19 September 2007

Seri Rekaman Nyanyian Jalanan # 2

Pengamen Tanpa Nama

Mungkin memang tak mudah untuk membuat appointment dengan pengamen.


Adi Firmansyah. Saya merasa takjub pada kelugasan ia memperkenalkan namanya. Di balik pekerjaannya sebagai pengamen bis
kota
, ternyata masih tersimpan sebuah kebanggaan pada diri sendiri. Tidak seperti salah seorang pengamen lainnya, yang beberapa hari sebelumnya saya temui di salah satu bis jurusan Blok M, yang memperkenalkan dirinya dengan nama Bule. Setelah saya berkata padanya bahwa sudah semestinya kita merasa bangga pada nama pemberian orangtua, barulah Bule mau mengakui bahwa nama sebenarnya adalah Muhammad Yusuf. Saat itu juga saya bingung, mengapa ia merasa perlu untuk mencari nama lain sebagai pengganti nama sebenarnya yang sudah seperti nama seorang nabi. Dua orang, maksud saya. Untunglah teman saya, yang pada waktu itu sedang bersama saya di dalam bis tersebut, bisa menyudahi kebingungan saya dengan caranya yang jenaka. "Mungkin dia takut dipanggil Ucup," ujarnya. Bisa jadi.

Berbeda dengan seorang pengamen yang beberapa hari sesudahnya saya jumpai di Patas sedang menyandang gitar kecilnya. Semenjak pertama kali menegurnya saja, saya sudah bisa merasakan satu kesan berbeda dari dirinya. Ia menanggapi saya dengan gaya yang santai, seolah-olah sedang berhadapan dengan kawan lamanya. Benar-benar berbeda dari sebagian pengamen yang cenderung terlihat inferior saat saya mengajak mereka berbincang.

Adi Firmansyah, ucapnya lugas seraya mengulurkan tangan kanan yang dengan seketika saya sambut. Dan seketika itu juga saya merasa senang karena berpikir telah menemukan seorang narasumber yang bersikap apa adanya. Setidaknya kesan itulah yang bisa saya tangkap dari mulai bagaimana ia memperkenalkan diri dengan nama asli, gesturnya, hingga bagaimana ia selalu memandang ke mata saya kala kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya, dan juga mulut saya.

Seiring perjalanan, ada perasaan resah dari dalam diri saya yang muncul pada saat itu juga. Saya merasa tidak rela apabila harus berpisah dengan Adi terlalu cepat. Mengingat, saya tidak mungkin untuk mengikuti perjalanannya karena sebetulnya tujuan saya menumpang bis tersebut pada hari itu adalah untuk mencapai kantor. Sementara di sisi lain, saya baru saja merasa menemukan narasumber yang cukup bisa diajak bekerja sama. Keresahan tersebut sepertinya lahir karena pengalaman kurang menyenangkan yang saya dapat akhir-akhir ini.

Mungkin memang tak mudah untuk membuat appointment dengan pengamen. Itulah persepsi yang terbentuk di benak saya setelah beberapa kali merasa gagal untuk bisa menemui mereka untuk yang kedua kalinya. Dua pengamen terakhir yang sempat saya ajak berkenalan, termasuk Bule, mengaku tidak mempunyai nomor telepon—ataupun nomor telepon orang terdekat yang bisa dihubungi. Maka akhirnya selalu sayalah yang memberikan nomor telepon seluler saya pada mereka dengan harapan agar mereka mau menghubungi. Tapi setelah melewati hari demi hari dengan penantian, kabar dari mereka tak pernah kunjung datang. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menanti dan mulai mencari narasumber yang lain.

Maka ketika Adi Firmansyah tengah asyik menceritakan pengalaman hidupnya—mengenai dirinya yang baru saja terkena operasi pembersihan oleh aparat dan harus merelakan ketika uang hasil mengamennya sebanyak 180.000 rupiah diambil; mengenai ia yang telah berhasil menyelesaikan program D2 Universitas Gunadarma dengan biaya hasil mengamennya; mengenai ia yang sehari-harinya mangkal di pintu tol Cibitung namun terkadang pula bermalam di UKI—pikiran saya disibuki oleh keresahan. Karena saya sadar, tak lama lagi saya harus turun.

