07 November 2009

Mereka yang Menginspirasi Saya Hari Ini

Jika ada orang yang hari ini mewawancara saya, dan mengajukan pertanyaan seperti ini; "Siapa orang yang menginspirasi kamu hari ini?" - maka inilah jawaban saya. Ada dua orang:


1. Bruce Dickinson - Vokalis Iron Maiden
Kenapa? Usia dia sekarang sudah melewati setengah abad, 51 tahun. Tapi tidak tampak pada dirinya ada tanda-tanda akan memperlambat ritme hidupnya, semangat hidupnya, dan antusiasmenya terhadap hidup. Itu terlihat dari bagaimana dia benar-benar menghayati profesinya sebagai vokalis sebuah band heavy metal.

Menonton Flight 666--film Dokumenter tentang perjalanan band Iron Maiden dalam tur Somewhere Back In Time tahun 2008 lalu--saya tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara energi Bruce pada video tersebut dengan energinya di 'Live After Death' video live Iron Maiden rilisan tahun 1985. Ditambah lagi pada tur tahun 2008 itu, Bruce Dickinson adalah pilot pesawat yang menjadi alat transportasi Iron Maiden sepanjang tur. Bisakah kamu bayangkan seorang laki-laki berusia 51 tahun menerbangkan sebuah Boeing 757, mendaratkannya dengan mulus, untuk kemudian tampil di hadapan puluhan ribu penonton dengan energi yang sangat prima--dan kemudian menerbangkannya kembali untuk menuju puluhan ribu penonton lain yang menantinya dengan ekspektasi tinggi di negara-negara yang lain? Luar biasa.

>> http://en.wikipedia.org/wiki/Bruce_Dickinson


2. Sam Dunn - Sutradara (Metal: A Headbanger's Journey, Global Metal, dan Flight 666)
Kenapa? Setidaknya saya sudah menonton dua dokumenter garapan Sam Dunn. Global Metal dan Flight 666--karyanya yang pertama akan segera saya cari. Dan setiap kali saya melihat karyanya, saya selalu menemukan suatu cara penyampaian dokumenter yang berbeda dengan dokumenter-dokumenter lain yang pernah saya tonton. Mungkin karena ia memiliki sebuah selera musik yang sama dengan saya, sehingga gaya komunikasi yang ia gunakan (baik dalam narasi maupun dalam visual) terasa akrab di hati saya. Seperti: tidak formal, tidak kaku, atau tidak mainstream--namun bukan berarti tidak serius dan tidak cerdas! Sam Dunn justru bisa merekam hal-hal subtil yang jarang bisa direkam oleh kamera para kamerawan umumnya. Seperti gestur-gestur orang di suatu negara, untuk kemudian menjadi aspek yang memperkuat narasi yang ia buat dalam menceritakan bagaimana penerimaan orang di daerah itu terhadap sesuatu yang asing. Wah! Itu sesuatu yang abstrak dan tidak mudah untuk divisualkan sebenarnya. Tapi Sam Dunn bisa! Menurut saya dia adalah orang yang memiliki sensitivitas tinggi dan juga ketabahan dan kesabaran dalam mempelajari realitas dari subjek yang sedang ia dokumentasikan.

Ketabahan itu juga terlihat (pada 'Global Metal') dari cukup banyaknya ia bisa menembus narasumber-narasumber penting dan kompeten di bidangnya untuk ia wawancarai. Dan itu terlihat lebih luar biasa lagi sebab para narasumber penting itu adalah personel band metal yang sudah terkenal, seperti para personil Metallica, Slayer, atau Iron Maiden.

Sam Dunn juga menyajikan dokumenter dengan cara yang saya sebut dengan 'humble-style'. Ia tidak seperti sedang mengajari kita sesuatu. Melainkan mengajak penontonnya untuk menyelediki dan mencari jawaban atau pembuktian sama-sama atas suatu pertanyaan, premis, dan asumsi. Ini satu lagi nilai lebih Sam Dunn yang membuat saya kagum padanya.

Dari artikel-artikel yang saya baca di internet, Sam Dunn mengalami banyak kesulitan dalam pembuatan film Flight 666. Yang mana itu merupakan konsep dan ide Sam Dunn untuk mendokumentasikan perjalanan band favoritnya tersebut. Ia mendapatkan banyak halangan; seperti dari pihak bandara ketika ia masuk membawa kamera yang menyala ke area landasan (insiden ini terekam dengan baik di film), dan bahkan dari personel Iron Maiden sendiri yang kadang menolak untuk didekati. Tapi toh akhirnya film ini rampung dan meraih penghargaan di festival film SXSW di Austin, Texas, dalam nominasi “24 Beats Per Second” tahun 2009. Kamu batu, Sam Dunn! (You Rock, Sam Dunn!) :-D

>> http://en.wikipedia.org/wiki/Sam_Dunn

07 Mei 2009

Gorgom

Awalnya kedatangan saya ke situ adalah dengan membawa keinginan untuk melihat pahlawan bertopeng; entah kamen rider atau power rangers. Penasaran juga ingin melihat langsung orang-orang berpakaian glossy berwarna fancy itu beraksi seperti di tv, meski tentu saja tanpa special-effect api. Awalnya tangan saya sudah gatal untuk merekam setiap detil aksi sang pahlawan mengalahkan monster dengan kamera video yang saya bawa. Tapi pada titik itu antusiasme saya telah merosot. Kini saya jadi lebih ingin melihat mbak-mbak penjual kopi keliling berjalan lenggak-lenggok bak model cat walk. Ini karena anak-anak muda dari komunitas tokusatsu itu telah ngaret dari waktu yang telah kami sama-sama sepakati sebelumnya, jam duabelas. Dan kini sudah hampir jam dua. Saya letakkan kamera di trotoar dan mulai mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, mencoba mendeteksi eksistensi mbak-mbak penjual kopi dan pop mi keliling.

Nihil.

Aneh, pikir saya. Biasanya di Parkir Timur ini selalu saja ada satu, atau dua orang, penjual kopi yang rajin menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang terlihat sedang duduk-duduk di daerah jajahan mereka. Tapi siang itu mengapa jadi sulit begini untuk menemukan satu saja. Yang dari tadi bisa saya lihat hanyalah mobil-mobil mondar-mandir di sana dengan kecepatan rendah; terkadang berhenti mendadak; terkadang pula mundur, untuk kemudian maju lagi. Mereka pasti sedang belajar mobil, saya bergumam sendiri.

Padahal dari istora terdengar sedang ada acara. Entah acara apa. Sepertinya acara pertemuan organisasi. Karena di dekat tempat saya duduk ada dua buah bis besar yang terpasang spanduk besar sedang terparkir. Orang-orangnya sudah masuk ke istora sejak tadi. Tapi aneh, tak ada satu pun penjual kopi keliling yang terlihat. Padahal biasanya mereka selalu memanfaatkan momen-momen keramaian seperti ini untuk berjualan.Yah, kalaupun peserta pertemuan itu memang sudah mendapat jatah kopi di dalam istora, minimal kan ada beberapa sopir dan kondektur bis yang butuh kopi atau pop mi mereka sebagai teman membunuh waktu. Seperti juga kami yang sedang menunggu komunitas tokusatsu itu.

Saya lihat reporter saya sudah mengambil lapak di samping pagar istora untuk berbaring. Driver saya juga tak ubahnya. Saya jadi berkata pada diri saya sendiri: jangan memilih kostum kamen rider jika akan melakukan kencan pertama. Itu akan membuat pacarmu bosan menunggu.

Saya buka pintu mobil, dan duduk di bangku sopir. Saya hidupkan mesin, dan sempat meneliti sebentar bahwa driver serta reporter saya tidak terganggu dengan suara mesin mobil ini. Sembari memasukkan gigi mundur, saya melihat ke belakang melalui semua kaca spion yang dipunyai avanza ini. Saat itu saya lihat seorang berperawakan kurus, hitam, dan berwajah agak sangar menghampiri. Saya bersiap untuk membuka jendela dan menjelaskan bahwa saya tidak akan kemana-mana; hanya ingin belajar mobil. Tapi orang sangar itu tidak berjalan mendekati saya, malahan mengilang dari frame spion avanza. Kemana dia? Entah. Maka saya mundurkan saja mobil ini. Gugup. Karena memang sudah lama juga semenjak terakhir saya mengemudikan mobil.

Mundur berhasil saya lakukan. Sekarang adalah belajar maju. Saya pindahkan persneling ke gigi satu. Mulus. Mobil bisa berjalan. Ternyata saya belum benar-benar lupa caranya menyetir mobil. Puas dengan kenyataan itu, saya ingin segera parkirkan lagi saja mobil ini. Tapi tiba-tiba orang sangar tadi muncul entah dari mana. Aneh juga orang ini. Menghilang tiba-tiba, muncul tiba-tiba. Seperti Gorgom di Kamen Rider Black saja. Dan kini dia sedang berdiri di depan mobil saya seperti monster menghadang belalang tempur. Saya berhenti dan membuka jendela.

"Lagi belajar ya, Mas?" kata orang itu.
"Ya. Kenapa?"
"Gini ya, Mas. Orang-orang di sini kalau belajar mobil biasanya ada pengertiannya lah sama kita-kita di sini."

Saya mulai bisa mendefinisikan orang ini. Dia bukan tukang parkir seperti yang saya duga sebelumnya. Dia adalah preman yang suka minta jatah pada orang-orang yang belajar mobil di sini.

"Gini ya, Mas. Saya ini cuma iseng aja, sembari nunggu temen saya ambil aja ini mobil buat belajar. Saya mau liputan, Mas," kata saya.
"Ya, tapi kalau belajar orang-orang di sini biasanya ada pengertiannya lah sama kita-kita di sini," ujar dia seperti mengulang kalimat sebelumnya.
"Ya, ya, ya. Nanti lah!" kata saya sembari menutup jendela.
"Ya, santai aja!!!" suaranya terdengar meski jendela sudah tertutup rapat.

Mobil saya jalankan lagi. "Rese!"

Brak! Saya keluar dari mobil yang sudah saya parkir di tempat awal. Saya ambil kamera saya yang tadi saya letakkan di trotoar. Saya kesal pada orang itu. Ya, saya selalu kesal pada orang-orang seperti dia yang mengandalkan wajah sangarnya untuk memeras orang-orang. Saya ingin rekam dia dari jarak dekat dan memaksanya membuat pengakuan bahwa dia adalah pemalak. Saya tahu, ini bukan sesuatu yang bijak. Tapi emosi saya pada waktu itu sudah memuncak. Saya cari dia, tapi dia sudah menghilang lagi seperti Gorgom. Lalu saya kembali pada reporter dan driver saya. Menceritakan kejadian barusan pada mereka. Driver saya hanya menertawai saya. Ini sudah kali kedua dia menertawai saya atas kegagalan saya menahan emosi.

Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu datang juga. Bukan kamen rider. Melainkan penjual kopi. Lalu saya bertanya, kenapa baru muncul?

"Males, Mas, kalo lagi ada acara. Tempat ini dikuasain sama ambon-ambon. Mereka suka ngutang sama kita. Kalau ditagih marah. Kalau kayak saya sih, dimarahin paling saya sewotin, dan mereka nggak marah. Tapi kalau yang cowok-cowok, ngelawan bisa digebukin, Mas."

Ternyata Gorgom itulah yang membuat para penjual kopi di tempat ini jadi pergi.

"Mereka berapa orang sih, Mbak?"
"Banyak, Mas... Kalo di sini yang nguasain ambon-ambon. Kalo di Parkir Selatan, arek-arek."

