16 Desember 2006

BEBAL

Kamu mengaku sudah tak lagi berharap apa-apa. Aku percaya itu. Walau mungkin kepercayaan yang baru benar-benar dapat kuberikan padamu sekarang sudah tidak punya arti apa-apa lagi bagimu. Tapi sungguh, tanpa niatan apapun, memang begitu inginnya aku untuk mulai mempercayaimu.

Juga aku percaya saat kamu mengatakan masih suka kangen aku. Seperti malam itu, saat aku baru saja mencoba untuk melepaskan apa-apa sejenak demi meredakan kinerja otak―kamu meneleponku. Dan aku mendengar suaramu lagi. Padahal itu adalah satu hari yang telah berhasil kulalui tanpa menghubungimu sama sekali. Tapi kalau kamu memang ingin tahu yang sesungguhnya, itu adalah duapuluh-empat jam usaha meredam rindu yang setengah-mati beratnya. Karena itu juga mungkin kamu bisa mendengar hatiku yang memanggil-manggilmu terus. Bukankah kamu masih percaya bahwa hati kita masih bisa saling bicara dan mendengar satu sama lain? Rasanya masih. Kalau tidak untuk apa kamu masih bertanya padaku ‘apakah kamu baik-baik saja’ saat sesak tiba-tiba terasa di dadamu? Maaf, aku bukannya ingin membuatmu kewalahan untuk bisa melupakanku sama sekali dengan cara memanggil-manggili tanpa henti. Hanya saja, memang tidak mudah mengeluarkanmu dari kedalaman ini.

Dan aku percaya saat nyaris di akhir pembicaraan kamu mengaku bahwa kamu menelponku cuma karena kangen. Cuma kangen. Aku percaya itu karena aku pun merasakan hal yang sama. Kalau saja sejak dulu aku bisa mempercayaimu seperti malam itu, rasanya kita tidak perlu terlalu banyak bicara untuk meyakinkan satu sama lain bahwa rasa ini memang ada, bukan?

Aku juga seharusnya tidak perlu mencurigaimu ketika kamu menginginkan ruang dan waktu untukmu sendiri, tanpa perlu aku ada di situ, sebagai usaha untuk pergi dariku. Karena ternyata benar apa yang selalu kamu katakan dulu, “Kamu ada di sini, aku ada di situ. Coba rasain deh.” Ah. Iya, aku memang masih bisa merasakanmu di sini.

Sekarang aku percaya padamu, dengan kepercayaan yang belum bisa membuatku lega tapi. Apakah aku memang harus lega ketika aku mengetahui bahwa kamu sudah tidak berharap apa-apa lagi? Yang berarti kamu juga sudah mengubur semua angan masa depan yang dulu sesekali sempat kita rancang berdua. Iya, aku percaya kamu memang sudah menguburnya. Dan aku percaya kamu tidak sedang mengkhianati hatimu. Kamu memang diserang semacam trauma pada sosok aku di masa lalu yang banyak menindas kemerdekaanmu sehingga menjadi diri yang jauh dari utuh. Karena itu kini kamu ingin melakukan sebuah eksperimen dengan memisahkan hidupmu dari hidupku, bukan?

Iya. Aku percaya bahwa ini semua memang bukan disebabkan oleh kedatangan orang ketiga, malaikat, ataupun setan belang manapun ke tengah-tengah kita berdua. Aku percaya bahwa kamu berhenti berharap memang karena kamu menggunakan kehendak-bebasmu. Aku percaya, bahwa untuk segala kekacauan ini, tak ada yang pantas aku salahkan selain diriku sendiri. Tapi rupanya aku baru bisa mempercayaimu justru di saat kamu tak lagi mempunyai energi untuk percaya padaku.

Sejak dulu aku sering mendengar semacam pepatah: tidak ada kata terlambat. Tapi bagiku kepercayaanku padamu memang lahir terlambat. Karena kepercayaan ini tak bisa dimanfaatkan selagi kamu masih percaya bahwa aku adalah satu-satunya tempat yang paling nyaman di dunia ini. Masih ingat dulu aku sering berkata ‘Kepercayaan bukan diciptakan, melainkan dilahirkan’? Artinya memang dibutuhkan waktu untuk bisa melahirkan sebuah kepercayaan pada sesuatu dari dalam diri. Tapi sudahlah. Mungkin aku memang tipikal pembelajar yang bebal dalam menerima pelajaran. Sehingga dibutuhkan waktu lebih lama dari yang sewajarnya untuk bisa mencapai pemahaman yang lebih baik, bahkan itu untuk kebaikanku sendiri. Setidaknya kini aku sudah mengerti seperti apa seharusnya memperlakukan orang yang kuklaim sebagai orang yang kusayangi.

Hm. Sebentar. Atau barangkali ini adalah semacam kesempatan bagiku untuk mengukur apakah aku memang benar menyayangimu. Dan itu akan terbukti kalau aku sudah bisa lega ketika membayangkanmu yang sedang berbahagia bersama orang lain. Itulah kepercayaan terluhur; bahwa kamu memang manusia independen yang masih bisa terus menjalani hidup sekalipun aku tiada. Iya ya.

Ohya. Mohon maaf apabila kamu menemukan sekian banyak pertentangan antara satu pernyataan dengan yang lain dalam tulisan kali ini. Tapi bukankah kamu juga yang mendorongku untuk berkontemplasi dan interospeksi pada saat-saat seperti ini? Nah, aku baru saja melakukannya.[]


Depok, 14 Desember 2006
19:49 WIB