Hingga akhirnya saya memang harus turun juga di depan kantor. Dan lagi-lagi apa yang bisa saya lakukan hanyalah meninggalkan nomor telepon seluler saya padanya agar ia bisa menghubungi sewaktu-waktu.

Di kantor, sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan, saya menyempatkan diri untuk mencatat informasi apapun yang sempat saya dapat tadi ke atas notes. Seketika saya menyesalkan kecerobohan yang telah saya lakukan. Saya lupa menanyakan usia pengamen tadi. Meski dari segi fisik saya bisa memperkirakan bahwa usia Adi Firmansyah beberapa tahun lebih muda dari saya, tapi saya tahu, demi akurasi apapun tidak bisa dikira-kira. Akhirnya, seperti otomatis saya pun mencoba mengingat-ingat kembali setiap detil yang sempat diutarakan oleh Adi demi mencari secuil petunjuk. Namun, ketika sedang berusaha sekuat tenaga mengingat-ingat apa yang telah lewat, saya malah dikejutkan oleh sebuah fakta: Bukankah Universitas Gunadarma tidak mempunyai program D2? Lalu mengapa Adi tadi mengakui bahwa dirinya lulusan D2 Universitas tersebut?

···

Hari demi hari kembali terlewati semenjak saya melompat turun dari bis dimana Adi Firmansyah tetap berada di sana, seraya tangannya tetap menggenggam secarik kertas berisi nomor telepon seluler yang sengaja saya tinggalkan untuknya agar ia bisa menghubungi. Tapi sampai saya menuliskan ini, kabar darinya yang saya tunggu-tunggu tak juga datang. Sulit untuk bisa tetap mempercayai seseorang apabila salah satu pondasi keyakinan yang menopangnya telah runtuh terlebih dahulu. Tidak mudah untuk tetap memegang satu ucapan seseorang, bila saya sudah tidak mempercayai ucapannya yang lain.

Kali ini bukan janji Adi untuk menelpon yang saya persoalkan. Bule, Akew, atau Rohim pun memiliki janji yang sama untuk menelpon saya dan mengatur pertemuan selanjutnya. Perkara mereka semua hingga detik ini belum juga memberi kabar, itu bisa mudah disikapi dengan pikiran positif, seperti: mungkin mereka memang benar-benar kesulitan mencari cara untuk menghubungi saya—mengingat, dari segi ekonomi, kondisi mereka memang lebih sulit ketimbang saya. Tapi mengatakan pernah mengambil program D2 Universitas Gunadarma, sedangkan saya tahu tidak ada program D2 di Universitas tersebut, itu lain perkara. Saya gagal menemukan cara yang bisa membuat saya tetap berpikiran positif untuk menyikapi kebohongan. Mungkin karena pada dasarnya saya tidak pernah suka dibohongi. Bahkan dengan perasaan sangat menyesal saya pun gagal untuk bisa tetap percaya bahwa Adi Firmansyah adalah nama orang itu yang sebenarnya.

Hingga suatu pagi, saat saya tidak sedang terlalu memikirkan soal pengamen ataupun menanti kabar dari mereka, saya mendapat kabar bahwa akan ada sebuah Perda baru yang saat ini masih disosialisasikan. Perda dengan nomor 8 tahun 2007 yang mengatur soal ketertiban umum itu akan menjadi dasar hukum lagi untuk menertibkan pengamen, pengemis, dan kelompok masyarakat miskin lainnya dari jalanan. Perda ini tidak hanya akan menjadi momok bagi kelompok-kelompok masyarakat miskin yang tetap harus berada di jalanan demi mengais rejeki. Tapi juga bagi pihak-pihak yang, menurut logika si pencetus Perda, mempertahankan keberadaan kaum miskin di jalanan; seperti memberikan receh kepada pengamen ataupun pengemis. Dalihnya, jalanan bukan tempat untuk berderma.