Banyak. Tidak lucu juga kalau tadi saya sempat berkontradiksi dengan si Gorgom itu, saya pikir. Akhirnya saya memilih diam saja, menenangkan diri sembari menyeruput kopi moka racikan simbak ini dan memandangi Gorgom-Gorgom itu mulai menyatroni mobil-mobil lain yang sedang berjalan pelan; dan terkadang mundur. Saya lihat salah seorang mengeluarkan selembar limapuluh ribu, dan sang Gorgom mengantonginya. Tiba-tiba driver saya, juga sembari ngopi, menunjukkan plang yang berdiri di dekat kami. Saya baca tulisannya: DILARANG BELAJAR MOBIL DI AREA INI.

O la la, Senayan... Senayan...[]
_____

Catatan:
Penyebutan suku di atas bukan untuk mendiskreditkan suku tersebut, melainkan karena itu yang disebut oleh narasumber.

19 April 2009

[CERPEN] GELAP

Untungnya aku tidak terlalu relijius. Ada semacam kelegaan tersendiri yang terus-terusan menyejukkan rongga dadaku tanpa henti seketika aku menyadari hal itu. Sudah sekitar satu jam sejak kereta yang kami tumpangi ini bergerak meninggalkan Gambir. Dari jendela yang sedikit retak dan berdebu di sisi kiriku ini aku bisa tahu kalau di luar sudah gelap. Sepertinya tadi ada adzan yang sayup-sayup suaranya masuk selintas ke dalam gerbong untuk kemudian segera tertinggal di suatu tempat, Bekasi atau Kranji, aku tidak yakin di mana itu. Tepatnya, aku tidak ingat. Aku tidak terlalu ambil pusing. Melainkan hanya sebuah tangkapan otomatis oleh indera pendengaranku.

Kalau sedikit saja aku lebih yakin dengan agama yang tertera di KTP-ku, mungkin suasana di antara tiga manusia yang sekarang tengah duduk di bangku nomor 3A-3B dan 4A-4B―yang sengaja kami buat berhadap-hadapan demi mendapatkan suasana privasi―ini tidak akan menjadi nyaman. Mungkin, dengan sebab yang sama, aku akan membuat semacam dominasi keyakinan di sini sementara yang lainnya merasakan dirinya menjadi minoritas. Untuk itulah aku lega merasa tidak punya apapun yang kubela.

Lagipula ini perjalanan dalam rangka menghabiskan akhir pekan. Maka bersenang-senang seharusnya adalah tema utamanya. Bukan konflik atau juga obrolan yang pelik.

Memang juga tidak semudah itu untuk bersikap biasa-biasa saja dan dengan berani menantang mata mereka, apabila salah satu dari mereka sudah mulai menyebut-nyebut suatu nama atau hanya kata yang identik dengan agamanya. Bukan semacam risih atau alergi. Tapi lebih kepada perasaan khawatir bahwa akan munculnya semacam rasa gusar di dalam hati yang lainnya.

Ini bukan tentang aku dan perasaanku. Ini tentang mereka berdua dan perasaan keduanya. Mereka, yang duduk di bangku seberangku ini, adalah sahabatku. Dan aku menyayangi keduanya. Dan ini juga tentang acara liburan kami bertiga yang kuingin jadikan seindah mungkin bagi kita semua; khususnya mereka.

Ada satu beban juga yang kupilih untuk aku tanggung sendiri semenjak siang tadi. Mereka tidak tahu hal ini. Beban itu sebetulnya hanya berupa serentetan dialog yang sampai sekarang masih juga belum lepas dari ingatan.

***

“Jadi ke Bandung?”

Saat itu hanya aku yang ada di teras rumah itu. Maka kalimat suara yang menampung pertanyaan itu pasti tertuju untukku. Aku langsung menutup novel yang sedang kubaca seperempat dari jumlah halaman buku itu keseluruhan.

“Jadi, Tante,” jawabku dalam nada lembut yang aku rasa lumayan kontras dengan picingan mataku akibat terpaan silau. Tembok rumah itu putih sekali. Sehingga semua sinar matahari yang jatuh di atasnya seperti memantul dan masuk ke dalam mataku sebanyak mereka datang pertama kali.

“Sama Ema?” ia mengambil tempat di kursi sebelah kananku sembari meletakkan sebotol air dingin dan sebuah mug kosong di atas meja bundar yang memisahkan kursiku dengan kursinya.

Saat itu semua menjadi terasa begitu cepat. Sebelum sempat lagi aku memikirkan jawaban yang tepat, mulutku sudah terlanjur mengeluarkan bunyi. “Iya, ini Roni lagi jemput Ema” ucapku lalu tertawa. Sebuah tawa yang bahkan saat itu juga aku tahu kalau itu adalah sebuah tawa yang hanya mungkin keluar dari orang panik atau gugup.

Dia terlihat mengangguk-angguk kecil selama beberapa kali. Aku lega saat itu. Aku pikir sudah berakhir. Tidak ada komentar lagi darinya, maka itu artinya aku bisa tenang untuk sementara waktu. Setidaknya, bila ia hanya ingin menyudahi pembicaraan kami dengan anggukan ambigu seperti itu, itu akan menjadi akhir dari pembicaraan kami.

Tapi baru saja aku berniat untuk membuka novel yang masih kupegang, tanpa aku menoleh padanya, aku merasa perempuan separuh baya ini hendak mengangkat bicara lagi.

“Tante kasihan sama Roni. Sama Ema juga. Roni susah untuk dikasih tahu. Dia malah akhir-akhir ini jadi giat mencari buku-buku yang bilang kalau pernikahan beda agama itu diperbolehkan. Tapi…”

Ia berbicara terus tanpa putus. Sehingga aku hanya merasa diberi ijin untuk menggumam, berdehem, dan tersenyum.

“Menurut kamu sendiri bagaimana? Kamu bisa kasih tahu Roni nggak, untuk jangan ngeyel gitu?” akhirnya ia memberiku kesempatan.

“Setahu saya, ini pertama kalinya Roni bisa dekat dengan seorang perempuan. Dan itu sesuatu yang buat saya sendiri membahagiakan.”

“Tapi, kan, mereka beda agama,” ia menyela sehingga aku merasa kehilangan kekuatan yang tadi sudah kuhimpun untuk mengutarakan semua yang ada di kepalaku. Dan aku harus mulai lagi dari nol.

“Iya, itu betul,” aku berusaha untuk tetap tenang, “tapi saya rasa pasti mereka berdua bisa menemukan jalan yang terbaik buat mereka. Mereka sudah besar. Lagipula belum tentu juga ada niat dari mereka berdua untuk melanjutkan hubungan ini ke pernikahan.”

“Tante cuma kasihan aja sama mereka. Kalau mereka sudah terlanjur sayang…”

Hanya senyum yang bisa kulakukan. Aku merasa tidak punya cukup hak untuk terus menerus menyangkal semua yang ia katakan. Ia orangtuanya. Mungkin ia memang berhak untuk memikirkan itu semua. Dan terlepas dari itu, dalam beberapa hal, apa yang ia ungkapkan ada benarnya.

***

Kurang dari dua jam lagi kereta ekspres Parahyangan ini akan memasuki Stasiun Hall. Dua orang di depanku ini sedang tertidur, dengan sang perempuan bersandar pada bahu lelakinya. Aku pun segera mengalihkan pandangan ke kegelapan di balik jendela. Tidak ada yang bisa kulihat di sana. Tapi kekosongan seperti itu selalu menjadi semacam media yang bisa kugambari sesuka hati.

Tak lama kemudian, aku pun merasa lelah berkutat dengan pikiran dan beban yang kubawa dari Jakarta tadi. Imajinasi-imajinasi sudah bertumpang tindih di atas media yang awalnya kosong. Benang-benang pikiran juga sudah kusut, semrawut di atasnya.

Ketika aku baru saja mau mencoba memejamkan mata untuk menemukan kekosongan lain yang bisa kugambari, Roni membuka matanya. Pandangan mata kami bertemu pada satu titik. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengajak berbicara. Itu sama sekali bukan soal bagiku. Aku juga tidak ingin mengeluarkan suara yang bisa membuat Ema terbangun dari tidurnya.

Roni tersenyum kecil. Entah untuk apa. Aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Maka, seperti mati gaya, aku mengeluarkan novel dari dalam ransel. Dan sebelum kubuka pada seperempat buku, aku menatap keluar jendela lagi.

Gelap. Gelap sekali. Dan kusut benang tadi masih juga ada di sana. Tiba-tiba aku menyadari kemungkinan lain; mungkin Roni bisa menggambar dengan lebih baik di atas kegelapan yang sama ini. Dan mungkin untuk itulah senyuman kecilnya tadi. Kalau memang benar demikian, dia baru saja mengejek coret-coretanku ini.

Sial kau, Ron. []

16 Maret 2009

The Guru # 1 - Sidik: Sport & Moustache

Namanya pendek saja. Sidik. Tidak ada kata lain yang mengikuti. Yah, setidaknya itu yang saya tahu sih. Iya, saya mengenalnya selama tiga tahun dengan nama sependek itu. Nama yang selalu membuat saya teringat pada ikon produk sebuah bank yang pada era itu cukup terkenal. Si Jempol.

Saya tidak pernah tahu apa suku bangsa dia sesungguhnya. Dia memang selalu bicara menggunakan dialek orang batak, dengan suaranya yang lantang, rada-rada serak, dan lengkap dengan butiran-butiran ludah yang sesekali menyembur. Jika saja saya tidak pernah memergoki ia sedang berbicara pada seorang guru lain pada suatu hari dengan menggunakan bahasa sunda yang fasih, pasti saya sudah berani mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa Pak Sidik adalah orang Batak.

Maka sampai sekarang pun saya tidak pernah tahu pasti, apakah ia adalah orang Sunda yang menyamar sebagai orang batak, supaya memiliki kesan angker sehingga disegani oleh murid-muridnya... ataukah ia memang orang batak yang sudah lama tinggal di Jawa Barat, sehingga mampu menggunakan bahasa Sunda dengan cukup baik. Entahlah.

Sidik adalah sosok yang ideal sebagai guru olahraga pada saat itu. Tubuhnya atletis dan terlihat lumayan berotot. Jika ia berlari, badannya tegap. Seolah-olah ia tidak akan pernah kehabisan nafas meski berlari dari Dapur Susu sampai ke Blok M. Itu kesan yang saya tangkap pada saat itu.

Dan peluit merupakan benda yang seolah menjadi hal intrinsik pada diri sidik di dalam ingatan saya. Ketika ia menyuruh kami berlari mengelilingi taman, ia tidak duduk, melainkan berdiri tegap. Itu membuat saya merasa bahwa ini adalah sesuatu yang serius dan tidak boleh dianggap main-main. Coba kau bayangkan apabila kau disuruh berlari oleh seseorang, tapi orang itu menyuruh sembari duduk dan makan pisang goreng buatan Ibu Simanjuntak (pedagang di kantin sekolah saya pada era itu). Pastilah kamu pun akan berlari dengan malas-malasan.

