27 Agustus 2007

Seri Rekaman Nyanyian Jalanan # 1

Langkah Kecil

Dan aku pada hari itu selangkah lebih dekat kepadamu, kekasih.

Maka jangan biarkan aku mundur lagi,

meski itu selangkah saja.

Maka tampar aku jika berhenti terlalu lama,

aku hanya tak ingin mati terlalu pagi.

——

Suatu Minggu siang, di bawah jembatan layang Cawang-UKI, aku berbincang dengan seseorang. Rohim, begitu ia memperkenalkan dirinya. Penampilan yang cenderung berantakan, dengan rambut gondrong dan kulit gosong, barangkali membuat orang yang pertama kali melihatnya akan segera merasa sedang berhadapan dengan orang yang kurang bersahabat. Tapi, tidak demikian halnya bagiku. Barangkali terdorong oleh niat untuk segera memulai sebuah proyek, yang akhir-akhir ini telah begitu meresahkan karena terus menerus menuntut untuk direalisasikan, semua kesan buruk yang mungkin muncul dari sosok itu secara ajaib sirna begitu saja dari pikiranku. Malahan, pada saat yang sama, seolah pikiranku mensugesti aku untuk berpersepsi bahwa dirinya adalah manusia yang tiada bedanya dengan aku dan juga sejumlah manusia lain, yang saat itu sedang berada di dalam kendaraan umum yang sama. Dan barangkali karena persepsi itulah, aku berhasil untuk menangkap segurat senyum terpoles di bibirnya saat ia sedang asyik menyanyikan sebuah tembang lawas dari Koes Plus dengan iringan gitarnya sendiri. Senyuman yang kurasa hanya aku sendiri yang bisa menyaksikannya dari sekian banyak penumpang, yang pada saat itu kulihat lebih memilih untuk mengarahkan pandangannya ke jalan raya ataupun gedung-gedung di Jalan Gatot Subroto. Senyuman yang sekaligus menjadi lampu hijau bagiku untuk mendekatinya.

Rohim naik dari Pancoran. Setelah sebelumnya aku sempat melihat ia berunding dengan laki-laki lain yang juga sama-sama menenteng sebuah gitar. Sebentar saja perundingan itu berlangsung. Sebab sepertinya mereka sadar bahwa traffic-light akan segera beralih ke lampu hijau. Maka, ketika Mayasari bernomer trayek P 57 yang kutumpangi itu mulai bergerak, dengan sigap salah satu dari mereka segera melompat naik melalui pintu belakang. Sementara yang lainnya tetap berada di sana, di bawah patung yang selalu setia menunjuk ke arah Sahardjo.

Saat itulah aku segera teringat kembali dengan proyekku yang akhir-akhir ini kian meresahkan jiwa. Beberapa waktu belakangan aku memang menyimpan satu keinginan untuk membuat sebuah film dokumenter mengenai pengamen. Mengenai apa Narrow Focus-nya, belum ingin kujabarkan sekarang. Yang pasti, aku tahu, aku tidak akan dapat maju ke satu titik yang kuinginkan apabila hanya terus-menerus mengandalkan bantuan internet sebagai bahan acuan riset. Maka berdasarkan perhitunganku, aku memang harus membuat satu langkah kecil untuk masuk ke lingkar-lingkar kelompok pengamen. Dan itu tidak akan pernah mungkin terjadi jika aku tidak juga memulai untuk menciptakan komunikasi dengan mereka, atau salah satu dari mereka.