Saat itu juga saya segera teringat pada beberapa pengamen yang masih mempunyai janji untuk menghubungi saya. Saya membayangkan di mana pada saat itu mereka berada. Apakah di suatu tempat di luar sana mereka sedang berkejaran dengan waktu, memanfaatkan sisa waktu yang sedikit ini untuk mengamen sebelum Perda tersebut benar-benar diberlakukan? Apakah mereka sudah memutuskan untuk mengakhiri karir mereka sebagai pengamen lantaran ngeri pada Perda baru ini? Atau justru mereka bergeming, karena memang sudah biasa ditangkapi. Seperti yang sempat Adi katakan saat saya bertanya apakah ia takut ketika dikejar-kejar oleh aparat, sebelum pada akhirnya ia harus merelakan 180.000 miliknya.

“Biasa aja. Saya mah udah biasa. Kalo soal berurusan sama polisi sih, saya udah biasa. Lagipula kan dulu saya sekolah STM. Jadi udah sering ngerasain ketangkep pas tawuran.”

Saat itu saya hanya berharap dia benar-benar baik-baik saja di luar sana. Sebab saya memang masih menyimpan harapan untuk berjumpa dengannya lagi, entah dalam kesempatan yang seperti apa. Meski saya tidak tahu apapun mengenai dirinya, bahkan keaslian namanya yang saat itu sempat ia ucapkan dengan lugas dan membuat saya takjub, tapi saya tahu bahwa dia mempunyai harapan akan masa depan yang lebih baik. Sama seperti saya yang masih mengusahakan ini semua.[]

27 Agustus 2007

Seri Rekaman Nyanyian Jalanan # 1

Langkah Kecil

Dan aku pada hari itu selangkah lebih dekat kepadamu, kekasih.

Maka jangan biarkan aku mundur lagi,

meski itu selangkah saja.

Maka tampar aku jika berhenti terlalu lama,

aku hanya tak ingin mati terlalu pagi.

——

Suatu Minggu siang, di bawah jembatan layang Cawang-UKI, aku berbincang dengan seseorang. Rohim, begitu ia memperkenalkan dirinya. Penampilan yang cenderung berantakan, dengan rambut gondrong dan kulit gosong, barangkali membuat orang yang pertama kali melihatnya akan segera merasa sedang berhadapan dengan orang yang kurang bersahabat. Tapi, tidak demikian halnya bagiku. Barangkali terdorong oleh niat untuk segera memulai sebuah proyek, yang akhir-akhir ini telah begitu meresahkan karena terus menerus menuntut untuk direalisasikan, semua kesan buruk yang mungkin muncul dari sosok itu secara ajaib sirna begitu saja dari pikiranku. Malahan, pada saat yang sama, seolah pikiranku mensugesti aku untuk berpersepsi bahwa dirinya adalah manusia yang tiada bedanya dengan aku dan juga sejumlah manusia lain, yang saat itu sedang berada di dalam kendaraan umum yang sama. Dan barangkali karena persepsi itulah, aku berhasil untuk menangkap segurat senyum terpoles di bibirnya saat ia sedang asyik menyanyikan sebuah tembang lawas dari Koes Plus dengan iringan gitarnya sendiri. Senyuman yang kurasa hanya aku sendiri yang bisa menyaksikannya dari sekian banyak penumpang, yang pada saat itu kulihat lebih memilih untuk mengarahkan pandangannya ke jalan raya ataupun gedung-gedung di Jalan Gatot Subroto. Senyuman yang sekaligus menjadi lampu hijau bagiku untuk mendekatinya.