Tapi itu tidak dilakukan oleh Sidik. Sidik menyuruh kami berlari mengelilingi taman sembari ia berdiri dengan tegak. Kemudian suara bataknya akan terdengar lantang: "Satu-Dua-Tiga!" dan kemudian disusul oleh suara peluit yang seolah-olah selalu tersemat di bibirnya sepanjang hayatnya. PRIIIIT!!! Maka saya pun mulai berlari dengan semangat. Kami semua berlari berhamburan keluar dari pekarangan sekolah, melewati pagar sekolah yang berkarat. Saya selalu bisa merasakan senyuman mengembang di wajah saya ketika mulai berlari seperti itu. Saya merasa melayang seperti angsa. Iya, saya merasa seolah-olah saya dan kawan-kawan saya semua itu adalah koloni angsa yang sedang terbang di angkasa. Menyenangkan sekali...

Ya, saya pun pernah berpikir, jangan-jangan hanya saya sendiri yang antusias ketika disuruh berlari mengelilingi taman yang letaknya cukup jauh juga dari sekolah--kami harus mengitari satu blok rumah dahulu untuk mencapainya. Tapi ternyata tidak demikian. Saya sudah pastikan ini berkali-kali. Saya selalu menoleh ke wajah kawan-kawan saya ketika kami semua sedang melayang di angkasa seperti koloni angsa. Antusiasme yang sama pun terlihat pada wajah kawan-kawan yang lain. Luar biasa! Tidak ada satu pun nada keluhan yang sempat keluar dari mulut kami ketika kami disuruh berlari seperti itu. Malahan, tak jarang, saya dan beberapa kawan memanfaatkan momen itu sebagai ajang balapan. Iya, balapan... Kami saling adu cepat menjadi yang pertama tiba kembali di lapangan basket sekolah. Dimana di sana Sidik sudah menanti kami semua untuk segera melakukan gerakan-gerakan senam pemanasan.

Dan satu hal lagi yang luar biasa. Tidak ada satu anak pun yang curang. Sekali pun itu anak yang terkenal paling bandel di kelas. Tidak ada yang curang. Tidak ada satu pun anak yang mengambil jalan pintas. Padahal tanpa pengawasan seperti itu--dimana Sidik tetap berada di lapangan basket sekolah ketika kami berlari--sangat banyak peluang bagi kami untuk melakukan kecurangan-kecurangan, seperti: tidak mengitari taman untuk membeli jajanan di depan SD, ataupun main gimbot (baca: game watch) yang disewakan oleh abang-abang sebentar saja sementara yang lain sedang susah payah mengitari taman. Tidak ada, Kawan! Kami semua berlari mengitari taman dengan semangat 90an (semangat 45 rasanya sudah terlalu oldskull).

Sidik adalah guru yang humoris. Meski humornya seringkali menjurus porno. Tapi tak mengapa. Toh, itu yang kita semua sukai. Dan tampaknya Sidik tahu itu. Iya, Sidik dan kami seperti sama-sama tahu: Sidik tahu apa yang kami suka... Joke Porno dan slapstick (salah satu hal lagi yang merupakan keahliannya pada saat itu), dan kami tahu apa yang Sidik suka... disiplin dan sportif. Tidak mengambil jalan pintas untuk bermain gimbot ketika disuruh berlari mengelilingi taman. Sidik dan kami seperti saling menjaga satu sama lain. Menjaga hubungan yang semacam itu.

Tapi jika saya pikir-pikir kembali, hubungan semacam itu rasanya tidak akan pernah tercipta jika saja Sidik tidak memelihara kumisnya yang seperti Andi Malarangeng itu (Ah, kumis Andi Malarangeng yang seperti Sidik... Kan dulu Malarangeng belum ada apa-apanya). Dengan kumis itu, ia tampak berwibawa, tampak serius ketika menyuruh kami mengelilingi taman, bukan main-main, bukan basa-basi. Serius! Kumis dan sebuah benda yang menyembul di depannya dan mengeluarkan suara melengking, mampu membuat kami berdedikasi pada olahraga, pada track yang mesti kami lalui ketika berlari... tidak boleh curang!

Sebab pernah suatu hari Sidik muncul tanpa kumisnya itu. Dan kau tau apa yang terjadi? Kami semua tak henti-hentinya menahan tawa, bahkan ketika Sidik sudah mulai berbicara. Itu kacau, Kawan. Kacau... Hubungan yang selama ini telah terjaga menjadi kacau. Sidik kehilangan wibawa, anak-anak kehilangan faktor yang mendorong mereka untuk berpikir bahwa ini semua bukan main-main. Padahal, selama itu Sidik telah berhasil memadukan antara keseriusan dengan kesenangan. Lihat saja bagaimana kami bisa menjadikan sebuah determinasi untuk mengelilingi taman (itu bukan jarak yang dekat lho) sebagai sebuah permainan. Kami jadikan kesusahan itu sebagai kesenangan. Kami balap lari... Asyik kan?

Maka Sidik harusnya tahu, bahwa kumisnya itu merupakan faktor penting yang membawa kami semua melampaui titik-titik penting dalam hidup kami, hingga sampai di titik sekarang ini. Kami telah berhasil, Pak Sidik. Kami telah berhasil mengitari taman dengan perasaan senang. Kami telah berhasil menyelesaikan sekolah di SMP 37, juga dengan perasaan senang. Dan di luar sini, Pak Sidik, Bapak boleh bangga pada kami... Di luar sini kami juga telah menjadi orang-orang yang berhasil, Pak... Entah apa hasilnya... pokoknya berhasil, dan pokoknya senang.[]

27 Januari 2009

Hak Politik, Bukan Hak Pilih!

Politik. Kata yang dewasa ini sepertinya sudah tak lagi menjadi barang mewah bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak seperti pada era orde baru—ketika ‘demokrasi’ belum menjadi seperti hari-hari belakangan ini—kata ini kerap dikorelasikan dengan kegiatan yang berhubungan dengan kekuasaan negara. Serta merta politik pun menjadi barang eksklusif, yang hanya boleh disentuh oleh orang-orang terpilih. Lalu para kroco seperti kita yang tidak pernah mendapat kesempatan menjadi bagian dari kekuasaan, sehingga dianggap tidak memiliki kompetensi untuk membincangkan soalan tersebut, hanya bisa membicarakan politik secara samar-samar dan di tempat-tempat yang ‘aneh’. Di warung kopi misalnya.

“Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini, sekedar suara rakyat kecil, bukannya mau usil…” Masih ingat kan dengan jingle legendaris Warkop DKI (salah satu grup lawak yang mulai tenar di era 70an akhir itu)? Dengan lagu itu, mereka terdengar seperti ingin menyapa penguasa di jamannya. Lihatlah bagaimana Dono dan kawan-kawan sepertinya bisa dibilang sudah melakukan upaya-upaya aktivisme politik, dengan terkadang menyisipkan isu-isu sosial-politik ke dalam materi lawakan mereka (coba dengarkan Pengen Melek Hukum atau Semua Bisa Diatur—saya punya file MP3-nya). Lucunya, jika kita mendengar sekali lagi itu semua di era sekarang ini, sepertinya apa yang sedang mereka lakukan saat itu seolah tidak memiliki pengaruh apapun pada kekuasaan, dan malahan cenderung terdengar dangkal saja. Represifitas penguasa pada jaman itu tentu bisa menjadi apologi.

Tempo hari saya baru mendengar kabar bahwa band Efek Rumah Kaca sudah mulai mengisi rubrik di Kompas saban Sabtu. Konon nama rubriknya “Obrolan Politis”. Yah, saya memang tidak rajin membaca koran. Tapi dari nama rubriknya saja sudah bisa saya terka apa yang akan mereka bicarakan. Dengan bekal persepsi atas mereka sebagai band indie label yang memuat kritik sosial dalam lagunya, saya sudah bisa menduga apalagi yang akan mereka bawa kali ini melalui tulisan di Kompas: apalagi? Ya, pasti kritik sosial juga…

Tenang, saya bukan sedang ingin mempromosikan apalagi mengglorifikasi band itu. Saya hanya menjadikan mereka sebagai sebuah sampel dari representasi kegelisahan generasi. Toh, hal serupa juga pernah dilakukan oleh musisi-musisi atau artis-artis (tentunya dengan definisi yang paling benar; art-ist = seniman) sebelum mereka. Warkop DKI tadi menurut saya adalah salah satunya, meskipun muatan politisnya terasa ecek-ecek. Kemudian, di jaman yang sedikit berbeda, ada juga seorang pria berkumis bernama Iwan Fals; yang kita ketahui bersama juga sempat menjadi ikon musisi kritis di negri ini.

Jadi, ini bukan mengenai Iwan Fals yang lebih kritis daripada Dono CS. Bukan pula E.R.K. yang lebih berani daripada Om Iwan. Bukan itu. Semua ada masanya. Kata Einstein, The only reason for time is so that everything doesn't happen at once. Artinya, ini soal “orang yang tepat di waktu yang tepat”. Relevansi, sebut saja begitu. Apabila kita menilai wacana yang diusung oleh Warkop DKI dangkal untuk ukuran jaman sekarang, maka sebaliknya, ‘obrolan politis’ Efek Rumah Kaca pasti akan sangat rumit untuk ukuran logika orang-orang bercelana cutbray di era Indro masih kurus. Padahal, apa yang mereka bicarakan sama-sama berada di tataran politik yang non-partisipatif. Artinya, pembicaraan politik dalam karya-karya mereka, bukanlah upaya untuk mengajak orang-orang untuk berpartisipasi di dalam politik kenegaraan. Dengar saja lagi, adakah Warkop DKI, atau Iwan Fals (dulu), atau E.R.K. mengajak kita untuk memilih salah satu partai politik melalui karya-karya mereka? Rasa-rasanya tidak. Tapi dengan membicarakan politik dengan gaya yang justru cenderung sinis dan apolitis, mereka juga tidak bisa dibilang apatis. Sebaliknya, saya melihat mereka sebagai orang-orang yang memiliki kepedulian besar pada perpolitikan di negri ini. Bahkan jauh lebih besar daripada kepedulian kebanyakan politisi di gedung dewan yang hanya peduli pada kepentingan kekuasaan belaka. Kasusnya jadi agak mirip dengan ambivalensi paradoksal ateis: Ateis seringkali dianggap tidak pernah memikirkan agama dan Tuhan. Padahal bila dilihat dengan cara yang lain, justru mereka menjadi ateis karena terlalu serius memikirkan agama dan Tuhan. In some awful, strange, paradoxical way, atheist tend to take religion more seriously than practitioners, kata Jonathan Miller.

Ditarik kembali pada konteks politik, apolitis menjadi semacam hak untuk berpikir bebas, ketika berpikir itu sendiri telah ada platform yang sudah ditentukan kadarnya: tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Jika tak sesuai kadarnya, dianggap apolitis bahkan berdosa. Ngomong-ngomong soal dosa, tahun ini MUI lagi-lagi mengeluarkan fatwa yang berkenaan dengan partisipasi umat pada pesta politik yang tak lama lagi akan berlangsung. Dalam fatwa kali ini, MUI berfatwa, bahwa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat, atau tidak memilih sama sekali, padahal masih ada calon yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud, hukumnya haram. Dan tentu saja, syarat yang mereka maksudkan adalah: beriman dan bertakwa, jujur, bisa dipercaya dan aspiratif terhadap umat Islam, serta mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam. Kenapa ini jadi terdengar konyol ya bagi saya? Kamu?

Maka buat saya, menjadi apolitis di negri ini merupakan sikap paling politis yang bisa saya lakukan dengan kapasitas yang saya miliki. Karena ada satu kesamaan antara saya, almarhum Dono, Iwan Fals (dulu), dan Cholil; kami semua bukan bagian dari kekuasaan, dan karenanya seperti tidak memiliki kompetensi untuk membawa wacana-wacana pada tataran praktis. Tapi kami juga memiliki suara. Seperti juga kamu. Jadi tidaklah aneh ketika lagu ngobrol di warung kopi tercipta, atau lagu surat buat wakil rakyat sampai tercipta; dikarenakan memang alam demokrasi pada saat itu seolah membungkam suara mereka, sedang mereka memiliki kepedulian pada politik meski tidak dengan ketertarikan yang sama dengan para politisi akan kekuasaan.