Sebetulnya pria gondrong, yang sudah mulai bernyanyi di antara ganasnya deruman mesin bis itu, bukanlah profil terbaik dari sekian banyak pengamen yang pernah kutemui dalam sepanjang riwayatku menumpang kendaraan umum. Dari segi penampilan, ia terlihat nyaris sama menakutkannya dengan sosok penodong-penodong di bis kota yang punya modus operandi: naik ke bis secara beramai-ramai (minimal berdua), membacakan sebuah deklamasi pendek dengan suara lantang dan nada seperti membentak, kemudian selalu ditutup dengan kalimat seperti, “daripada kami menjadi pencopet atau penodong, lebih baik kami seperti ini, Bapak-Ibu!”. Sementara dari segi musik yang dibawakannya, ia tidak bisa disejajarkan dengan pengamen-pengamen di Bandung yang seringkali membawakan lagu-lagu band cafĂ©, ataupun pengamen-pengamen di KRL Jabotabek yang terlihat lebih all-out dengan membawa perangkat musik lengkap—seperti Drum, Keyboard, bahkan Bass Betot. Singkatnya, ia terlihat biasa-biasa saja. Maka apabila saat itu aku sedang berada di bawah penugasan kantor untuk mencari berita mengenai kehidupan pengamen di ibukota, hasil liputan mengenai orang ini sudah pasti tidak akan naik tayang. Sebab ia memang tidak unik. Sehingga sukar betul untuk menemukan apa yang menarik dari seorang pengamen berpenampilan cenderung berantakan yang memainkan lagu Koes Plus. Lagipula apa pentingnya kehidupan seorang pengamen seperti dia bagi orang banyak. Dan sudah barang tentu cerita mengenai dirinya tidak bisa dikategorikan sebagai berita, semenjak sesuatu baru bisa dianggap berita apabila ia memenuhi minimal satu dari dua syarat: penting dan menarik.

Tapi tak ada alasan lain yang membuatku yakin bahwa saat itu merupakan saat yang tepat bagiku untuk mulai maju selangkah demi merealisasikan keinginanku. Tak ada alasan lain yang membuatku bergegas meruntuhkan segala prasangka buruk atas seorang pengamen yang terlihat tidak terlalu ramah ini. Alasan itu adalah momentum.

Sebetulnya, sehari sebelumnya, di dalam bis kota yang sedang mengantarkanku menuju kantor, aku menjumpai tiga orang pengamen yang jauh lebih menarik daripada pria gondrong ini. Selain berpenampilan rapi, mereka juga memainkan lagu bernuansa reliji dengan kemampuan bermusik yang menurutku tidak kalah dengan band-band terkenal. Tapi, alangkah sayangnya, saat itu aku sedang mengejar waktu supaya tidak terlambat tiba di kantor. Sehingga saat itu aku membiarkan mereka berlalu begitu saja setelah mereka menyudahi pertunjukan, tanpa sempat lagi aku mengajak berbincang-bincang. Maka Minggu siang itu jadi momen yang tepat bagiku untuk memulai semuanya. Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang. Karenanya tak ada sesuatu apapun yang perlu kukejar, selain waktu untuk beristirahat.

Mayasari P 57 sempat berhenti cukup lama di Stasiun Cawang. Pengamen incaranku sudah sejak beberapa menit sebelumnya menyelesaikan satu-satunya lagu yang ia bawakan kali itu dan ia sedang berdiri di dekat jendela bagian belakang bis sembari melamun. Saat itu aku masih menimbang-nimbang, apakah perbincangan ini akan kulakukan di atas kendaraan ini juga, atau menunggu beberapa saat lagi ketika ia turun dari bis dan aku pun mengikutinya turun. Karena bagaimanapun juga, aku tidak ingin terlalu mengejutkan ia yang saat itu sedang melamun dengan menghampirinya—secara tiba-tiba ataupun perlahan-lahan—dan kemudian mengajaknya berkenalan. Meski memang belum tentu ia akan seterkejut yang kubayangkan. Namun, bukan berarti kemungkinan itu tidak ada. Aku tidak ingin mengusiknya. Maka saat itu juga aku memutuskan untuk mengambil pilihan yang kedua. Yaitu, nanti saja, ketika ia turun dari bis ini.

Analisaku mengatakan, jika ia tidak segera turun setelah menyelesaikan ‘pekerjaannya’, pastilah ia hendak menumpang bis ini untuk sampai di satu tempat tujuan. Dan saat itu aku berharap tempat tujuannya adalah Cawang-UKI. Tempat aku juga harus turun untuk berganti kendaraan.

