14 Desember 2006

Hidup Memang Berat atau Aku yang Tidak Cukup Kuat?

Aku tak menyangkal saat kamu menyebutku lemah tempo hari. Karena memang aku rasa benar demikian adanya. Aku pun baru bisa mengamini itu sebagai sebuah kebenaran akhir-akhir ini. Tampaknya egoku memang berbicara terlalu banyak di hari-hari lalu.

Mungkin benar seperti apa yang dikatakan oleh Tyler Durden[1], kita tidak akan pernah tahu kekuatan kita bila tidak pernah berkelahi. Ya, kira-kira seperti itu. Aku memang tidak cukup pandai dalam mengingat. Tapi kalau kamu berpikir saat ini aku sedang ingin meninju batang hidung seseorang hingga patah dan berharap ia akan membalas seranganku dengan merontokkan beberapa gigi depanku demi sebuah pembuktian kekuatan diri, kamu salah. Walau tidak ingin kusangkal bahwa akhir-akhir ini hal itu sebenarnya juga cukup menggoda untuk kulakukan tanpa merasa perlu menemukan alasan yang cukup tepat. Melainkan, yang kumaksudkan adalah suatu perkelahian yang aku lakukan sendirian. Sebuah penghancuran diri lebih tepatnya.

Kau tahu, beberapa malam terakhir ini aku mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari. Dan rasanya ini bisa saja akan menjadikanku seorang penderita Insomnia akut kelak, persis seperti dirimu. Tapi kini kulihat kau sudah bisa hidup dengan itu. Malahan, kau seperti telah mampu menikmatinya. Aku tahu kegemaranmu berkeliaran sepanjang malam untuk sekadar minum kopi bersama seorang teman sembari membincangkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah menjadi apa-apa. Sedangkan aku belum mencapai fase dimana kau berada sekarang.

Aku tahu semua memang butuh waktu. Aku tahu bahwa ini semua adalah proses. Dan karena itu aku juga tahu jika aku mau sedikit lagi lebih bersabar melewati proses ini, waktu juga yang akan memberiku jawaban. Entah itu akan memuaskanku atau tidak sama sekali. Kau pun mengatakan hal itu padaku.

Kau menyarankanku untuk segera mengembalikan logika dan keluar dari situasi ini. Iya, tentu saja aku mau. Siapa yang tidak? Siapa yang betah hidup berlama-lama dengan rasa sakit? Aku tahu, aku tahu. Kamu peduli padaku. Sehingga kamu merasa tidak tega melihatku menderita seperti ini.

Tapi, hei, aku bercerita padamu tentang semua yang sedang kualami sekarang bukan untuk membuatmu kasihan padaku. Tentang tangan dan kakiku yang bengkak karena sudah berapa kali entah tembok kamar kuhajar. Tentang berapa malam sudah kuhabiskan dengan hanya berdiam saja di depan komputer tanpa satupun tulisan bisa kuhasilkan. Tentang bait demi bait lagu ‘The Hardest Part’[2] yang akhir-akhir ini menjadi sering kuulang-ulang di dalam benak layaknya dzikir. Tentang betapa sulitnya aku berhenti mengharapkan hatinya akan kembali seutuhnya padaku. Itu semua kuungkapkan―bukan untuk membuatku terlihat cengeng. Aku hanya ingin mengatakan bahwa temanmu satu ini sekarang sedang berada pada fase yang sama denganmu dulu. Walau mungkin akan berbeda cara melewatinya. Tapi yakinlah, cepat atau lambat aku pun pasti akan bisa keluar dari sini.

Aku sudah akui tadi kalau aku memang lemah. Makanya aku tak malu-malu lagi untuk menceritakan itu semua kepadamu. Karena kamu pernah mengalami ini. Sekarang jangan lagi kasihani aku. Beri saja aku waktu untuk mengatasi rasa sakitku ini dengan cara seperti ini. Dengan membuat diriku semakin hancur oleh rasa sakitku sendiri. Tapi itu bukan lantas aku tidak mendengar apa yang kau katakan padaku tempo hari. Aku mencermati setiap katanya. Namun, inilah hasil terjemahanku.

Aku memang tidak seperti laki-laki lain yang kamu bilang harusnya bisa mudah mencari media lain berupa perempuan juga untuk melupakan yang telah lewat. Dan untuk itu kamu menyebutku ‘kurang jail’. Betapa lucunya predikat itu bagiku omong-omong. Tapi justru hal itu yang membuatku merasa bahwa aku punya cara tersendiri untuk melewati fase ini.

Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku harus menghadapi ini semua, dan jangan lari dari kenyataan. Sudah. Tidak mencari pelampiasan berupa perempuan lain atau tidak menenggak alkohol untuk membuatku senang dalam beberapa jam, aku rasa sudah membuktikan bahwa aku tidak sedang melarikan diri. Aku justru sedang menghadapi rasa sakit ini. Aku menyongsongnya.

Ah, aku tahu. Barangkali yang kau maksud dengan ‘hadapi’ itu adalah semacam ikhlas menerima semua kenyataan ini. Benar begitu?

Ya, ya, ya. Aku baru sadar sekarang bahwa kita mempunyai semacam perbedaan mendasar yang membuat kita tidak bisa singkron melihat bagaimana seharusnya permasalahan semacam ini diakhiri. Yakni, aku memang tidak sekuat kamu. Kuat yang dalam arti bisa menerima begitu saja ketika orang yang dulu kamu cintai ternyata telah mencintai orang lain, lalu kamu bisa dengan tenang mencari orang lain untuk kamu cintai. Aku akui itu memang kuat. Aku memang salut pada orang-orang sepertimu. Kalian memang tahan banting. Sungguh. Ini bukan sinisme.

Tapi, sekali lagi, aku menyadari bahwa aku adalah orang yang lemah. Dan untuk menemui kesadaran semacam itu aku harus hancur terlebih dahulu baru aku bisa mengatakan, ‘oh, ternyata aku selemah itu’.

Intinya, yang sedang kamu lihat sekarang bukanlah sebuah akhir. Proses. Aku tahu mungkin ini agak menjengkelkan buatmu. Karena kamu harus melihat temanmu sendiri kelihatan seperti seseorang yang sebenarnya membutuhkan perawatan medis. Tapi jika aku memang pada akhirnya harus menjadi kuat, maka proses seperti inilah yang tampaknya harus kulewati. Aku saja yakin masa kau tidak?

Jikalau kemarin aku adalah tembok raksasa, maka kini aku sedang hancur berkeping-keping. Barangkali esok atau lusa aku sudah menjadi suatu bentuk baru yang jauh lebih kuat. Sesuatu yang tidak dapat dibelah lagi. Sesuatu yang sekecil debu atau barangkali atom. Dan bila saat itu sudah datang, jangan salahkan kalau nyaris setiap malam aku akan mengajakmu minum kopi di emperan toko sembari membicarakan soalan-soalan sepele hidup yang ternyata tidak sepele. Walau itu mungkin akan membuat pacar atau istriku kelak―kalau aku sempat punya―kesal karena punya laki-laki yang masih suka keluyuran sampai pagi dengan teman perempuannya. Tapi semua orang memang harus jadi kuat bukan?[]

Catatan Kaki:

[1] Tyler Durden adalah karakter di dalam novel Fight Club yang ditulis oleh Chuck Palahniuk. Di dalam film, karakter ini diperankan oleh Brad Pitt.

[2] The Hardest Part adalah single band Coldplay dari album X & Y.