Kini, ketika Kompas membuka ruang khusus bagi band E.R.K untuk berbicara mengenai politik dalam sudut pandang anak muda yang dianggap mewakili generasinya, itu hanyalah sebuah konsekuensi dari perkembangan alam demokrasi yang memang masih terus mencari format terbaik. Perkembangan ini memang semakin mengakrabkan kita pada politik, politik tak lagi menjadi barang yang terlalu mewah. Meski juga belum bisa dikatakan kita bisa berpolitik praktis di luar platform yang dibakukan oleh hukum. Dan menurut saya, ini belum bisa disebut demokrasi. Masih adanya suara-suara yang tidak terwakili, jelas-jelas bukanlah demokrasi.

Karena sejatinya demokrasi sampai saat ini baru sampai pada tataran cita-cita. Belum sampai pada tahap ‘tercapai’. Karya-karya seni bermuatan politis yang terus menerus lahir dari para seniman itu bisa menjadi sebuah indikasi, bahwa suara rakyat masih belum mendapat tempat terbaik di tataran praktis. Itulah kenapa kebutuhan masyarakat akan warung kopi menjadi sedemikian besar: sesungguhnya kita juga memiliki hak untuk berpolitik. Bukan sekadar hak untuk memilih. Apalah gunanya kita memilih wakil kita, jika kita merasa mereka tidak dapat mewakili suara kita?[]

22 Januari 2009

KENANG-KENANGAN

Kata Pengantar

Kenang-Kenangan adalah sebuah kumpulan tulisan. Sudah dua tahun lebih usianya. Tapi saat ini saya ingin mempublishnya di blog ini. Bukan karena memang tulisan ini tidak pernah saya publish di blog atau situs web manapun sebelumnya. Bukan karena dulu saya merasa malu untuk mempublikasikannya karena tulisan ini terlalu sentimentil, sedang sekarang saya merasa tidak perlu malu lagi. Bukan pula sekadar untuk mengisi kealpaan blog ini dari tulisan baru. Bukan itu. Melainkan karena ketika saya tadi menemukannya di dalam salah satu cakram vidio digital (DVD), tempat dimana file-file tua saya tersimpan dengan tak rapi, dan kemudian saya membacanya lagi, saya merasa seperti ditampar oleh salah satu kalimat dalam "Dunia dari Balik Jendela": Dan untuk itulah rasanya saya pantas untuk ditampar-tampari terus menerus agar saya tidak terlena hidup di dalam satu dunia kecil saja. Gila, pikir saya, ternyata saya belum banyak berubah. Ataukah memang benar, sejarah itu selalu berulang?

Karena itulah saya merasa tulisan tahun 2006 ini perlu untuk saya angkat lagi. Agar saya menyadari bahwa saya sekarang tengah berada pada fase yang sama: takut kehilangan, sehingga saya harus segera melakukan sesuatu untuk melampaui fase ini.

Tulisan-tulisan di dalam Kenang-Kenangan ini memang berbicara seputar kehilangan. Siapa yang tidak pernah kehilangan? Siapa yang tidak akan pernah kehilangan? Saya, kamu, kita semua; pasti pernah dan akan berada di fase itu. Karena itu, mungkin kumpulan tulisan ini memiliki relevansi juga untuk orang lain selain saya. Kalau kamu mau membaca versi lengkapnya, silakan unduh pada link yang tersedia di bagian akhir postingan ini.

Akhir kata, selamat membaca. Semoga bermanfaat.[]

***
Siang hari akhir-akhir ini Jakarta terasa panas sekali. Saya benar-benar dapat merasakannya ketika weekend telah tiba. Karena pada saat-saat seperti itu saya sama sekali tidak berada di bawah atap kantor dan jauh dari AC ruangannya yang sejuk. Dan besok-besok mungkin itulah yang sudah menjadi rutinitas baru saya. Dari yang tadinya saya rutin untuk datang ke kantor pada pagi hari dan pulang baru sore harinya, besok-besok boleh jadi saya sudah punya rutinitas baru yang suatu hari saya yakin pasti akan kembali membuat saya muak sendiri.

Saya memang begitu. ‘Aneh’ kata sebagian orang, dan ‘tidak pernah bersyukur’ kata beberapa teman dekat; dan semua judgement semacam itu saya terima saja mengingat saya sendiri juga tahu saya ini seperti apa. Mungkin dunia ini memang baik-baik saja, dan tidak ‘sakit’ seperti yang selalu saya pikir begitu. Mungkin sayalah yang tidak baik-baik saja dan untuk itu selalu merasa perlu mencari cara dalam membuat segalanya menjadi lebih menarik dan tidak membosankan.

Saya ingat betul pada suatu hari ketika seorang teman berkata pada saya bahwa mungkin untuk membuat kita berdua mulai bisa melupakan idealisme yang semakin lama semakin absurd ini, kita harus segera menikah!

Saya hanya tertawa menanggapi ucapannya saat itu. Karena itu bisa jadi benar, tapi bisa juga salah sama sekali. Cukup banyak juga teman-teman saya lainnya yang sudah memasuki fase berumah tangga tapi mereka tetap meneruskan pengejaran yang sama. Jadi saya belum mau mengambil konklusi apa-apa dari ungkapan hati teman saya itu.

Saat tulisan-tulisan ini sudah selesai saya ketik dan tidak akan saya edit-edit lagi, lalu kemudian ada yang membacanya untuk pertama kali, mungkin saya sudah tidak berada di tempat yang sama dengan sekarang ketika saya masih menekan-nekan tuts keyboard. Mungkin saya sudah ada di tengah laut lepas, ataupun sedang terbang melintasi angkasa menuju tempat yang indah.

Sengaja tulisan ini saya jadikan sebagai bagian dari diri saya yang saya tinggalkan. Karena saya sangat setuju dengan Pram, bahwa manusia akan hilang begitu saja kalau ia tidak menulis apa-apa. Ya, kira-kira begitu kata-katanya. Saya juga tidak menghapalnya.

Saya hanya ingin berbagi lewat tulisan-tulisan ini. Tentang perasaan saya sebulan terakhir di tempat yang telah saya pijaki setelah sekian lama. Juga tentang harapan-harapan akan hari esok yang masih ingin saya bangunkan. Sungguh, jika ada yang berpikir kalau ini semua semacam surat wasiat sebelum saya melakukan bunuh diri, rasanya ia terlalu banyak nonton film. Saya tidak akan membunuh hidup saya sendiri. Apalagi karena punya masalah. Tapi justru sangat besar kemungkinannya saya akan menghabisi hidup saya sendiri kalau saya sudah merasa hidup saya terlalu hampa.

Permasalahan hidup justru membuat saya yakin kalau saya masih hidup. Karena hidup tidak akan pernah terlepas daripada itu. Saya tidak berniat untuk menghantam apapun dalam tulisan-tulisan saya di sini. Saya hanya ingin berbicara jujur dan apa adanya. Karena tidak ada yang lebih tinggi nilainya daripada kebenaran (Haq). Dan kebenaran adalah sesuatu yang akan bertahan, walau orang jujur itu kebanyakan ‘hancur’.

Maka biarlah kenangan menjadi kenangan. Dan ijinkan saya mempersembahkan kenang-kenangan ini. Untuk Anda…yang hingga detik ini masih berbaik hati mau menjadi tempat berbagi. Walau kita hanya berdialog secara imajiner.

Kenang-Kenangan - Copyleft 2006

***

“DUNIA DARI BALIK JENDELA”

Saat saya menulis baris ini, jarum detik jam weker berwarna kuning saya yang mungil baru saja berhasil melakukan putaran tigaratus-enampuluh derajatnya sekali lagi. Dan kali ini, secara niscaya, putaran kodrati itu telah mengakibatkan jarum menitnya bergeser lagi sedikit. Satu hal kecil yang akhir-akhir ini nyaris luput dari pengamatan saya karena selalu disibukkan dengan hal-hal besar, yang setelah saya coba renungkan kembali ternyata tidaklah lebih punya harga daripada kotoran saya sendiri. Seringkali apa-apa yang pernah saya kejar dan perjuangkan memang tidak lama kemudian dapat bernasib sama seperti tahi-tahi di dalam septictank, atau mungkin yang sudah disedot oleh mobil penyedot tinja dan sudah dibuang entah ke laut mana. Sesuatu yang bahkan saya pun tidak lagi pernah memikirkannya.

Banyak orang begitu risih melihat saya yang terlalu memikirkan hal-hal yang mereka anggap sepele dan tidak perlu diperbesar. Tapi penghakiman semacam itu pada akhirnya selalu saya telan sendirian, walau pahit memang, karena memang saya tidak merasa perlu untuk melawan apapun yang mereka yakini. Saya tahu keyakinan terkadang dipertahankan oleh seseorang oleh karena ia tidak akan punya apa-apa lagi yang bisa disangkal apabila keyakinan tersebut dilepaskan dari genggaman.

Saya sudah bertekad untuk berhenti melakukan penyangkalan atas apa-apa. Atau mungkin karena memang saya tidak punya sesuatu yang saya pertahankan? Entahlah. Tapi saya tahu persis seperti apa rasanya ketika kecintaan saya pada sastra ataupun langit senja dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Karenanya saya tidak akan pernah melakukan penghakiman yang sama pada siapapun juga. Apabila seseorang memang harus menyadari bahwa apapun yang ia perjuangkan adalah merupakan sesuatu yang sepele—langit senja, gaji tinggi, hobi, kekasih, jabatan, indielabel, instansi, pernikahan, problematika apapun, apapun!—menurut saya hanya orang itu sendiri saja yang berhak untuk menghakimi. Karena saling menyepelekan dan menghakimi adalah sesuatu yang percuma sama sekali.

Sedemikian rupa saya kini dengan sendirinya menyadari bahwa ternyata telah ada begitu banyak kesepelean yang seringkali membuat saya harus membanting tulang untuk mendapatkannya. Dan yang lebih konyolnya lagi, saya baru saja bisa mengerti bahwa ketika orangtua saya dahulu menggunakan istilah ‘banting tulang’ sebagai pengganti kata ‘bekerja’, itu memang bukan sesuatu yang didramatisir.

Persepsi atas sesuatu memang selalu akan menjadi lebih utuh apabila kita berhadapan dengannya langsung, dan dapat dirasai dengan seluruh indera yang kita punyai. Siapa yang tahu seperti apa rasanya jadi pekerja kantoran yang seharian penuh duduk di depan komputer, kalau selama itu ia hanyalah seorang penganggur yang sama sekali tidak pernah mendaratkan bokongnya di bangku kerja? Dan bagaimana seorang yang sudah merasa mapan bekerja sebagai pekerja kantoran dapat tahu seperti apa rasanya hidup sebagai seorang penganggur pada saat ini juga, ketika ia saja bahkan belum diberi tanda-tanda akan diberhentikan dari pekerjaannya?

