yang nge-beat. Tapi di rumah gue nggak boleh dengerin musik kayak begitu. Bokap. Bokap yang selalu ngomel-ngomel kalo gue dengerin musik kayak begitu. Dia bilang gini: Kamu jangan dengerin musik kayak gitu. Kamu gak tahu musik kayak gitu bikinan orang yang pake salib. Dalem hati gue bilang, So What? Mau pake salib kek, mau pake sarung kek, kalo gue seneng musiknya kenapa harus mikirin siapa yang bikin? Iya, nggak? Tapi gue akhirnya yang selalu ngalah. Bokap gue mah gitu. Agak galak juga emang.

Makanya akhirnya kalo lagi pengen dengerin musik kayak gitu gue larinya ke diskotik. Iya, gue seneng dateng tuh ke sana. Apalagi kalo ada invitation. Gratisan gitu lah. Juga kalo pas Ladies Night, Rabu malem. Kalo pas Ladies Night gue seringnya dateng sama temen-temen gue. Ya yang cewek, ya yang cowok. Yang cowok-cowok sih bayar. Udah plus minuman. Nggak, gue nggak pernah mau ikut minum kok. Tapi pernah sih, sekali waktu gue dipaksa dan gue nggak bisa berkutik. Akhirnya ya gue mabuk. Bayangin aja, satu pitcher berempat.

Sebenernya, gue ke sana yang gue cari itu cuma funnya aja kok. Gue seneng aja bisa ngerasa bebas. Dance ngikutin musik. Di rumah gue nggak bisa kayak gitu. Makanya gue sekarang ngerasa nggak betah di rumah. Lagian juga bosen. Kalo di rumah kerjaannya cuma tidur, makan, nonton tivi, tidur lagi. Gitu-gitu aja. Gue lebih seneng jalan-jalan. Kadang sampe nginep.

Hmm, enggak bilang sih. Gue nggak pernah bilang kalo mau nggak pulang. Tapi biasanya gue bilangnya itu pas udah malem. Gue SMS nyokap, bilang kalo ada acara ulang tahun temen dan kemaleman untuk pulang. Enggak, besoknya pas gue balik, gue nggak diomelin. Mungkin karena dulu waktu gue masih sekolah nyokap pernah bilang: ‘Nanti kalo kamu udah lulus sekolah, kamu boleh deh nginep-nginep di rumah temen pas ada acara ulang tahun’. Makanya sekarang kalo gue pake alasan itu nyokap nggak marah.

Kadang temen-temen gue dateng ke rumah. Kebanyakan yang cowok-cowok. Kayaknya bokap kurang suka ngeliat itu. Mungkin di pikirannya, dari segitu banyak temen cowok anaknya mana sih yang bener-bener pacarnya. Gue sih cuek aja. Karena mereka semua temen gue. Tapi bokap juga nggak pernah ngomel langsung di depan mereka sih. Jarang. Apalagi kalo mereka sopan. Pernah sih sekali dia marah gitu ke salah satu temen gue, Ali. Saat itu gue seneng sama sikap bokap. Gue ngerasa sehati aja. Karena gue tahu si Ali itu playboy.

Dia ceweknya banyak. Brengsek. Kok lo malah ketawa sih? Iya, dia brengsek. Banget. Karena gue hampir suka sama dia. Gue udah sempet kena rayuan gombalnya. Dia ngasih gue bunga, bilang gue itu cantik, dan sebagainya deh. Cewek mana coba yang nggak klepek-klepek digituin? Gue ngerasa spesial aja. Waktu itu gue bener-bener mikir kalo dia begitu cuma ke gue aja. Ih, tapi alhamdulillah, nggak lama setelah gue jalan bareng ama dia gue kayak dikasih petunjuk. Ada SMS masuk ke hape gue yang bilang, ‘Lo lagi deket sama Ali ya? Gue cuma mau kasih tau aja sama lo: Ali itu sebenernya udah punya cewek, gue. Tapi kalo lo emang pengen nerusin hubungan lo ama dia, nggak apa-apa biar gue yang mundur’.