Rohim naik dari Pancoran. Setelah sebelumnya aku sempat melihat ia berunding dengan laki-laki lain yang juga sama-sama menenteng sebuah gitar. Sebentar saja perundingan itu berlangsung. Sebab sepertinya mereka sadar bahwa traffic-light akan segera beralih ke lampu hijau. Maka, ketika Mayasari bernomer trayek P 57 yang kutumpangi itu mulai bergerak, dengan sigap salah satu dari mereka segera melompat naik melalui pintu belakang. Sementara yang lainnya tetap berada di sana, di bawah patung yang selalu setia menunjuk ke arah Sahardjo.

Saat itulah aku segera teringat kembali dengan proyekku yang akhir-akhir ini kian meresahkan jiwa. Beberapa waktu belakangan aku memang menyimpan satu keinginan untuk membuat sebuah film dokumenter mengenai pengamen. Mengenai apa Narrow Focus-nya, belum ingin kujabarkan sekarang. Yang pasti, aku tahu, aku tidak akan dapat maju ke satu titik yang kuinginkan apabila hanya terus-menerus mengandalkan bantuan internet sebagai bahan acuan riset. Maka berdasarkan perhitunganku, aku memang harus membuat satu langkah kecil untuk masuk ke lingkar-lingkar kelompok pengamen. Dan itu tidak akan pernah mungkin terjadi jika aku tidak juga memulai untuk menciptakan komunikasi dengan mereka, atau salah satu dari mereka.

Sebetulnya pria gondrong, yang sudah mulai bernyanyi di antara ganasnya deruman mesin bis itu, bukanlah profil terbaik dari sekian banyak pengamen yang pernah kutemui dalam sepanjang riwayatku menumpang kendaraan umum. Dari segi penampilan, ia terlihat nyaris sama menakutkannya dengan sosok penodong-penodong di bis kota yang punya modus operandi: naik ke bis secara beramai-ramai (minimal berdua), membacakan sebuah deklamasi pendek dengan suara lantang dan nada seperti membentak, kemudian selalu ditutup dengan kalimat seperti, “daripada kami menjadi pencopet atau penodong, lebih baik kami seperti ini, Bapak-Ibu!”. Sementara dari segi musik yang dibawakannya, ia tidak bisa disejajarkan dengan pengamen-pengamen di Bandung yang seringkali membawakan lagu-lagu band cafĂ©, ataupun pengamen-pengamen di KRL Jabotabek yang terlihat lebih all-out dengan membawa perangkat musik lengkap—seperti Drum, Keyboard, bahkan Bass Betot. Singkatnya, ia terlihat biasa-biasa saja. Maka apabila saat itu aku sedang berada di bawah penugasan kantor untuk mencari berita mengenai kehidupan pengamen di ibukota, hasil liputan mengenai orang ini sudah pasti tidak akan naik tayang. Sebab ia memang tidak unik. Sehingga sukar betul untuk menemukan apa yang menarik dari seorang pengamen berpenampilan cenderung berantakan yang memainkan lagu Koes Plus. Lagipula apa pentingnya kehidupan seorang pengamen seperti dia bagi orang banyak. Dan sudah barang tentu cerita mengenai dirinya tidak bisa dikategorikan sebagai berita, semenjak sesuatu baru bisa dianggap berita apabila ia memenuhi minimal satu dari dua syarat: penting dan menarik.

Tapi tak ada alasan lain yang membuatku yakin bahwa saat itu merupakan saat yang tepat bagiku untuk mulai maju selangkah demi merealisasikan keinginanku. Tak ada alasan lain yang membuatku bergegas meruntuhkan segala prasangka buruk atas seorang pengamen yang terlihat tidak terlalu ramah ini. Alasan itu adalah momentum.

Sebetulnya, sehari sebelumnya, di dalam bis kota yang sedang mengantarkanku menuju kantor, aku menjumpai tiga orang pengamen yang jauh lebih menarik daripada pria gondrong ini. Selain berpenampilan rapi, mereka juga memainkan lagu bernuansa reliji dengan kemampuan bermusik yang menurutku tidak kalah dengan band-band terkenal. Tapi, alangkah sayangnya, saat itu aku sedang mengejar waktu supaya tidak terlambat tiba di kantor. Sehingga saat itu aku membiarkan mereka berlalu begitu saja setelah mereka menyudahi pertunjukan, tanpa sempat lagi aku mengajak berbincang-bincang. Maka Minggu siang itu jadi momen yang tepat bagiku untuk memulai semuanya. Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang. Karenanya tak ada sesuatu apapun yang perlu kukejar, selain waktu untuk beristirahat.