Dunia yang besar ini mengajarkan saya relatifitas, dengan memperkenalkan kepada saya ada begitu banyak dunia kecil di dalamnya dan kemudian dengan suatu cara menyedot saya pula untuk masuk melalui setiap lubang pintu-pintunya yang terbuka. Dengan menyadari kenyataan yang semacam ini, saya seolah dituntut untuk tetap menjaga kesadaran saya sendiri untuk tidak terbius, terlena, dan akhirnya memberi efek rasa malas untuk beranjak pergi dari dalam satu dunia kecil yang saya masuki. Karena saya tahu, dunia ini sungguh besar. Lalu mengapa saya harus terus menerus bertahan dalam satu ruang sempit. Saya tidak pernah berkeinginan untuk menjadi seorang pengecut yang terlalu takut untuk beranjak kemanapun karena merasa telah dapat berpijak kuat. Saya ingin hidup sebagai seorang pemberani. Dengan keberanian yang kita pergunakan ketika memutuskan untuk masuk ke dalam suatu dunia, tanpa ketakutan akan kenyataan bahwa suatu hari kita harus meninggalkannya lagi.

Alam raya ini adalah sekolah yang sebenarnya. Dan seringkali kita menjadi murid yang terlalu bebal untuk menerima pelajaran-pelajaran yang tertulis di depan mata kita. Ataupun kita terlalu enggan untuk belajar karena telah merasa terlalu pintar untuk melakukannya lagi. Saya sendiri merasa sudah nyaris buta untuk dapat melihat ke depan. Bukan hanya itu: Saya nyaris buta untuk dapat melihat kemanapun lagi!

Hal seperti ini selalu dimulai dengan pertama kali saya memasuki suatu dunia, dan kemudian diiringi dengan peletakkan batu-batu di sekeliling saya secara berkesinambungan, hingga akhirnya mereka semua sedikit demi sedikit mulai menghalangi saya dari dunia di luar sana; Tidak ada lagi langit malam berbintang dan rembulannya yang selalu mengagumkan itu. Karena semenjak dunia ini telah menjadi kubus sempurna, saya hanya dapat melihat langitlangit dengan warnanya yang tidak semenarik rasi bintang yang paling membosankan sekalipun. Sayapun harus puas untuk mulai hidup di dalam dunia yang terlalu sempit untuk bisa berlari, melompat, atau sekadar menyanyikan lagu kemerdekaan. Saya juga harus puas untuk hidup dengan sepotong asa yang hanya mampu saya nikmati dari balik jendela yang hanya menampakkan satu sisi dunia saja. Dan saya harus mulai bisa menganggap bahwa ‘dunia dari balik jendela’ yang hanya dapat saya lihat, tanpa dapat saya gapai itu adalah dimana saya hidup. Konyolnya, saya tidak benar-benar berada di luar sana. Melainkan saya tetap berada di bawah langitlangit dengan warna yang membosankan sementara langit di atas sana mungkin sedang bermain-main dengan spektrum yang memesonakan. Saya tidak pernah tahu itu. Karena itu semua sudah menjadi suatu hal yang terlewatkan begitu saja.

Tapi entah kenapa hidup ini memang terlalu baik pada saya. Saya seolah-olah selalu diberi kesempatan untuk terus bereksperimen dan bereksperimen. Untuk selalu mencobai seperti apa rasanya bila hari ini hidup di satu dunia kecil dan keesokan sorenya saya harus pindah lagi ke dunia kecil lainnya. Saya mungkin memang orang yang terlalu bebal dalam belajar. Dan untuk itulah rasanya saya pantas untuk ditampar-tampari terus menerus agar saya tidak terlena hidup di dalam satu dunia kecil saja. Lalu akhirnya saya pun akan merasa takut untuk melihat kemungkinan bahwa kapan saja saya harus meninggalkan tempat ini, dengan siap atau tidak. Takut untuk melihat bahwa dunia kecil ini sesungguhnya bisa saja terlalu sepele untuk saya pertahankan terus menerus ataupun untuk membuat saya bertahan lebih lama lagi di dalamnya. Takut dan kemudian menyangkal apa-apa saja yang sebenarnya mungkin merupakan kebenaran lain yang patut dipertimbangkan. Penyangkalan memang rasa takut yang mengejawantah. Jadi apa yang masih perlu saya takuti kalau tidak ada apapun lagi yang dipertahankan?

Apapun, semakin kuat kita mempertahankannya semakin kuat pula rasa takut kita untuk kehilangannya. Tidak ada yang lebih sepele daripada keyakinan itu sendiri. Hanya saja sesuatu akan terlihat begitu prinsipil oleh karena kita telah menahun hidup di bawah langit-langit yang itu-itu saja. Sehingga hal lainnya akan terlihat begitu kecilnya, dan pantas untuk dilihat sebelah mata atau bahkan tidak dianggap ada sama sekali.

Seperti saya yang telah nyaris buta untuk melihat kemanapun lagi, karena selama ini saya hidup di bawah langit-langit yang itu-itu saja, di dalam dunia kecil yang sama. Sehingga saya pun hampir lupa bahwa dunia sebenarnya tidaklah sesempit itu. Dan tidak ada yang patut ditakuti apabila suatu hari kita memang harus meninggalkan tempat ini. Karena kemungkinan itu selalu ada. Sayangnya, dengan hidup di dalam satu dunia kecil dapat membuat kita lupa bahwa kita memang selalu punya banyak kesempatan lain selain hanya untuk hidup di dalamnya dan memandang dunia luar hanya dari balik jendela.

Kalau dunia ternyata memang sebesar itu dan saya masih diberi kesempatan untuk melihat adanya pilihan-pilihan lain yang bisa saya ambil dengan bebas, mungkin sekarang memang saat yang tepat bagi saya untuk melanjutkan hidup saya di dunia ini. Karena hidup ini selalu koma. Hingga nanti akhirnya menemukan satu tanda akhirnya cerita: titik.


Di bulan yang ceria, menurut Vina Panduwinata.


***

AKUNG

Seminggu terakhir ini saya merasa pergerakan saya jauh melambat. Rasanya seperti sepeda motor saya yang tadi siang tiba-tiba saja mati mesinnya di lampu merah Menteng, setelah sebelumnya jalannya terasa sedikit lebih berat. Yang setelah saya pastikan bahwa memang karena tangki bensinnya kosong. Atau juga seperti ketika saya ikut mengangkat kurun batang Akung menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir persis seminggu yang lalu; yang semakin mendekati ke liang lahat rasanya menjadi semakin berat. Saya tidak ingin peduli akan takhyul takhyul yang menghubung-hubungkan hal tersebut dengan amal perbuatan almarhum semasa hidupnya.

Semuanya memang berjalan seperti biasa. Bahkan seorang kawan di kantor saya pun tetap dapat mengajak bercanda dengan bahan kelakarnya yang pasti menurut dia sangat lucu. Cukup sulit memang untuk bisa ikut tertawa bersama dunia pada saatsaat seperti yang sedang saya alami ini. Dan terlalu cengeng juga untuk meminta mereka mengerti bahwa saat ini saya tidak sedang ingin diajak tertawa. Yang pada akhirnya saya pun mencoba untuk kembali memulihkan diri sendiri di tengahtengah dunia yang tetap bergerak seperti biasa.

Meski demikian adanya, entah kenapa saya tetap merasa bertanggungjawab atas kekacauan-kekacauan yang terjadi dikarenakan kecerobohan saya sendiri yang tidak mampu bersikap normal untuk menjaga dunia ini tetap berjalan dengan normal pula. Mungkin saya memang konformis. Mungkin juga saya tidak suka membuat orang lain kecewa lantaran kekurangan yang saya punya. Karena kalau tidak begitu, kenapa saya jadi tetap merasa harus mengerjakan animasi dalam rangka membantu project teman saya, padahal saya sendiri tahu bahwa saat ini tidak sedang dalam kondisi mental yang baik untuk itu.

Beberapa kali saya harus meminta maaf pada teman-teman yang mengharapkan partisipasi saya secara intens dalam rencana-rencana yang mereka galang. Seperti ketika client-nya teman saya itu mengajukan banyak komplain padanya karena ternyata masih terdapat banyak error dalam program animasi yang saya buat. Atau seperti ketika Jeri menitipkan dua buah kaset mini DV berisi rekaman mengenai perkampungan nelayan Kamal Muara untuk di-capture. Dan saya pun hanya bisa mengembalikan ekspektasi kedua teman saya tersebut dengan berkata: “sori yah kalau saya agak lambat. Akhir-akhir ini kondisi saya sedang kurang bagus.”

Dan hal ini sepertinya diperparah dengan kesombongan saya yang tidak ingin kelihatan terlalu membutuhkan orang lain. Hidup ternyata memang lebih berat ketika problemaproblemanya harus ditanggung sendirian.

Sementara dunia di sekitar saya berjalan seperti biasa, hidup saya sendiri seolah-olah masih mau menetap pada suatu waktu ketika hal-hal yang menurut saya tidak enak belum sempat terjadi. Maka jadilah saya seperti orang yang sedang trance di tengah-tengah mereka yang sedang sibuk-sibuknya mengakumulasi kapital. Konyol pastinya.

Memang tidak mudah bagi saya untuk berjalan dengan normal ketika ada hal-hal yang tiba-tiba terlepas begitu saja dari diri saya. Apalagi hal buruk memang bukan sesuatu yang pernah direncanakan oleh saya. Antisipasi memang ada. Tapi seringkali sesuatu yang sudah kita susun dalam menghadapi hal-hal buruk sama sekali tidak berjalan sesuai harapan. Apalagi ketika ternyata saya harus menerima beberapa hal buruk secara bertubi-tubi. Saya tidak akan pernah tahu apa yang harus saya lakukan untuk mengantisipasi hal buruk kedua ketika saya hanya mempersiapkan diri untuk satu hal buruk saja.

Tapi saya cukup bisa merasa lega karena masih ada seseorang yang mau sedikit demi sedikit membantu saya kembali menerima hidup ini memang begini adanya. Walau hubungan kami sempat kacau sebentar. Itu pun dikarenakan kelambatan saya dalam menyesuaikan diri dengan kenyataan. Saya juga senang karena dengan uang gaji bulanan yang pas-pasan masih bisa menyisihkan sedikit untuk membeli sekaleng atau dua kaleng pilox. Sehingga saya masih bisa meneruskan cita-cita muluk saya untuk menggerakkan hati orang-orang agar tidak terbius dengan gimmick-gimmick para tiran yang ingin mendominasi kosmos, ketika mereka membaca coretan grafiti yang saya titipkan besar-besar di sudut-sudut yang anomali. Dan untuk saat ini rasanya kaleng-kaleng cat semprot itu punya peran untuk membuat saya tetap dapat berdiri tegak menantang tembok, dan tidak tergolek depresif di sudut-sudutnya.

Saya tidak pernah takut kehilangan pekerjaan. Walau sebenarnya itu memang bukan suatu hal yang akan bisa saya terima dengan perasaan biasa-biasa saja. Terlalu sulit untuk menerima kenyataan bahwa mulai esok pagi saya tidak lagi berjumpa setiap hari dengan teman-teman kantor yang selama ini baik pada saya. Walau demikian saya juga telah berkali-kali berandaiandai kalau suatu hari saya tidak lagi dibutuhkan.

Tapi mungkin sayalah yang belum sampai melibatkan emosi dalam melakukan simulasi berandai-andai itu. Ketika hanya logika saja yang selama ini saya pergunakan untuk itu―tentang apa yang harus saya lakukan pertama-tama kalau saya sudah tidak dibutuhkan lagi, saya harus kemana lagi setelah dari sini, dan lain-lain―saya baru berpikir dan belum sempat merasakan. Oleh karenanya ketika hal itu telah benar-benar terjadi, masih banyak tugas yang ternyata belum saya selesaikan. Masih begitu banyak hal yang membutuhkan penyesuaian-penyesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan. Dan itu semuatidak mudah karena saya ternyata tidak pernah mengukur sedalam apa perasaan saya sendiri.