Iya. Sakit. Sakit banget gue waktu itu. Gue yang tadinya berpikir kalo Ali emang sayangnya ke gue doang, ternyata bohong besar. Dan tahu gak lo? Ternyata menurut pacarnya si Ali, gue bukan yang pertama dibohongin. Gue yang kedua. Yah, ketiga lah kalo pacar benerannya si Ali itu dihitung. Gue itu sampe ketemuan sama pacarnya Ali. Ketemuan di Kalibata. Gue minta maaf sama dia karena nggak tahu kalo dia ada. Tapi dia kayaknya emang sabar banget orangnya. Dia bilang, ‘Nggak apa-apa lagi. Gue sih udah ngerti banget sifat Ali itu kayak apa. Makanya supaya gue nggak terlalu sakit kalo sewaktu-waktu gue dibeginiin, diduain, ditigain, gue juga udah punya cadangan. Gue nggak terlalu serius-serius amat sama Ali. Gue juga nggak mau lo disakitin oleh orang yang sama dengan yang nyakitin gue. Makanya gue kasih tahu sama lo sebelum perasaan lo semakin dalem. Biar gue sendiri aja yang sakit. Lo gak usah.’.

Ali sendiri sampe sekarang belom tau kalo gue pernah ketemuan sama pacarnya. Pacarnya juga minta gue merahasiakan pertemuan itu. Nggak ngerti apa motifnya. Tapi gue turutin aja. Makanya sampe sekarang pun Ali masih sering maen ke rumah. Nah, terakhir itu empat hari yang lalu. Yang dia dimarahin sama bokap itu. Bokap mungkin sebel sama dia, gara-gara dia dateng pas gue lagi nyetrika. Kayaknya sih gitu. Soalnya bokap ngomong gini ke dia, ‘Kamu itu dateng-dateng pas orang lagi nyetrika. Kamu tau nggak kalo itu sama aja udah ngeganggu kerjaan orang?’

Ali ngejawab, ‘Iya, Pak. Tadi saya juga udah nyuruh dia untuk nerusin kerjaannya aja sih, Pak.’

‘Ya gak mungkin lah! Dia nggak mungkin nerusin kerjaannya kalo ada tamu dateng. Lagian emangnya kamu mau dianggurin gitu sementara dia kerja?’, Bokap ngejawab lagi. Dan Ali cuma ngejawab ‘Iya, Pak’. Dari situ sampe akhirnya bokap masuk ke dalam rumah, cuman kata-kata ‘Iya, Pak’ yang keluar dari mulut Ali. Gue seneng banget waktu itu. Gue puas aja rasanya ngeliat ini orang diperlakuin kayak gitu ama bokap. Gue pikir, dia emang pantes ngedapetin itu.

Tapi tau gak lo, si Ali malah bilang apa? Dia bilang ke gue, ‘Gue seneng tuh ama bokap yang kayak gitu. Perhatian sama anaknya dan temen anaknya’. Wek! Dasar pembohong. Emangnya gue nggak liat ekspresi muka dia gimana waktu cuma bisa bilang ‘Iya Pak-Iya Pak’ doang pas Bokap nyeramahin dia. Pucat mukanya. Najis. Cemen. Eh, masih bisa-bisanya dia ngebohong dengan bilang kalo dia seneng ama bokap gue.”

“Ini udah jam sepuluh,” ujarku sambil melihat jam yang tertera pada layar ponselku. Saat jeda seperti itu aku sempat melihat orang-orang yang tadinya berlatih Tae Kwon Do sedang membubarkan diri. “Apa nggak sebaiknya kita pulang? Nanti kamu dicariin bokap.”

Dia tertawa, sebelum akhirnya ia mengeluarkan ponselnya juga dari dalam tas yang ia bawa. Ia bukan sedang ingin memastikan apakah jam ponselku sama dengan jam ponselnya. Melainkan ia seperti sedang ingin menelpon. “Sebentar ya,” ujarnya padaku seraya berdiri.

Aku mengangguk. Ia bergerak menjauh dari tempatnya semula duduk, sementara terdengar suaranya mulai berbicara dengan seseorang yang entah saat itu berada di mana. Aku mencoba mengingat-ingat kembali sekian banyak hal yang baru saja ia sampaikan secara menggebu-gebu. Hal-hal yang menurut ukuranku cukup personal juga untuk dibuka kepada orang lain yang baru saja ia kenal. Barangkali aku tidak bisa seterbuka itu kepadanya—atau kepada siapa saja yang aku anggap belum cukup kukenal. Seandainya pun aku ingin bercerita soalan-soalan personalku pada orang yang baru saja kukenal beberapa jam yang lalu, aku tidak seleluasa itu untuk mengumbar hal-hal terdalam secara gamblang. Tapi dia melakukannya seperti tanpa perasaan ragu sedikit pun. Sempat aku menduga, bahwa ia memang orang yang bisa terbuka kepada siapa saja. Bukan hanya kepadaku saja. Mungkin ia memang selalu seperti itu kepada siapa saja yang jadi lawan bicaranya.