Mayasari P 57 sempat berhenti cukup lama di Stasiun Cawang. Pengamen incaranku sudah sejak beberapa menit sebelumnya menyelesaikan satu-satunya lagu yang ia bawakan kali itu dan ia sedang berdiri di dekat jendela bagian belakang bis sembari melamun. Saat itu aku masih menimbang-nimbang, apakah perbincangan ini akan kulakukan di atas kendaraan ini juga, atau menunggu beberapa saat lagi ketika ia turun dari bis dan aku pun mengikutinya turun. Karena bagaimanapun juga, aku tidak ingin terlalu mengejutkan ia yang saat itu sedang melamun dengan menghampirinya—secara tiba-tiba ataupun perlahan-lahan—dan kemudian mengajaknya berkenalan. Meski memang belum tentu ia akan seterkejut yang kubayangkan. Namun, bukan berarti kemungkinan itu tidak ada. Aku tidak ingin mengusiknya. Maka saat itu juga aku memutuskan untuk mengambil pilihan yang kedua. Yaitu, nanti saja, ketika ia turun dari bis ini.

Analisaku mengatakan, jika ia tidak segera turun setelah menyelesaikan ‘pekerjaannya’, pastilah ia hendak menumpang bis ini untuk sampai di satu tempat tujuan. Dan saat itu aku berharap tempat tujuannya adalah Cawang-UKI. Tempat aku juga harus turun untuk berganti kendaraan.

Bis kembali bergerak setelah mengambil beberapa penumpang di Stasiun Cawang. Penantian sang sopir selama itu tidaklah sia-sia. Aku pun mulai berdoa supaya harapanku tadi, agar pengamen ini juga turun di tempat yang sama denganku, bisa terwujud. Meski aku juga sudah membuat rencana alternatif bila ternyata nantinya ia turun sebelum ataupun setelah Cawang-UKI. Yakni, aku juga akan ikut turun di sana dan segera memanggilnya. Pada saat yang sama aku juga memikirkan cara seperti apa yang terbaik untuk memanggil orang yang belum kukenal. Apakah hanya dengan suara saja, “Mas, Mas…”, ataukah disertai dengan tepukan di bahunya, aku belum sempat memastikan itu. Hingga akhirnya aku mendengar suara kondektur meneriakkan ‘Cawang-UKI’ secara repetitif, aku pun bersiap bangkit dari tempat duduk. Pucuk dicinta ulam tiba, pengamenku terlihat tengah bersiap melompat ke aspal ketika aku sedang berjalan menuju pintu belakang.

Dia turun lebih dulu, dan aku beberapa detik sesudahnya. Karena di sana bukan hanya aku dan pengamen itu saja yang hendak turun. Ketika kedua kakiku sudah berada di atas aspal, aku segera mempercepat langkahku agar tidak kehilangannya. Aku melihat ia bercelingukan ketika jarak di antara kami semakin menipis. Saat itu juga aku memanfaatkan kesempatan untuk memulai komunikasi. “Mau langsung ngamen lagi ya, Mas?”

Beruntung suaraku tidak kalah oleh deruman mesin Mayasari tadi yang saat itu sedang berada persis di samping kami dan berbelok menuju By Pass. Ia menoleh ke arahku seraya memberikan senyum, “Iya, nih,” jawabnya.

Dan barangkali itu adalah keberuntunganku untuk yang kesekian kalinya. Bahwa orang asing yang sedang kuajak berkomunikasi ini ternyata tidaklah segarang kelihatannya. Maka aku pun mulai memperkenalkan diri padanya. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Rohim. Berikutnya aku sudah meminta waktunya untuk mengobrol. “Di mana?” tanyanya. Aku menunjuk ke arah dimana biasanya aku mencari mobil tumpanganku selanjutnya, di kolong jembatan layang.