Saya tidak pernah mengira sebelumnya seperti apa perasaan saya ketika sepuluh hari yang lalu saya dipanggil kedalam suatu ruangan dan di sana diberitahukan bahwa mulai bulan depan saya bukan lagi pegawai perusahaan mereka. Rasanya ada satu bagian di dalam kepala saya yang tidak dapat merespon hal itu dengan baik, yang akhirnya menyebabkan saya tidak mampu berkata-kata selain menyembunyikan apapun dengan senyuman.

Semuanya terasa jelas. Bahkan mungkin terlalu jelas dari apa-apa yang tadinya samar dan hanya ada sebagai andai-andai. Sayangnya, perasaan saya tidak sempat saya ikut sertakan untuk berandai-andai. Maka itulah pertama kalinya saya mengenal seperti apa rasanya diberhentikan dari pekerjaan.

Mulai hari itu dunia di sekitar saya mulai terasa bergerak lebih cepat. Karena hidup saya masih tertinggal bersama kenangan-kenangan manis yang saya lewati bersama kawan-kawan; di Puncak, Kawah Putih, pesta barbeque di roof kantor, atau di restoran-restoran yang menaungi kebersamaan kami semua yang tanpa dilandasi kepentingan bisnis. Sementara itu saya dituntut untuk segera menerima kenyataan bahwa itu semua hanyalah merupakan bagian dari masa lalu yang sudah sepatutnya ditinggalkan jauh di belakang sana. Jujur saja, ini memang tidak mudah bagi saya.

Tiga hari setelahnya ternyata saya harus menelan sesuatu yang lebih pahit dari itu. Di suatu pagi yang sesungguhnya telah saya janjikan kepada seseorang, ternyata ia harus kehilangan pagi itu. Saya kehilangan Akung (baca: Mbah Kakung) saya. Segera menyerbu perasaan bersalah saya karena telah menjanjikan padanya bahwa pada hari ini ia pasti sudah jauh lebih sehat dari minggu lalu ketika saya meninggalkannya terbaring di ranjang rumah sakit polisi di Bandung. Juga teringat akan janji saya untuk kembali menjenguknya pada hari itu dengan membawakannya oleh-oleh dari Jakarta, entah apapun itu.

Tapi pagi itu telah terlanjur menuturkan cerita yang sama sekali tidak ingin saya dengar. Dan pagi itu juga melukiskan sebuah pemandangan yang belum siap saya lihat. Di tengah-tengah pria-pria yang sedang membacakan ayat-ayat yang tidak pernah saya hapal, beliau terbaring kaku. Sungguh sulit untuk mengusir perasaan aneh, bahwa sepertinya baru saja kemarin saya mendengarnya masih berbicara dengan saya dan menyebut saya ‘hebat’ karena mau menggendongnya ke kamar mandi. Tapi hari itu saya seperti sudah dilarang oleh segenap alam semesta untuk berharap bisa mendengar sepatah kata darinya. Dan entahlah apakah di suatu tempat ia masih menyebut saya ‘hebat’ ketika saya ikut mengangkatnya di atas kurun batang menuju tempat peristirahatannya yang terakhir dan menggotongnya masuk ke lubang sedalam enam kaki yang sekarang sudah tertutup. Atau justru ia kecewa karena saya tidak menepati janji-janji saya padanya.

Sungguh aneh ketika saya harus menerima bahwa sesuatu yang tadinya ada kini harus benar-benar tidak ada lagi. Maka itu saya butuh waktu yang cukup lama untuk mulai kembali mengejar ketertinggalan saya atas realita. Karena saya pun butuh waktu untuk mulai berjalan lagi ke depan dan tidak menetap pada masa-masa lalu yang pada akhirnya terasa seperti mimpi saja.

Saya juga butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menulis lagi seperti kemarin-kemarin. Dan sepertinya hari ini saya sudah mulai siap lagi untuk kembali mengejar cita-cita muluk saya.

***

BASED ON TRUE STORY

Malam yang Terjaga
di Kota yang Tertidur Terus


Suara bass musik dangdut terdengar berdentumdentum cukup jelas dari seberang kali yang yang konon akan dibangun sebuah jalur transportasi air model futuristik; yang kalau tidak ada halangan lagi, tahun 2010 besok sudah jadi mirip Venezia. Sudah jadi rahasia umum, atau malah bukan merupakan rahasia lagi, kalau di seberang sana adalah tempat terjadinya transaksi seks murahan. Dan tidak jauh dari tempat tersebut adalah tempat mangkal para banci terpopuler di kota ini. Maka hal apa lagi yang bisa disebut ilegal di sini ketika prostitusi saja sudah diamini oleh yang mengaku mengharamkannya? Tapi kenapa kerasnya suara bass di seberang sana masih saja kalah pamor dengan degup jantungku?

Adrenalin memang tidak pernah berbohong. Ketika ia berbicara kita tahu bahwa saat itulah sesungguhnya ada suatu hal luar biasa sedang terjadi dalam hidup kita. Ah! Memang sulit untuk menjelaskan rasanya seperti apa. Tapi malam itu adrenalin telah berbicara sekali lagi padaku. Dan kali itu jauh lebih sensasional daripada yang pernah kurasakan daripada ketika aku dihempaskan oleh halilintar dunia fantasi. Karena kali ini aku benar-benar tanpa sabuk pengaman dan berada di luar lintasan rel yang telah ditentukan. Ditarik oleh bumi di atas halilintar memang menegangkan. Tapi biar bagaimanapun juga telah ada suatu kesadaran tersendiri yang berkata “tenang saja, ini semua hanya permainan, kamu nggak akan mampus” ketika itu terjadi dalam hitungan beberapa detik. Sedangkan adrenalin malam itu benar-benar berbicara dengan kata kata yang jauh berbeda;

“Apa kamu benar-benar siap melakukan ini? Siapkah kamu kalau ditangkap aparat malam ini juga?”

Sialan. Rasa takut memang sialan kadangkadang. Ia seolah hadir dengan dua sisi dalam waktu yang bersamaan. Satu sisi iamenahanku untuk tidak melanjutkan apa yang ingin kulakukan. Tapi di sisi lain ia seperti menantangku untuk menerjangnya saat itu juga, atau selamanya aku akan menjadi pecundang. Karena kesempatan untuk berhadap-hadapan langsung dengan factor rasa takut memang jarang ditemui.

Aparat memang momok yang menyeramkan biar bagaimanapun juga. Dan penjara adalah mimpi buruk bagi manusia manapun. Tapi aku pun tidak ingin pulang sebelum melakukan apa-apa. Sudah kepalang tanggung aku berada di tempat yang jauh dari rumah ini. Betapa sia-sianya semua keberanian yang sudah sedemikian rupa terkumpul di malam buta ini. Betapa sia-sianya rasa kantuk yang sejak tadi ditahan-tahan. Maka satu-satunya jalan agar semua modal tadi kembali terbayarkan adalah dengan tidak menunda-nunda lagi untuk melakukannya malam itu juga.

Aku tidak sendirian malam itu. Ada tiga orang kawan lagi yang juga sudah sama-sama memerah matanya. Dan tanpa perlu aku tanyai lagi, aku sudah tahu kalau mereka sudah mulai lelah setelah mengendarai sepeda motornya sepanjang jalan tadi dan belum menemukan tempat untuk melakukan ini. Semua tempat yang seharusnya ideal masih terlalu ramai orang. Bahkan di beberapa tempat ternyata masih dijagai oleh polisi. Maka kami terpaksa harus membatalkan untuk melakukannya di sana dan mencoba mencari tempat lain.

Dan di sinilah pada akhirnya kami menepikan sepeda motor. Di sebuah tempat yang miskin cahaya lampu jalanan. Namun mungkin justru itulah yang membuatnya semakin ideal. Karena semakin kami tidak terlihat, maka semakin leluasalah kami dalam beraksi. Selain itu, adanya pembangunan bus way di dekat tempat kami berdiri ini menyempurnakan semuanya. Bukan apa-apa. Tapi memang inilah sasaran kami kali ini.

Kalau saja kami tidak mempunyai kesamaan rasa muak akibat pembangunan bus way yang semakin mengganas itu, mungkin kami tidak akan berada di tempat asing ini. Kalau saja kami lebih bias menerima kebusukan sebagai sesuatu yang wajar, mungkin kami lebih memilih untuk bergumul bersama bantal-guling sejak beberapa jam yang lalu. Tapi kami memang tidak pernah bisa tinggal diam ketika merasa dirugikan oleh apapun.

Kami sebal dengan jalanan kota ini beberapa waktu belakangan. Kemacetan terasa seperti berlipat ganda. Jalur yang ‘dipersempit’, walau dengan jumlah mobil yang tidak bertambah, tentu saja akan membuatnya mampat. Logika anak SD pun akan membenarkan hal yang simpel semacam itu. Tapi entah jalur logika apa yang digunakan oleh orang-orang itu sehingga seolah-olah mengacuhkan begitu saja konsekuensi yang harus ditanggung oleh banyak orang, untuk tetap bersikukuh melanjutkan ‘proyek pengeksklusifan jalan’.

Konon ini semua hanya sementara. Karena katanya jalanan nantinya akan dilebarkan.

Kami tahu apa itu artinya ‘pelebaran jalan’. Pelebaran jalan selalu berakhir dengan penggusuran. Dan dengan empati yang kami punyai seadanya pun kami sudah bisa merasakan bahwa akan banyak kesedihan yang tercipta di hari-hari esok apabila ini semua terus berlanjut. Sudah terbayang ada puluhan bahkan ratusan kepala keluarga harus kehilangan lahan pekerjaan mereka yang memang di jalanan dalam tempo sesingkatsingkatnya. Itu berarti akan muncul kemungkinan terburuk meningkatnya jumlah pengangguran baru. Dan pengangguran memang identik dengan kriminalitas. Bagaimana tidak? Ketika orang-orang yang kemampuan finansialnya benar-benar terpuruk dihadapkan pada standar hidup tinggi yang entah ditetapkan oleh siapa, ada berapa cara rasional dan legal yang dapat mereka lakukan untuk itu? Padahal kita juga tahu, seinovatif apa sih orang-orang yang modal pendidikannya jauh di bawah standar aneh itu?

Sementara itu, tanpa peduli ada orang-orang yang bisa menjadi tidak waras karena merasa tidak mampu membeli mimpi-mimpi yang dijual, sinetron-sinetron dan reklame masih tetap berisik menggaungkan kemewahan.

Berharap perubahan keadaan datang dari tangan pemerintah sudah lama kami anggap sebagai mimpi yang tidak pernah akan jadi nyata. Cita-cita untuk merebut kekuasaan dari tangan mereka dan kemudian membuat sistem baru juga sudah lama kami anggap seperti dongeng pengiring tidur yang jauh lebih klise daripada cerita-cerita 1001 malam. Tapi bukan berarti lantas kami akan menyerahkan begitu saja nasib hidup kami ke tangan mereka. Karena, walau mungkin kami memang berada di dalam genggaman mereka, kami tetap menggeliat.

Kami tidak ingin terlelap pada malam-malam yang melelahkan raga kami setelah bekerja seharian, yang menyebabkan otak kami sudah merasa enggan lagi untuk berpikir apa-apa selain memikirkan anggaran belanja bulan ini. Pun kami tidak ingin terlelap pada saat siang hari ketika kami sedang terbangun.

