06 Agustus 2007

Kontemplasi Ruang Tunggu

"Ilmu tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri. Mereka yang beruntung mampu mencurahkan dirinya kepada pengudian ilmu, harus yang pertama-tama menempatkan pengetahuan mereka untuk mengabdi umat manusia. Bekerjalah untuk umat manusia."

Kutipan ucapan Karl Marx oleh Paul Lafargue, Reminiscences of Marx

"Sukar sekali, jika tak hendak dikatakan tak mungkin, untuk memberikan introduksi tentang filsafat materialisme dialektik dan historis dalam satu kali kuliah. Tetapi saya yakin, bahwa kian hari akan kian banyak propagandis di Indonesia sini, karena hanya dengan populernya filsafat pembaruan itulah usaha pembaruan masyarakat Indonesia dipermudah."

— Njoto, Marxisme: Ilmu dan Amalnya, halaman 14




Pukul tujuh petang. Kantor masih dipenuhi orang. Tidak aneh, sebab ini kantor berita. Aku yang terbilang baru di sini, masih agak kikuk untuk menentukan apa yang mesti kukerjakan. Pun produserku dan tim liputannya tengah berada di Bali saat ini. Jadilah aku dan beberapa orang kawan, yang notabene sama statusnya denganku sebagai pekerja baru, berusaha mencari kesibukan masing-masing supaya tidak terlihat terlalu kontras dengan para reporter yang sibuk menulis naskah ataupun mem-preview gambar.

Ruang televisi lantai lima, yang konon juga merupakan ruang kumpul para camera-person, menjadi salah satu tempat favoritku selama seminggu terakhir—selain balkon di lantai tiga yang selalu kujadikan tempat untuk membakar rokok sembari menikmati permainan spektrum warna langit senja. Di tempat ini aku biasa mendaratkan bokong di atas sofa yang lumayan empuk sembari menyaksikan tayangan-tayangan National Geographic ataupun HBO. Tapi bukan saluran tivi kabel itu yang menjadikan tempat ini sebagai tempat favoritku. Melainkan, di sini, aku bisa sedikit menyingkir dari pergerakan orang-orang yang memang telah mengemban tugas dari para koordinator liputan.

Agak iri melihat Bam yang tiga bulan ke depan kebagian jatah posisi di Departemen Bulletin. Selama sepekan terakhir ini, ia nyaris tidak pernah terlihat berpangku tangan. Berangkat meninggalkan kantor pada pagi harinya, dan baru kembali lagi menjelang senja dengan membawa berita. Ia sudah mendapat kesempatan untuk melakukan liputan sekaligus merangkai naskah yang dipersiapkan untuk naik tayang; meski memang masih harus diedit lagi oleh produser. Tidak pasti tayang, memang. Maklumlah, sebagai pekerja pekerja baru, Bam juga masih harus menyesuaikan gaya menulisnya dengan standar yang dipakai oleh media ini.

Lain halnya denganku yang kebagian jatah posisi di Departemen Magazine. Aku masih belum pergi kemana-mana. Sepanjang hari aku hanya berada di dalam gedung ini, mencari kesibukan, supaya tidak terlihat terlalu kontras dengan orang-orang seperti Bam yang sibuk menulis naskah ataupun mem-preview gambar. Satu-satunya penugasan yang kuperoleh dari produserku dua hari lalu, sebelum ia berangkat ke Bali menyusul tim liputan yang sedang syuting di sana, adalah: riset. Aku kebagian tugas untuk mencari tahu mengenai Nanggroe Aceh Darussalam. Aku diminta untuk mencari kesenian khas Aceh yang unik dan layak untuk diangkat.

Awalnya, ini pekerjaan yang menggugah. Menelusuri narasumber hingga menemukan narasumber primer, tanpa kutahu harus mulai dari mana, adalah sesuatu yang menantang. Untuk itu aku jadi giat menjelajahi dunia maya. Mencari nama-nama instansi ataupun individu yang sekiranya bisa membawaku semakin dekat pada apa yang kutuju. Mempergunakan telepon pun tidak dilarang di kantor ini. Entah berapa ratus ribu rupiah sudah kuhabiskan untuk menelpon ke Serambi Mekah. Dan memang menggugah melakukan pendekatan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal demi mencari informasi. Berbincang via telepon dengan Marzuki Hasan—dosen IKJ yang konon paling sering bolak-balik Aceh-Jakarta—hingga dengan orang Dewan Kesenian Aceh Tengah. Aku merasa seperti seorang detektif.

Namun, sensasi itu tidak bertahan terlalu lama. Hari ini saja aku sudah mulai merasa jenuh untuk terus-terusan berada di dalam kantor, semenjak salah satu alasanku dalam memilih Pewarta sebagai profesi karena aktivitasnya yang lebih banyak dilakukan di luar sana.

Aku ingin menginjak aspal panas. Aspal yang juga diinjak oleh guru-guru, yang menuntut realisasi 20% anggaran pendidikan dari APBN. Aku ingin tersengat matahari. Matahari yang juga membakar kulit para buruh PT. NASA dan PT. HASI, yang menggugat NIKE karena ingin menghentikan orderannya pada dua pabrik tersebut. Aku juga ingin melihat kokohnya pagar besi gedung-gedung instansi, yang selalu berdiri di depan mata rakyat kecil setiap kali mereka datang untuk menyampaikan aspirasi. Aku ingin bersama mereka. Aku ingin berada di samping mereka, seraya mengatakan: hatiku selalu bersama kalian semua. Meski kata-kata itu hanya bisa termanifestasi dalam aktivitasku merekam apapun yang sedang kalian lakukan, dan menyampaikan kepada yang lainnya dengan seaktual dan sefaktual mungkin; agar setiap orang tahu bahwa kita memang tidak sedang baik-baik saja.