Bis kembali bergerak setelah mengambil beberapa penumpang di Stasiun Cawang. Penantian sang sopir selama itu tidaklah sia-sia. Aku pun mulai berdoa supaya harapanku tadi, agar pengamen ini juga turun di tempat yang sama denganku, bisa terwujud. Meski aku juga sudah membuat rencana alternatif bila ternyata nantinya ia turun sebelum ataupun setelah Cawang-UKI. Yakni, aku juga akan ikut turun di sana dan segera memanggilnya. Pada saat yang sama aku juga memikirkan cara seperti apa yang terbaik untuk memanggil orang yang belum kukenal. Apakah hanya dengan suara saja, “Mas, Mas…”, ataukah disertai dengan tepukan di bahunya, aku belum sempat memastikan itu. Hingga akhirnya aku mendengar suara kondektur meneriakkan ‘Cawang-UKI’ secara repetitif, aku pun bersiap bangkit dari tempat duduk. Pucuk dicinta ulam tiba, pengamenku terlihat tengah bersiap melompat ke aspal ketika aku sedang berjalan menuju pintu belakang.

Dia turun lebih dulu, dan aku beberapa detik sesudahnya. Karena di sana bukan hanya aku dan pengamen itu saja yang hendak turun. Ketika kedua kakiku sudah berada di atas aspal, aku segera mempercepat langkahku agar tidak kehilangannya. Aku melihat ia bercelingukan ketika jarak di antara kami semakin menipis. Saat itu juga aku memanfaatkan kesempatan untuk memulai komunikasi. “Mau langsung ngamen lagi ya, Mas?”

Beruntung suaraku tidak kalah oleh deruman mesin Mayasari tadi yang saat itu sedang berada persis di samping kami dan berbelok menuju By Pass. Ia menoleh ke arahku seraya memberikan senyum, “Iya, nih,” jawabnya.

Dan barangkali itu adalah keberuntunganku untuk yang kesekian kalinya. Bahwa orang asing yang sedang kuajak berkomunikasi ini ternyata tidaklah segarang kelihatannya. Maka aku pun mulai memperkenalkan diri padanya. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Rohim. Berikutnya aku sudah meminta waktunya untuk mengobrol. “Di mana?” tanyanya. Aku menunjuk ke arah dimana biasanya aku mencari mobil tumpanganku selanjutnya, di kolong jembatan layang.

Rohim mengaku tinggal di Tangerang bersama dengan istri dan anaknya. Saat itu juga, yang pertama terbayang di benakku adalah rute yang harus ia tempuh setiap harinya untuk melakukan pekerjaan ini. Berikutnya yang muncul barulah keingintahuan; apakah dengan bermata pencaharian sebagai pengamen seperti yang ia jalani itu bisa untuk menghidupi sebuah keluarga. Maka aku pun ingin tahu, apakah mengamen merupakan satu-satunya sumber penghidupan bagi dia dan keluarganya. “Ada kerjaan laen,” ujar Rohim mantap.

Penasaran, aku pun bertanya pekerjaan apa yang ia lakukan selain mengamen. Ia menjawab, “Dangdutan.”

“Maksudnya?” tanyaku betul-betul tidak mengerti.

“Iya, maen musik keliling.”

Oalah. Maksud Rohim adalah Orkes Keliling. Grup musik yang membawa peralatan berupa sound system—dengan sumber listrik accu (baca: aki)—dan alat-alat musik seperti gitar, bass, gendang, dan lain-lain. Orkes keliling atau sering juga disebut orkes dorong mempunyai daya tarik berupa biduan-biduan perempuan berpenampilan seksi yang akan menghibur mereka, yang sengaja memanggil grup ini untuk dihibur. Mereka yang ikut berjoget bersama para biduan harus merogoh kantong untuk membayar kesenangan yang mereka dapatkan. Tradisi semacam ini disebut dengan saweran.

“Biasanya kita dipanggil sama tongkrongan-tongkrongan yang lagi minum-minum,” Rohim menjelaskan.

Saat itu aku berpikir: lucu juga jika Rohim menganggap perlu adanya pembedaan penyebutan antara bermain musik di atas bis kota dengan bermain musik keliling bersama grupnya. ‘Ngamen’ untuk yang di atas bis, dan ‘dangdutan’ untuk yang berkeliling. Mengingat kedua profesi yang ia jalani itu adalah sama-sama bermain musik dengan harapan ada orang yang mau memberikan apresiasi dalam bentuk uang, dalam jumlahnya yang sukarela.