“Hei, sori ya lama,” dia kembali duduk di sampingku. Dia sudah selesai dengan pembicaraan jarak jauhnya. Dan saat itu dia tersenyum-senyum sendiri. Aku tidak mengerti apa artinya.

“Kenapa?” akhirnya aku bertanya.

“Hmm… Enggak. Barusan gue nelpon temen. Malem ini gue nggak pulang ke rumah.”

“Terus?”

“Gue mau nginep di rumah temen, di Pasar Minggu.”

Aku mengangguk lagi. Hanya mengangguk. Tak tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sedang berada di posisiku saat itu. Apakah sebaiknya aku menyarankan ia untuk pulang saja ke rumah, mengingat hari sudah cukup malam bagi perempuan seumuran dia berada di jalanan? Ataukah memang sebaiknya aku tidak terlalu ambil pusing soal apapun yang menyangkut nasibnya, mengingat usia perkenalan kami yang bisa terbilang sangat muda?

Dalam beberapa kesempatan aku memang sempat memperhatikan wajahnya ketika ia sedang bercerita. Di wajah itu aku menemukan sesuatu yang sesungguhnya tidak kucari: usia. Ya, sesungguhnya aku tidak pernah mempermasalahkan usia di dalam berkawan. Aku tidak pernah merasa terganggu berkawan dengan orang yang usianya jauh lebih tua ataupun lebih muda daripadaku. Tapi, entah kenapa, melihat wajah itu aku tidak bisa menolak untuk berpikir bahwa ia masih terlalu dini untuk merasa terasing di tengah dunia.

Baiklah, aku memang tidak tahu apakah memang ada batasan usia manusia antara yang sudah dan belum boleh merasa teralienasi. Tapi tanpa sengaja menemukan figur seorang adik yang sedang berada dalam situasi dan kondisi seperti itu menimbulkan perasaan iba di dalam diriku terhadap dirinya. Barangkali jika yang berada di depanku saat itu bukanlah orang yang mengingatkanku pada figur seorang adik, aku tidak akan semudah itu untuk terlibat secara emosi pada apa-apa yang ia ceritakan. Tampaknya aku telah dikuasai oleh pikiranku sendiri untuk sedikit mempedulikan nasibnya; memikirkan lebih dalam mengenai dirinya. Atau mungkinkah malam itu aku tidak akan berempati pada dirinya jika tidak merasa senasib dengannya?

Iya, keterasingan memang mengancam siapa saja yang hidup di masyarakat modern, tanpa terkecuali. Ketika sebuah kebutuhan mendasar sudah dijauhkan sedemikian rupa dari seseorang, maka sebenarnya saat itu seseorang telah terasing dari dirinya sendiri. Karena seseorang hanya akan merasa hidup apabila ia mengetahui apa yang benar-benar diinginkan dalam hidupnya. Tanpa itu, seseorang tidak memiliki cukup alasan untuk hidup. Dan saat itulah ia akan mengalami kehampaan hidup.

Aku pernah mendengar semacam pepatah―entah dimana aku lupa, ‘Alasan untuk hidup adalah alasan yang sama untuk mati’. Aku menerjemahkan pepatah tersebut seperti ini: Apabila kita merasa mempunyai sesuatu yang harus kita perjuangkan dalam hidup, itulah alasan kita untuk bertahan hidup hingga tujuan kita tercapai. Yang bahkan di dalam memperjuangkannya kita akan menemui resiko dan bahaya besar, yang memungkinkan kita menemui ajal di sana.

Begitu juga kondisi sebaliknya: ketika seseorang tidak tahu apa yang ia inginkan di dalam hidupnya, maka ia tidak tahu apa alasan baginya untuk tetap hidup pada hari ini, esok, dan seterusnya. Tak adanya alasan bagi seseorang untuk hidup, tak ada pula alasan baginya untuk mati. Dan ia pun menjadi seperti mayat-hidup—hidup segan, mati pun tak mau.