Rohim mengaku tinggal di Tangerang bersama dengan istri dan anaknya. Saat itu juga, yang pertama terbayang di benakku adalah rute yang harus ia tempuh setiap harinya untuk melakukan pekerjaan ini. Berikutnya yang muncul barulah keingintahuan; apakah dengan bermata pencaharian sebagai pengamen seperti yang ia jalani itu bisa untuk menghidupi sebuah keluarga. Maka aku pun ingin tahu, apakah mengamen merupakan satu-satunya sumber penghidupan bagi dia dan keluarganya. “Ada kerjaan laen,” ujar Rohim mantap.

Penasaran, aku pun bertanya pekerjaan apa yang ia lakukan selain mengamen. Ia menjawab, “Dangdutan.”

“Maksudnya?” tanyaku betul-betul tidak mengerti.

“Iya, maen musik keliling.”

Oalah. Maksud Rohim adalah Orkes Keliling. Grup musik yang membawa peralatan berupa sound system—dengan sumber listrik accu (baca: aki)—dan alat-alat musik seperti gitar, bass, gendang, dan lain-lain. Orkes keliling atau sering juga disebut orkes dorong mempunyai daya tarik berupa biduan-biduan perempuan berpenampilan seksi yang akan menghibur mereka, yang sengaja memanggil grup ini untuk dihibur. Mereka yang ikut berjoget bersama para biduan harus merogoh kantong untuk membayar kesenangan yang mereka dapatkan. Tradisi semacam ini disebut dengan saweran.

“Biasanya kita dipanggil sama tongkrongan-tongkrongan yang lagi minum-minum,” Rohim menjelaskan.

Saat itu aku berpikir: lucu juga jika Rohim menganggap perlu adanya pembedaan penyebutan antara bermain musik di atas bis kota dengan bermain musik keliling bersama grupnya. ‘Ngamen’ untuk yang di atas bis, dan ‘dangdutan’ untuk yang berkeliling. Mengingat kedua profesi yang ia jalani itu adalah sama-sama bermain musik dengan harapan ada orang yang mau memberikan apresiasi dalam bentuk uang, dalam jumlahnya yang sukarela.

Aku menemukan sisi menarik dari pribadi Rohim ketika bertanya apakah penghasilan dari dangdutan lebih besar daripada ngamen, sehingga ia merasa perlu untuk menjalani dua-duanya.

Nggak juga. Kalo ngamen, saya dari jam sepuluh sampai jam dua siang. Abis itu saya pulang. Paling saya bawa uang limabelas sampe duapuluh ribu. Lumayan buat dapur. Nah, malemnya saya ama temen-temen dangdutan. Bisa sampe jam dua – jam tiga. Besoknya saya berangkat lagi ngamen. Bukan soal duitnya. Kalo dangdutan itu soalnya kan pake gitar listrik. Jadi lebih… lebih… lebih asik aja.”

Luar biasa, pikirku. Di dunia dimana nyaris semua orang berbondong-bondong memberhalakan materi, aku menemukan seseorang yang bisa melihat bahwa uang bukanlah segala-galanya. Dan orang itu adalah Rohim, orang yang mengaku tidak memiliki pekerjaan lain selain ngamen dan dangdutan. Dua pekerjaan yang belum mendapat tempat terhormat di negri ini. Dari cerita Rohim juga, kekerasan masih sering mereka alami dari aparat Negara. Tak jarang, mereka yang terkena razia harus pasrah ketika alat musiknya dihancurkan, ataupun diri mereka digebuki kemudian ditahan.

