04 Januari 2007

Sakit Sendiri

“Lo pernah siap mati buat seseorang?”

Semua praduga Elektra tadi gugur berantakan. Jawabannya keluar tersendat, tanda ketidaksiapan mengantisipasi. “Belum, kayaknya . . .”

“Bagus. Memang lebih bagus jangan,” sahut Bong sungguh-sungguh. “Kalo ada apa-apa dengan mereka, kita bakal ngerasain dua kali lipatnya. Mereka bahagia, kita lebih bahagia. Mereka merana, kita lebih-lebih lagi kayak tai. Kebayang, nggak?”

(Dee, Supernova 2.2 Hal. 199)


Terus terang, pada saat-saat tertentu aku menyukai penyakit ini. Walau memang pada awalnya selalu membuatku kesal karena harus merasakan sakit di bagian kepala dan melakukan inhale dengan tidak lancar. Tapi setelah fase itu berhasil kulewati, yang bagiku biasanya hanya dibutuhkan waktu semalaman untuk bergumul selimut, aku tinggal melewati fase penyembuhan dari batuk dan pilek. Influensa nama penyakit ini. Penyakit yang pada zaman dahulu kala dipercaya merupakan pengaruh dari roh-roh jahat yang bersemayam di langit. Karena itulah namanya begitu. Influence, berarti 'pengaruh'. Satu hal yang selalu dapat kunikmati di sela-sela meriang dan suhu badan meninggi seperti ini, adalah perubahan yang terjadi pada suaraku.

Aku jadi teringat sekitar tiga tahun ke belakang, ketika aku juga sedang mengalami penyakit rutinku ini. Saat itu aku sedang harus menyelesaikan satu proyek band soloku. Karena itu betul-betul proyek solo, yang artinya 'sendiri', maka aku sendirilah yang mengambil semua bagian di dalam band tersebut. Dan... iya, ehem, termasuk vokal tentunya. Ya, ya, ya. Kamu boleh tertawa sekarang. Kamu pasti juga sudah tahu kan kemampuan bernyanyiku yang maha pas-pasan. Tapi asal kamu tahu, aku telah melewati konflik batin yang cukup serius sehingga akhirnya berani membaptis diriku sendiri menjadi vokalis. Karena ini adalah proyek egois. Mau disebut proyek idealis juga rasanya nggak ideal-ideal amat. Kenyataannya aku sendiri sadar masih banyak orang lain yang suaranya lebih ideal untuk bernyanyi.

Sebabnya, aku merasa mempunyai sebuah konsep musik yang ingin kurealisasikan. Tapi mengingat satu-satunya band yang kubentuk bersama tiga orang kawan adalah band yang terbiasa membawakan musik hardcore/punk, aku jadi agak malu untuk mengajukan konsep ini pada mereka. Karena, selain dari segi musik yang memang ngepop abis, liriknya pun agak cinta-cintaan gitu deh... Makanya aku ragu: Apa iya personil bandku mau merubah warna sound dari yang sangar bin gahar menjadi merdu binti sendu? Merubah lirik dari yang bicara tentang busuknya sistem menjadi tentang indahnya jatuh cinta?

Akhirnya aku memutuskan untuk menjalankan projek ini sendirian. Tujuan utamanya jelas, konsep yang sudah kususun ini tidak ingin ada banyak tangan yang mencampurinya. Biarkan semua resiko aku sendiri yang tanggung. Termasuk resiko suara vokalis yang akan jadi bulan-bulanan siapapun yang mendengar nantinya. Yang penting semua yang ada di kepalaku bisa tersalurkan seutuhnya. Biar itu setaik apapun. Makanya ini memang begitu pantas disebut proyek egois.

Hmh, tadi sampai mana ya? Ohtadi aku sedang ingin menceritakan soal tiga tahun yang lalu. Iya, jadi pengerjaan proyek tersebut saat itu bertepatan dengan kedatangan penyakit rutinku. Waktu itu aku sempat panik. Rekaman belum selesai. Tapi fisikku sudah memberontak untuk diajak bekerja lebih banyak. Untungnya hanya tinggal vokal yang belum. Dengan sisa energi yang kurasa masih ada, menyanyilah aku. Sungguh, aku tidak pernah menyangka kalau hasilnya bisa seperti itu. Aku yang sadar akan kemampuan vokalku yang berada di bawah garis kemiskinan, saat itu tercengang ketika melihat hasil rekaman suaraku sendiri yang ternyata menjadi semirip Chris Martin (vokalis Coldplay). Eh, ini betul! Aku tidak mengada-ada. Okelah, mungkin memang tidak mirip sekali. Tapi aku berani mengatakan kalau suaraku saat itu menjadi jauh berbeda dengan suaraku selama ini.

Ternyata pilek membuat suaraku berubah. Cairan yang mampat di hidung membuat aksenku menjadi seperti aksen british yang sengau. Dan aku menyukai suaraku saat itu. Walau aku akhirnya harus sadar, dan sedikit menyesal, bahwa itu bukan suara asliku. Aku juga akhirnya sadar bahwa rekaman dengan suara yang bukan suara asli itu tidak sah untuk diperbanyak. Karena bagaimana caraku mempertanggungjawabkan apabila suatu hari band ini harus bermain live? Bisa-bisa para penonton akan heran, kenapa suara vokalisnya berbeda sekali dengan yang di album? Karena itulah proses rekaman akhirnya diundur hingga aku sembuh. Dan karena itulah aku juga tidak bisa membuktikan padamu kalau suaraku pernah semirip Chris Martin.

Kamu tadi menelponku saat aku sedang menonton ‘Love Actually’ di televisi bareng keluarga. Aku sempat bertanya padamu, 'kamu nggak sakit, kan?'. Aku hanya mencoba memastikan. Karena seringnya kita sakit bareng-bareng. Kayak anak kembar, kata Budi. Sebetulnya aku lega mengetahui kamu tidak sedang sakit juga. Walau jauh di dasar hati ini ada pertanyaan yang timbul ketika mengetahui saat ini kamu tidak ikut sakit: 'apakah kamu memang masih sedekat dahulu?'[]


Bandung, 27 Desember 2006
03:50 WIB