Aku menemukan sisi menarik dari pribadi Rohim ketika bertanya apakah penghasilan dari dangdutan lebih besar daripada ngamen, sehingga ia merasa perlu untuk menjalani dua-duanya.

Nggak juga. Kalo ngamen, saya dari jam sepuluh sampai jam dua siang. Abis itu saya pulang. Paling saya bawa uang limabelas sampe duapuluh ribu. Lumayan buat dapur. Nah, malemnya saya ama temen-temen dangdutan. Bisa sampe jam dua – jam tiga. Besoknya saya berangkat lagi ngamen. Bukan soal duitnya. Kalo dangdutan itu soalnya kan pake gitar listrik. Jadi lebih… lebih… lebih asik aja.”

Luar biasa, pikirku. Di dunia dimana nyaris semua orang berbondong-bondong memberhalakan materi, aku menemukan seseorang yang bisa melihat bahwa uang bukanlah segala-galanya. Dan orang itu adalah Rohim, orang yang mengaku tidak memiliki pekerjaan lain selain ngamen dan dangdutan. Dua pekerjaan yang belum mendapat tempat terhormat di negri ini. Dari cerita Rohim juga, kekerasan masih sering mereka alami dari aparat Negara. Tak jarang, mereka yang terkena razia harus pasrah ketika alat musiknya dihancurkan, ataupun diri mereka digebuki kemudian ditahan.

Namun, Rohim sepertinya termasuk salah satu orang yang terus memperjuangkan hidupnya. Seperti yang dilakukan siapa saja apabila kehilangan haknya atas hidup. Anggaplah kondisi di negri ini telah terlanjur membuat orang-orang seperti Rohim menjadi korban dengan berada pada strata sosial yang rendah. Tapi apakah kondisi ini juga yang pada akhirnya harus menghapus hak hidup mereka? Bagaimana ketika Rohim dan kawan-kawannya mengamen ataupun dangdutan bukan hanya untuk uang semata, tapi juga untuk mendapatkan hal lain—seperti yang disebut oleh Rohim dengan ‘asik’?

Terlepas dari mengkritik regulator yang masih gagal untuk menanggulangi kemiskinan, eksistensi manusia-manusia seperti Rohim seharusnya menjadi bahan renungan bagi siapa saja. Bahwa apabila mengamen menjadi suatu profesi alternatif bagi mereka yang tidak berkesempatan untuk memperoleh pekerjaan lain, sudah semestinya profesi ini juga mendapat tempat yang sejajar dengan profesi-profesi lain di masyarakat. Paling tidak pemerintah pun turut melindungi hak mereka untuk hidup, bukannya malah membunuh hidup mereka, yang notabene merupakan manifestasi dari kegagalan pemerintah sendiri dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Yah, paling tidak orang-orang seperti Rohim bisa tetap mendapatkan ‘asik’-nya dengan tetap bisa mendapat tempat untuk hidup. Hidup yang sehidup-hidupnya. Yakni, memperoleh apa yang memang menjadi haknya. Sebab sekecil apapun hak itu, hak tetaplah hak. Meski hak itu hanyalah hak yang menurut orang lain remeh, tapi barangkali tidak bagi orang-orang seperti Rohim, yang telah berhasil melihat kebahagiaan dunia bukan hanya terbatas pada uang.

Merasa telah menyita waktu Rohim terlalu lama, aku pun memutuskan untuk menyudahi obrolan. Meski sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan seputar ruang hidup pengamen. Barangkali lain waktu obrolan ini bisa berlanjut. Karena bagiku pun, ini masih merupakan satu langkah kecil untuk benar-benar memasuki dunia yang sebenarnya. Dunia yang setiap saat aku inginkan untuk berada di sana. Sebab sampai saat ini aku masih percaya, bahwa aku tidak akan bisa membuat perubahan. Tapi aku bisa melakukan perubahan.

Perbincangan pun kami tutup dengan sebuah janji kecil. Janji untuk bertemu lagi pada suatu malam di Tangerang. Janji untuk berjoget bersama dengan diiringi permainan Rohim DKK, ditemani para biduan seksi. Asiiik…[]