Namun, Rohim sepertinya termasuk salah satu orang yang terus memperjuangkan hidupnya. Seperti yang dilakukan siapa saja apabila kehilangan haknya atas hidup. Anggaplah kondisi di negri ini telah terlanjur membuat orang-orang seperti Rohim menjadi korban dengan berada pada strata sosial yang rendah. Tapi apakah kondisi ini juga yang pada akhirnya harus menghapus hak hidup mereka? Bagaimana ketika Rohim dan kawan-kawannya mengamen ataupun dangdutan bukan hanya untuk uang semata, tapi juga untuk mendapatkan hal lain—seperti yang disebut oleh Rohim dengan ‘asik’?

Terlepas dari mengkritik regulator yang masih gagal untuk menanggulangi kemiskinan, eksistensi manusia-manusia seperti Rohim seharusnya menjadi bahan renungan bagi siapa saja. Bahwa apabila mengamen menjadi suatu profesi alternatif bagi mereka yang tidak berkesempatan untuk memperoleh pekerjaan lain, sudah semestinya profesi ini juga mendapat tempat yang sejajar dengan profesi-profesi lain di masyarakat. Paling tidak pemerintah pun turut melindungi hak mereka untuk hidup, bukannya malah membunuh hidup mereka, yang notabene merupakan manifestasi dari kegagalan pemerintah sendiri dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Yah, paling tidak orang-orang seperti Rohim bisa tetap mendapatkan ‘asik’-nya dengan tetap bisa mendapat tempat untuk hidup. Hidup yang sehidup-hidupnya. Yakni, memperoleh apa yang memang menjadi haknya. Sebab sekecil apapun hak itu, hak tetaplah hak. Meski hak itu hanyalah hak yang menurut orang lain remeh, tapi barangkali tidak bagi orang-orang seperti Rohim, yang telah berhasil melihat kebahagiaan dunia bukan hanya terbatas pada uang.

Merasa telah menyita waktu Rohim terlalu lama, aku pun memutuskan untuk menyudahi obrolan. Meski sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan seputar ruang hidup pengamen. Barangkali lain waktu obrolan ini bisa berlanjut. Karena bagiku pun, ini masih merupakan satu langkah kecil untuk benar-benar memasuki dunia yang sebenarnya. Dunia yang setiap saat aku inginkan untuk berada di sana. Sebab sampai saat ini aku masih percaya, bahwa aku tidak akan bisa membuat perubahan. Tapi aku bisa melakukan perubahan.

Perbincangan pun kami tutup dengan sebuah janji kecil. Janji untuk bertemu lagi pada suatu malam di Tangerang. Janji untuk berjoget bersama dengan diiringi permainan Rohim DKK, ditemani para biduan seksi. Asiiik…[]

09 Agustus 2007

Memilih Hidup

Some set their hearts on a rocking chair. The better to sleep out the days. But I'm looking for a reason to kick and scream. I don't want to fade away.

Chumbawamba, Fade Away (I Don’t Want To)


Setelah mengajak Yana ber-high five, aku dan Edi segera meninggalkan kantor. Meninggalkannya yang tampaknya akan menetap lagi malam ini. Sembari berjalan menuju lift, aku menyempatkan diri menoleh ke belakang sekali lagi. Kemudian merasa high five tadi tidak cukup berhasil. Kelelahan itu masih kentara di wajahnya, meski ia telah mengusahakan sebuah senyuman saat telapak tangannya dan telapak tanganku tadi berjumpa di udara.

Aku maklum jika ia lelah. Pulang larut malam, bahkan tidak pulang sama sekali, memang menjadi suatu konsekwensi yang telah dijalaninya akhir-akhir ini semenjak terpilih sebagai salah satu orang yang akan dipersiapkan menjadi presenter.

“Anjir, kasian banget tu anak,” kata Edi, ketika kami sama-sama memasuki pintu lift yang sudah siap mengantar ke lantai dasar.