Kalau memang ada orang yang harus dibangunkan dan dibuat untuk tetap terjaga terus menerus, itu adalah diri kami sendiri. Kami memang tidak pernah ingin terlelap dalam kehangatan telapak yang menggenggam kami semua. Karena hanya kesadaran sajalah yang mampu membuat kami tetap memegang kendali atas diri sendiri.

Pinokio pada akhirnya berhasil menanggalkan takdirnya sebagai boneka kayu untuk menjadi manusia, karena ia memulainya dengan melupakan kodrat bahwa boneka harus selalu dikendalikan oleh tangan Gepeto (sang pencipta Pinokio) untuk dapat bergerak. Ia juga harus belajar bahwa Kebenaran adalah berada di atas segalanya, dengan tidak berkata bohong kalau tidak mau hidungnya menjadi panjang.

Dengan berbekal kesadaran yang sama dengan Pinokio lah kami tetap menggeliat merebut nasib kami yang telah tercuri. Kami menuntut kembali nasib kami agar dapat kembali berada di tangan kami sendiri. Bukan di tangan siapasiapa.

Proyek pembangunan bus way ini pun sepertinya mengindikasikan sesuatu yang tidak mengenakkan. Bahwa sebentar lagi akan ada suatu pengaturan hidup manusia atas manusia yang entah untuk keberapa kalinya tidak melalui usaha pencapaian kesepakatan yang melibatkan setiap orang yang berhak untuk itu. Dan sekali lagi Demokrasi akan menjadi tinggal mimpi.

Untuk itulah kami berada di tepi jalan malam itu. Bukan untuk orang lain. Bukan dalam rangka melakukan sesuatu yang heroik untuk siapapun juga. Tapi karena kami merasa punya suara yang tidak pernah boleh dibungkam oleh kekuatan macam apapun. Dan kalau memang benar ‘kata’ itu masih dianggap sebagai sesuatu yang agung; kami juga ‘RAKYAT’.

Juga karena kami percaya setiap manusia berhak untuk menyampaikan suaranya.

Karena kami pun sudah jenuh dengan model Demokrasi yang hanya menerima suara melalui kotak-kotak suara; dimana sebenarnya suara-suara kami tidak pernah benar-benar terwakilkan seutuhnya di sana, apakah kemudian salah apabila malam itu kami memilih media lain untuk bersuara?

Lagipula di sini kami hanya akan memberi pertanyaan saja. Bukan pernyataan. “Solusi?” cukup satu kata itu saja yang akan kami sampaikan. Dibubuhi tanda tanya memang. Dan kami tahu hal itu tidak terlalu menyenangkan. Karena tanda tanya selalu punya potensi untuk membuat apa-apa yang sepertinya sudah cukup mapan bisa dengan seketika goyah. Iklan rokok itu sepertinya ikut bertanggungjawab karena sudah mengajarkan anak-anak muda kita untuk bertanya secara kritis, dengan tanggungjawab yang lebih besar daripada tanggungjawab akan ‘pembodohan’ untuk menghisap racun.

Maka tanpa ingin ditunda lebih lama lagi, kami titipkan suara kami di situ, di atas properti kalian semua. Dan sekali lagi, ini bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk mengajak para banci di atas jembatan sana atau orang-orang yang sedang bergoyang mengikuti hentakan bass dangdut di seberang kali sana untuk mengikuti apa yang kami katakan. Bukan untuk membangunkan kota yang terus menerus tertidur ini; yang ironisnya sedang bercita-cita menyamai NewYork yang punya julukan ‘kota yang tidak pernah tidur’.

Ini semua kami lakukan untuk menjaga diri kami agar tetap dalam keadaan sadar. Untuk itulah malam malam kami yang terjaga, dengan hanya bermodalkan beberapa kaleng Pilox di tangan, penutup wajah untuk menghindari rekaman CCTV, kaki yang kuat untuk lari dari kejaran POL PP, dan tentu saja adrenalin.

***

21 Desember 2008

Kematian

Mana yang lebih kamu takuti dari kematian: kehilangan apa-apa yang kamu miliki sekarang, atau ketidaktahuanmu pada apa yang akan kamu hadapi setelahnya?

07 November 2008

Industri

Masih ada cerita dari Fakfak, salah satu Kabupaten di Propinsi Papua Barat yang belum genap sepekan saya tinggalkan. Cerita itu kali ini mengenai air mata milik seorang lelaki. Saya lupa nama lelaki itu. Nama yang terlalu sulit untuk saya ingat. Tipikal nama-nama orang timur asli (baca: Indonesia bagian timur) yang kebanyakan memiliki konsonan dobel.Tapi saya tak pernah melupakan matanya. Mata yang telah terlanjur saya saksikan membasah pada suatu malam. Malam di mana kami hendak meninggalkan desanya, Mambunibuni.

Ia adalah seorang guru SD di satu-satunya SD yang terdapat di desanya. Ia termasuk salah satu dari orang-orang yang menyambut antusias kedatangan kami. Terbukti, selama kami berada di sana, ia begitu setia menemani. Bahkan tak jarang ia bersedia mengangkat tripod kamera saya. Bukan saya yang memintanya, melainkan ia yang langsung mengambilnya dari tangan saya seraya berkata: “biar saya bawakan, mas.”

Saya melihat kedatangan kami, sebagai orang tivi, membuatnya menjadi begitu bersemangat dalam menjalani hari-hari selama kami berada di desanya. Bukan hanya karena melihat ia yang selalu hadir di setiap lokasi pengambilan gambar, dan hanya akan pulang ke rumah setelah proses syuting selesai. Tapi saya melihat hal itu semenjak baru tiba di Mambunibuni. Tepatnya ketika dia menyambut kedatangan saya dan Andri, reporter saya, di sekolah tempat ia mengajar. Dia lah yang mempersilakan kami masuk ke ruang guru waktu itu, karena Kepala Sekolah sedang berada di Fakfak untuk suatu urusan. Dia yang menarik bangku-bangku dari belakang meja kerja guru-guru untuk kami. Dia pula yang akhirnya mengisi peran Kepala Sekolah, yang dalam hirarki organisasi paling berwenang memutuskan apakah kami diijinkan untuk ‘meminjam’ siswa-siswi sekolahnya untuk kami jadikan subjek dalam dokumenter kami. Dan, iya, dia setuju.

“Kami sangat senang mas-mas berdua datang ke desa kami. Kami yang biasanya cuma bisa nonton orang di tivi, sekarang orang yang nonton kami. Dari pihak sekolah kami akan menyediakan anak-anak sebagai pemeran film yang akan mas-mas berdua buat. Kami akan siapkan murid-murid kami berapapun yang mas-mas butuhkan.”

Mendengar dia berkata seperti itu saya merasa menjadi seorang pahlawan bagi warga desa yang haus akan bentuk perhatian dari orang luar. Ia bahkan sempat bertanya, “apakah ini akan menjadi seperti Denias?”

Perlu kau ketahui, di sana Denias seperti telah menjadi film wajib bagi orang-orang. Di setiap desa yang saya datangi di Fakfak, tak ada satu pun warganya yang mengaku belum pernah menonton film yang bercerita soal seorang anak suku pedalaman di Timika itu. Sebegitu bangganya mereka pada Denias karena merasa telah menjadi representasi diri mereka. Padahal Fakfak dan Timika letaknya cukup jauh juga. Yang satu berada di Papua Barat, sementara yang satunya lagi di Papua Tengah. Menanggapi pertanyaannya, saya hanya bisa menjawab: kurang lebih begitulah. Sebab malu juga kalau mengakui kualitas Denias pasti lebih baik daripada apa yang akan kami buat dengan peralatan minim yang kami bawa. Tapi demi untuk mempersingkat waktu saya jawab saja begitu. Dan wajahnya menjadi lebih cerah lagi ketika ia mengatakan: “berarti kalau dulu anak-anak kami yang menonton Denias, sekarang Denias yang menonton kami. Begitu, kah?”

“Kira-kira begitulah, Pak,” saya menjawab dan kemudian tertawa. Saat itu saya masih bisa tertawa.

***

Pada suatu hari Kamis, hujan lebat mengguyur Mambunibuni nyaris sepanjang hari. Saya yang pada hari itu sudah terlanjur pergi bersama anak-anak ke pinggir sungai untuk melakukan syuting, dengan pasrah hanya bisa menunggu dan berharap hujan segera berhenti. Saya membiarkan enam anak yang mulai merasa dekat dengan saya itu memain-mainkan rambut saya. Memelintir-melintir rambut saya. Menarik-nariknya, bahkan sampai berani menggerak-gerakkan kepala saya hingga seperti orang yang sedang headbanging. Saya menyalahkan Andri untuk yang terakhir itu. Sebab semenjak pertama kali ia menyetel Dugem vs Metal dengan ponselnya, sembari ia mengangguk-anggukan kepalanya, anak-anak itu jadi memaksa saya untuk ikut mengangguk-angguk bersama Andri. Padahal saat itu saya sedang pusing melihat hujan yang tak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Dan Andri terus menerus mengulang-ulang lagu itu. Sehingga anak-anak terus-menerus punya kesempatan untuk memperlakukan kepala saya dengan semena-mena.

Saat itu sebenarnya saya mulai merasa kesakitan. Tapi karena di luar sana hujan belum juga reda, saya tak punya pilihan lain. Saya tak bisa lari dari mereka, maupun mengusir mereka untuk menjauh dari saya. Saya tak mau kehujanan, dan saya juga tak ingin mereka kehujanan. Karena saat itu kami berdelapan, duduk berdesak-desakan di bawah sebuah atap daun-daun kelapa yang disusun sedemikian rupa sehingga hujan tidak dapat merembes dan mengenai kami. Pak Guru yang antusias itulah pembuatnya. Sejak pagi-pagi sekali ia telah datang bersama enam orang muridnya ke rumah Kepala Desa, tempat kami bermalam selama di sana. Dengan semangatnya ia menjemput kami, menunjukkan lokasi yang bagus, mencarikan gedebong pisang untuk properti syuting, hingga akhirnya ia juga yang membuatkan atap darurat saat ia melihat hujan pasti akan turun. Saat itu ia berada di atap daun kelapa yang berbeda. Sesekali tersenyum ke arah saya seraya mengacungkan jempolnya ketika enam murid didikannya tengah menyiksa saya. Memelintir-melintir rambut saya. Menarik-nariknya, menggerak-gerakkan kepala saya hingga seperti orang yang sedang headbanging.

Senyum dan acungan jempol itulah yang kemudian membuat saya menyadari satu hal yang tadinya sempat tak saya syukuri. Sepertinya ia tengah memuji saya. Barulah saya ingat betapa intovertnya enam anak ini tadi sebelum hujan turun. Betapa pendiamnya mereka. Dan betapa pemalunya mereka. Kini, selang beberapa jam saja, mereka sudah bisa asyik bermain-main dengan rambut saya. Hal yang rasanya tak akan berani mereka lakukan pada kakak kandung mereka sendiri apalagi pada orangtua mereka.

Sembari menahan sakit akibat salah satu anak menarik cambang saya, saya mencoba menoleh ke Andri yang masih setia memutarkan lagu Project Pop yang terkutuk itu. Hanya penasaran apakah ia masih mengangguk-anggukkan kepala seperti tadi. Ternyata tidak sedang headbanging, ia sedang tersenyum dan kemudian mengacungkan jempolnya. Lalu ia membisikkan sesuatu: “ternyata ada untungnya juga kan hujan seharian? Anak-anaknya bisa jadi lebih dekat sama kita nih, bro.”