Kondisi semacam ini didukung oleh sistem yang hanya mengijinkan satu pola hidup masyarakat untuk eksis: Konsumer. Dimana semua individu yang berada di dalamnya—dengan mau atau tidak mau—harus sepakat bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Seseorang, untuk bisa bertahan hidup, minimal harus dapat memenuhi kebutuhannya atas makanan. Dan di manakah kita bisa mendapatkan makanan gratis selain dari mengharapkan kemurahan orang lain dan tempat sampah?

Masyarakat konsumer adalah masyarakat yang terdidik untuk menghargai apapun dengan mata uang. Bagi mereka, sesuatu yang tidak punya nilai jual—tidak dapat dibeli—adalah sesuatu yang tidak berharga. Bahkan kalau perlu waktu itu sendiri disulap sedemikian rupa menjadi uang. Benar-benar tidak terhitung kekayaan material orang-orang yang telah mempraktekkan hal tersebut sepanjang waktu hidupnya. Di tengah masyarakat dengan cara pandang terhadap materi seperti itu, tentu akhirnya sangat lazim apabila terjadi pensekat-sekatan antara satu individu dengan individu lainnya. Jurang pemisah antara satu orang dengan orang lain, atau satu kelas masyarakat dengan kelas masyarakat lain, terbentuk dengan sebab tidak inginnya properti yang telah dimiliki tercuri oleh pihak lain. Maka ketika ada satu individu atau kelas masyarakat yang merasa hidup dalam kondisi yang menyulitkan, mereka cenderung akan melihat individu atau kelas masyarakat di seberangnya sebagai pihak-pihak antagonis. Kecemburuan sosial.

Maka menjadi bukan barang aneh kalau aku banyak menjumpai kawan dekat yang mengaku sedang mempertimbangkan untuk mati muda. Tidak aneh dan sangat relevan. Relevansinya adalah dengan sistem ekonomi kapitalis yang saat ini sedang meliputi kita semua, tanpa terkecuali.

Iya. Terlalu mudah untuk tiba-tiba merasa hampa di dalam kapitalisme, ketika seseorang menemui dirinya tidak mampu membelanjakan dirinya sendiri barang-barang yang benar-benar ia inginkan. Sama mudahnya untuk merasa hampa ketika seseorang merasa telah memperoleh semua barang-barang yang ia inginkan. Mereka akan tersungkur pada satu sudut, menangisi diri mereka yang tidak berhasil membeli kebahagiaan. Tidak akan pernah berhasil.

“Mau makan dulu nggak?” tanyaku ketika kami mulai berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar skate-park. Dia mengangguk. Dan seketika aku merasa berkewajiban untuk membayari ia makan karena telah mencetuskan ide itu. “Oke, tapi makan yang murah aja, ya. Kamu nggak keberatan bukan kalau kita beli roti dibagi dua?”.

***

Aku tak pernah lagi mendengar kabar mengenai perempuan itu. Aku tidak tahu apakah kini ia sudah memperoleh pekerjaan untuk membiayai cita-citanya berkuliah. Aku tidak tahu apakah ia sudah selesai membaca Perang. Aku tidak tahu apakah Ali masih sering berkunjung ke rumahnya ketika ia sedang menyetrika pakaian. Aku tidak mendapat petunjuk apapun tentang dirinya saat ini. Aku yang memang dengan sengaja bertekad untuk mencukupkan hubungan kami hanya sampai di sana saja.

Setelah obrolan panjang malam itu, aku tidak tahu lagi apa yang bisa kulakukan bersama dengannya. Sepertinya tidak ada lagi. Sebab setelah malam itu, dini harinya, ia datang ke kamar kostku ketika aku sedang pulas-pulasnya tertidur. Wajahnya kusut. Mulutnya beraroma alkohol. Dia mengaku baru pulang dari diskotik. Ternyata ia tidak menginap di Pasar Minggu. Aku tidak mempersoalkan itu.

Yang jadi persoalan adalah ketika ia mulai masuk ke kamarku dan mulai menunjukkan gestur-gestur aneh; mengajakku bersetubuh. Aku menyuruhnya pulang. Agak kasar memang. Aku tahu jika saja saat itu aku melakukannya, aku akan mendapatkan pengalaman baru. Tapi, lalu apa? Tidak. Aku ingin mendapatkan pengalaman yang lain. Sebab kebahagiaan memang ada di setiap hal. Orang hanya perlu mengubah cara pandangnya dalam melihat setiap hal. Dan dengan itu aku masih bertanya-tanya, ada di mana puncak kebahagiaanku sebenarnya, kalau menurutku itu bukan berada pada orgasme.[]