Saluran National Geographic tiba-tiba beralih ke AXN tanpa aku melihat lagi siapa yang memegang remote-control. Mungkin salah satu kawan di sampingku yang juga belum mendapat penugasan sepertiku. Atau mungkin seorang camera-person senior yang sejak tadi memang duduk di pojok ruangan ini untuk beristirahat. Aku tidak ambil pusing. Sejak tadi pun aku tidak terlalu berniat untuk menyaksikan apapun di dalam kotak televisi tersebut. Aku masih sibuk memikirkan apa lagi yang bisa kukerjakan, ketika para contact-personku meminta untuk ditelepon kembali baru keesokan pagi.

Tiba-tiba seorang kawan perempuan yang tengah dipersiapkan untuk menjadi presenter, memasuki ruang televisi dan mengambil tempat di sampingku. Wajahnya kelihatan sedikit lebih lesu dari biasanya. Meski memang ia memiliki perangai yang tidak ceria, dan cenderung dingin, tapi kali ini aku bisa melihat sesuatu yang berbeda pada raut wajahnya. Aku berpersepsi ia tidak sedang berada dalam suasana hati yang baik untuk diajak bicara. Tapi keegoisanku seolah mengabaikan persepsi itu. Aku membuka pembicaraan karena aku memang sedang butuh teman bicara. Aku membukanya dengan bertanya kenapa.

“Lagi bete nih gue. Masa gue musti…”

Ternyata dugaanku sedikit meleset. Ia memang sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Tapi tampaknya ia justru memang sedang butuh untuk berbicara. Maka jadilah aku seorang pendengar yang baik. Mendengarkan ia berkeluh kesah soal beberapa hal yang tidak menyenangkan hatinya. Mendengarkan semuanya dengan seksama sembari memerhatikan sorot matanya yang terkesan galak. Sorot mata yang memang selalu seperti itu semenjak aku mengenalnya.

Ia menarik nafasnya setelah merasa cukup berbicara. Aku menanti beberapa detik, memberi kesempatan baginya apabila ia memang masih ingin melanjutkan. Tapi tampaknya ia memberi kesempatan itu padaku.

“Kita akan berdialektika kok,” ucapku hati-hati kemudian. Hati-hati karena beberapa hari yang lalu ia sempat menuduhku sebagai orang kiri. Aku khawatir dengan membuka wacana mengenai materialisme dialektik dan historis seperti yang baru saja kulakukan memberi ia afirmasi bahwa dugaannya itu benar.

“Maksud lo?” tanyanya dengan wajah bingung.

“Iya, A ketemu B harus jadi C. Itu dialektika. Seorang lo ketemu dengan sebuah perusahaan, itu harus menghasilkan sebuah nilai yang baru. Itu dialektika. Begitu juga dengan datangnya lo di perusahaan ini. Nggak bisa A itu harus tergerus dan B yang tetep eksis, pun sebaliknya. Harus ada gaya permainan baru yang dihasilkan dari pernikahan atara lo dan perusahaan ini. Gaya permainan yang nantinya dipake sama kedua pihak.”

“Tapi katanya kan kita musti nurut dulu sekarang. Nggak boleh ngelawan. Ngikutin standar.”

“Ya, iya sih…,” aku bingung harus melanjutkan apa lagi sebetulnya. Aku berusaha keras menemukan kalimat yang bisa menjadi penutup dari pembicaraan ini. Sebab aku sendiri merasa tidak pantas untuk berlagak bijak padanya, mengingat aku sendiri pun sedang merasakan kegelisahan yang tidak jauh berbeda dari dirinya. “Memang kita sekarang musti nurut dulu. Tapi pertahanin karakter lo aja. Karakter lo itu keras. Menurut gue itu bagus. Dengan itu lo jadi punya sikap. Nantinya orang-orang di sini akan ngeliat, dan lo sendiri juga akan tau, lo sebenernya cocok untuk ada di program acara yang kayak gimana. Soft News atau Hard News.”

Memang pandai sekali aku kalau bicara. Sedangkan menyelesaikan masalah sendiri pun aku belum berhasil. Aku sendiri masih berusaha melepaskan diri dari suasana hati yang buruk karena hingga kini belum ditugaskan untuk pergi kemana-mana. Kini aku sudah berlagak seperti seorang penasihat spiritual.

“Iya sih… Ah, tapi udahlah. Gue aja kali yang lagi mau dapet. Jadinya bete gini. He-he-he. Nggak usah dianggep lah omongan gue tadi,” ujarnya dengan gestur yang seolah ingin memberi impresi bahwa ia bukan seorang perempuan cengeng. Dan ia pun langsung meninggalkan ruang televisi.

Ah, iya. Sama-sama. Tidak perlu dipikirkan juga segala nasihat tadi. Sesungguhnya kata-kata itu lebih ditujukan kepada diriku sendiri. Selalu seperti itulah setiap nasihat yang tersaji lewat media bernama ‘mulut manusia’.[]