Ya, benar. Kamu jenius, ndri! Dan hujan tak kunjung berhenti sampai matahari tenggelam.

***

Lima hari kami berada di Mambunibuni. Pasti itu terlalu lama bagi produser yang mengharapkan kami bisa membawa empat episode dalam waktu sembilanbelas hari yang kami punya untuk berada di Fakfak. Ini juga merupakan pengerjaan-satu-episode terlama yang pernah saya alami. Terlalu lama memang kalau untuk membuat satu episode saja sampai harus memakan waktu lima hari. Pikiran dan perasaan keburu basi apabila terlalu lama berada di satu lokasi, memikirkan satu episode saja. Namun, apa mau dikata, hujan terus menerus turun di Mambunibuni. Saya juga tidak ingin memaksakan mengambil gambar pada saat hujan turun. Fatal akibatnya. Kamera rusak terciprat air. Saya bisa kena SP.

Tapi kelihatannya lima hari itu terlalu sebentar bagi Pak Guru yang antusias dengan kehadiran kami di tengah-tengah mereka. Dia menahan kami supaya pulang setelah tanggal 7 November saja. Sebab tanggal tujuh akan ada festival perahu di Fakfak. Saya tertawa. Saya bilang padanya bahwa saya bisa dipecat kalau begitu. Dan dia pun tertawa.

Malam harinya, tawa itu tak lagi ada. Suasana tiba-tiba berubah menjadi sangat serius ketika kami semua berkumpul di rumah Kepala Desa untuk perpisahan. Suasana formil yang kurang saya sukai. Saya menyaksikan wajah orang-orang yang ada di ruangan itu satu persatu ketika Kepala Desa sedang berbicara. Wajah enam anak bengal yang sempat menarik-narik rambut saya itu satu persatu. Salah satu dari mereka sudah ada yang bisa mengangkat-angkat salah satu alisnya ketika pandangannya beradu dengan saya. Saya tertawa sendiri dan segera menunduk menahan tawa itu. Khawatir Pak Kades merasa tidak dihargai karena tidak didengarkan pembicaraannya. Maaf, Pak. Tapi, hei… Pak Kades, lihat! Saya yang mengajari anak itu mengangkat alisnya, lho! Ah, tidak penting. Yang terpenting kini mereka sudah tidak se-introvert waktu pertama kali bertemu saya; yang bahkan untuk menyuruh mereka mengangkat wajahnya saat berbicara saja susahnya setengah mati.

Tiba giliran Pak Guru selaku pengajar anak-anak itu untuk berbicara. Saya mencoba berusaha untuk bisa bersikap dewasa kali ini. Lupakan dulu canda ria dengan anak-anak itu. Toh, juga sebentar lagi sudah akan meninggalkan mereka. Jangan membuat mereka merasa semakin sulit melupakanmu. Kasihan. Rindu itu sering menyesakkan dada.

Saya menanti Pak Guru mulai berbicara sejak tadi saya mulai bertekad untuk bersikap dewasa. Tapi beberapa detik sudah berlalu, dan belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut orang antusias itu. Bahkan ia pun menunduk. Menunduk, seperti anak-anak introvert itu ketika saya baru tiba di desa ini lima hari sebelumnya. Seluruh hadirin yang ada di ruangan diam. Hanya suara desing hening yang terdengar selama beberapa detik itu. Hingga akhirnya ada suara lain yang mengusik hening. Suara isak tangis yang tertahan. Siapa yang menangis, tanya saya dalam hati. Pak Guru mengangkat wajahnya. Matanya sudah membasah. Saya terenyuh menyaksikan pemandangan itu.

Saya ingin bertanya ‘kenapa, pak, kok sedih?’, tapi khawatir dianggap naif oleh orang-orang yang sedang bersikap formal pada malam itu. Termasuk Andri. Semuanya diam saja. Maka saya pun urung bertanya. Hingga akhirnya Pak Guru berbicara.

"Selama ini Indonesia yg kami saksikan di tivi adalah Indonesia yg sama sekali asing sama kami... Kami tidak pernah melihat anak-anak kami sendiri muncul di situ... Tapi kedatangan Mas-Mas berdua ini bikin saya sekarang jadi merasa kalau kami juga bagian dari Indonesia. Terimakasih, Mas-Mas berdua."

Hati saya hancur mendengarnya. Perasaan saya kacau dan pikiran saya berantakan, sehingga saya tidak dapat mengidentifikasi rasa apa yang tengah ada di hati saya malam itu. Yang saya ingat, saya merasa sangat bersalah karena justru telah datang ke sana. Seandainya dia tahu bahwa saya tidaklah seheroik yang ia pikir. Saya datang ke desa itu bukanlah untuk mereka. Tapi sejujurnya hanyalah dalam rangka ditugaskan oleh sebuah perusahaan di ibukota negara sana untuk mencari yang unik-unik untuk bisa dijual! Iya, pemilik perusahaan tempat kami bekerja bahkan tidak peduli kalau mereka ada. Yang ia pedulikan hanya satu: apakah suatu acara bisa membuat rating&share perusahaan televisi ini naik, sehingga para pengiklan akan berani membayar mahal untuk memasang iklannya pada jam tayang acara tersebut?

Saya hanyalah bagian dari mereka, Pak Guru, andai kau tahu itu. Dan kalian ini hanyalah menjadi semacam bahan baku yang saya masukkan ke dalam keranjang belanja bernama ‘kaset’, untuk kemudian saya serahkan pada sang koki ‘editor’ untuk diolah menjadi masakan yang nantinya dimakan oleh konsumen bernama ‘penonton’. Dan, iya, kita adalah bagian dari sistem banal ini. Dengan atau tanpa kita sadar bahwa kita adalah bagian dari sistem seperti ini, semua pergerakan kita bertujuan untuk membuat roda sistem ini terus berputar. Permasalahannya, jumlah yang tidak sadar itu terlalu banyak. Dan mereka ada di setiap bagian yang saya sebutkan tadi. Mereka ada di dekat Pak Guru selama ini. Iya, anak-anak didik Pak Guru itu. Anak-anak yang lincah; yang kulitnya hangus terbakar matahari; yang tidak pernah mengenakan alas kaki meski berlari-lari di aspal panas; yang bisa melakukan salto di air terjun. Mereka, anak-anak yang masih sangat murni dan kosong. Mereka bahkan belum menyadari eksistensi dirinya sendiri. Bagaimana mereka mungkin bisa menyadari bahwa mereka berada di dalam sistem ini? Jauh di sana, Pak Guru, di tempat yang orang-orangnya terlalu sibuk untuk pergi berekreasi karena rutinitas harian mereka yang tak mungkin bisa mereka lepaskan, ada orang-orang yang merasakan secuil sensasi kembali ke alam hanya dengan menyaksikan anak-anak lincah bermain-main di alam bebas. Mereka menonton acara-acara petualangan memang karena benar-benar sebagai pelarian dari ketiadaberdayaan mereka meninggalkan rutinitas harian mereka. Padahal di lubuk hatinya yang terdalam, mereka sangat ingin pergi ke tempat-tempat seindah desa Pak Guru ini. Seringkali juga mereka tidak sadar bahwa mereka merupakan bagian dari sistem ini. Sebab jika mereka tidak ada, acara-acara tentang alam pun tidak akan pernah ada yang mau memproduksi. Siapa yang mau makan? Dan yang terakhir, barangkali yang terjahat, adalah kami Pak Guru. Kami yang datang jauh-jauh dari Jakarta sana ke desa Pak Guru yang terpencil ini hanya untuk merekam sesuatu yang nantinya bisa ditonton oleh para penonton. Bukan untuk bersilaturahim! Hubungan di antara kita hanyalah hubungan produksi, Pak Guru. Itu saja. Tak lebih, tak kurang.

Maka kalau malam ini Pak Guru menangis seperti itu dan merasa terharu karena merasa telah menjadi bagian dari Indonesia, menjadi bagian dari kami, saya pikir itu salah… Justru saya sedang mengusahakan agar Indonesialah yang menjadi bagian dari kalian. Lihat, di sini kalian masih punya barter[1], yang mana Indonesia tak gunakan lagi. Alam kalian masih begitu asri, yang mana di kota besar sana orang-orang hanya bisa melihat itu lewat layar kaca saja. Justru apa yang saya inginkan adalah membuat penonton tersadar bahwa: “hei, ini lho… ternyata masih ada lho orang yang memakai barter dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bisa, kan? Mungkin, kan?” Begitu, Pak Guru…

Lagipula, Pak Guru tidak tahu sih apa artinya diperhatikan oleh Pemerintah. Pak Guru merasa bukan bagian dari kami karena merasa tidak diperhatikan, bukan? Karena desa ini hanya memiliki satu sekolah saja, karena satu-satunya akses ke desa ini jalanannya rusak berat, dan karena belum semua rumah di sini memiliki WC. Kan? Pak Guru tidak tahu apa artinya ‘diperhatikan’. Jika suatu daerah diperhatikan oleh pemerintah, artinya daerah itu memiliki potensi. Entah potensi alam, potensi wisata, atau potensi apalagi entah. Dan jika suatu daerah sudah disadari memiliki potensi maka apa yang akan mereka lakukan berikutnya, Pak Guru? Iya, eksploitasi! Bukan hanya alam, tapi juga manusia. Anak-anak didik Pak Guru yang bengal-bengal ini akan mereka eksploitasi menjadi pekerja mereka. Menjadi budak-budak pabrik yang akan diperas keringatnya. Mungkin Pak Guru berpikir menjadi buruh pabrik lebih baik daripada menjadi petani keladi. Karena digaji oleh orang lain itu lebih keren? Begitu, Pak? Salah, Pak.[2]

Pak Guru seharusnya bersyukur karena saat ini desa Pak Guru belum diperhatikan oleh Pemerintah. Karena nanti, apabila tiba saatnya desa Pak Guru mendapatkan giliran apa yang mereka sebut dengan ‘Pembangunan’, Pak Guru baru akan menyadari sekaya apa Pak Guru dahulu.

“Iya, Pak Guru, Sama-sama,” hanya itu saja kata-kata yang benar-benar bisa terucap dari mulut saya malam itu. Itu pun meniru apa yang Andri ucapkan. Hati saya masih gamang ketika keluar dari pintu rumah Pak Kades malam itu. Di luar gelap sekali. Barangkali bulan mati. Saya mengeluarkan ponsel dari kantong celana. Menghidupkannya sembari berjalan pelan-pelan.

“Ngapain lo, bro? Belom ada sinyal di sini,” Andri meledek saya.

“Enak aja. Buat senter nih. Gelap, takut kesandung,” cahaya seadanya dari senter ponsel saya cukup untuk menerangi jalan setapak di depan. Tiba-tiba saya teringat seorang perempuan yang saat itu sedang berada jauh dari sini. Aida. Benar juga Andri, saya rindu dia. Sudah beberapa hari terakhir ini saya tak berkomunikasi dengan dia, lantaran di desa ini tak ada sinyal. Waktu itu saya pikir saya bisa mati sesak jika tidak mendengar suaranya sekali dalam sehari. Ternyata saya bisa melaluinya dengan selamat.[]

___

[1] Bacaan Lebih Lanjut: Another World is Not Only Possible!

[2] Bacaan Lebih Lanjut: Kebebasan Memang Sesuatu yang Harus Kita Raih Sendiri.