Untuk itulah aku mengajaknya ber-high five. Aku tidak suka merasa kasihan pada seseorang tanpa berbuat sesuatu apapun untuk berusaha menolongnya. Tapi kali ini, aku sungguh-sungguh merasa tidak bisa berbuat banyak. Karena bagaimanapun juga, apapun yang tengah kita masing-masing hadapi saat ini adalah konsekwensi yang harus kita terima setelah memilih untuk bekerja di sini. Maka rasa kasihanku itu hanya bisa terejawantahkan ke dalam suatu ajakan untuk tetap kuat. Kuat untuk menyongsong setiap konsekwensi dari pilihannya sendiri.

Bagiku, yang terpenting pada saat-saat seperti ini—ketika waktu hidup dalam duapuluh empat jam hanya dapat diisi dengan bekerja dan tidur—adalah bagaimana caranya mengusahakan pekerjaan menjadi sesuatu yang benar-benar dapat kunikmati. Apabila tidak, itu sama artinya aku tidak akan menikmati hidup itu sendiri, sama sekali.

“Apalagi kalo dateng ke kantor udah sampe bikin muntah-muntah, berak-berak… Itu sih udah nyiksa banget, men!” ujar Edi sembari wajahnya terlihat meringis.

Ketika mobil Kijang yang kami tumpangi melaju di jalan Gatot Subroto yang sudah lengang, Edi mulai bercerita mengenai seorang temannya yang pernah bekerja di E&Y. Aku mendengarkan kisahnya sembari menikmati rokok yang sudah kunyalakan sejak di tempat parkir.

Di perusahaan itu, ungkap Edi, ia telah berada pada suatu pencapaian yang lebih dari lumayan. Penghasilan lima juta rupiah sebulan. Tapi bekerja di perusahaan akuntan publik terkemuka semacam itu membuat hari-harinya hanya dipenuhi dengan imaji akan uang-uang yang tidak pernah menjadi miliknya. Keuntungan puluhan perusahaan besar yang bernilai puluhan milyar rupiah, hanya bisa singgah di pelupuk matanya sebagai akuntan, tanpa bisa ia mengenyam nilai sebanyak itu. Kecuali itu, ia merasa tidak pernah mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal lain selain bekerja dan tidur. Sebab mengurusi keuangan satu perusahaan saja, bisa memakan waktu sampai dua minggu. Pada saat-saat itulah—ketika ia sudah tidak dapat menikmati detik demi detik yang ia jalani, ketika pekerjaannya membuatnya merasa terasing dari apa yang ia kerjakan, dan ketika ia datang ke kantor hanya karena keharusan belaka—tubuhnya pun mulai berontak.

“Muntaber maksud lo, Ed?”

“Ha-ha! Bukan muntaber. Tapi muntah-muntah dan berak-berak karena udah muak ama apa yang dia kerjain,” terang Edi.

Pikiranku pun serta-merta mengenang beberapa kawan di perusahaan tempatku bekerja saat ini, yang beberapa hari belakangan sempat mengeluh padaku. Mereka mulai merasa keberatan dengan sistem perusahaan ini karena jam kerjanya yang tidak menentu. Sesuatu yang membuatku tak habis pikir kenapa dulu mereka memilih profesi yang, seperti dikatakan oleh Luwi Ishwara dalam bukunya: Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar, “wartawan, entah yang bekerja di surat kabar; majalah, radio, televisi, maupun yang di internet beroperasi 365 hari setahun dan 24 jam sehari. Seseorang tidak berhenti menjadi wartawan setelah pukul 5 sore seperti layaknya orang yang bekerja di kantor.”

Aku memerhatikan batang rokokku yang sengaja tak kutempatkan di dalam badan mobil, tapi tersemat di sela-sela jemari tangan kiriku yang tersodor ke luar jendela. Gesekan angin membuat rokok itu terbakar lebih cepat tanpa harus kuhisap. Saat itu juga aku merasakan relatifitas waktu. Waktu akan terasa lebih cepat mengikis habis ragaku, saat aku tidak dapat bersahabat dengannya dan menikmatinya. Sebisa mungkin aku harus segera menemukan kenikmatan dari apapun yang kukerjakan saat ini, apabila tidak ingin menemui ragaku sendiri berontak membunuhku.[]