11 Juli 2007

[Review] The Edukators

Genre : Drama Action
Produksi : y3 film/coop 99
Sutradara : Hans Weingartner
Format : DVD
Durasi : 127 Menit
Tahun Produksi : 2004


Jule (Julia Jentsch) adalah seorang aktivis yang memprotes kapitalisme, namun ia juga terpaksa bekerja sebagai pelayan sebuah restoran mewah karena harus membayar 100.000 Euros atas kerusakan mobil Mercedes yang pada suatu hari ditabraknya. Sementara Peter (Stipe Erceg) dan Jan (Daniel Brϋhl) telah selangkah lebih maju dalam upaya mereka menentang sistem tersebut. Mereka berdua melakukan sebuah aksi-langsung dengan metode menyatroni rumah-rumah konglomerat. Alih-alih menjarahi barang-barang berharga yang terdapat di rumah-rumah mewah itu, mereka menata ulang perabotan di rumah-rumah itu serta meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan pendek: “Kamu memiliki terlalu banyak uang. Tertanda: The Edukators”.

Kapitalisme dalam film ini dikedepankan dengan fenomenanya yang paling populer, yakni: kesenjangan sosial. Dimana pada satu bagian film digambarkan dari sisi seorang Jule yang harus memutar otaknya demi memikirkan bagaimana cara untuk melunasi hutang, selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sementara di sisi seberangnya, digambarkan orang-orang yang telah berlimpah secara finansial, sehingga apa yang mereka pikirkan bukan lagi tentang bagaimana caranya untuk subsisten; melainkan hal-hal remeh-temeh seperti: kesempurnaan penyajian pear Brandy, yang harus dengan gelas khusus Brandy—bukan gelas liqueur. Singkatnya, gaya-hidup. Seperti yang juga dipaparkan oleh Jan kepada Jule, bahwa temannya itu selama ini telah membanting tulang hanya untuk mendanai seorang agar bisa mengendarai Mercedes. Padahal bagi para eksekutif itu, harga mobil tersebut sangatlah minor jika dibandingkan dengan nilai seluruh kekayaannya.

Hingga suatu saat, sisi revolusioner dalam diri Jule seperti terstimuli oleh kata-kata Jan mengenai ketidakadilan yang kerap dirasakan oleh orang-orang yang berada di kelas sosial seperti mereka. Jule menjadi tidak disiplin di restoran tempat ia bekerja, yang mengakibatkan dirinya diberhentikan dari pekerjaannya. Pada saat Jule tengah menyesali kecerobohannya itu, Jan membangkitkan semangatnya dengan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan dengan melawan atasan tersebut merupakan sesuatu yang hebat. Sebab itu menunjukkan konsistensi dari apa yang Jule lakukan selama ini dengan protes-protesnya terhadap eksploitasi dan penjajahan kapitalisme. Kemudian Jan mengajaknya ke suatu pemukiman mewah milik orang-orang kaya untuk melihat apa yang selama ini dikerjakannya bersama dengan Peter, yang notabene merupakan kekasih Jule. Di sinilah Jule baru mengetahui bahwa ternyata kekasihnya punya sebuah aktivitas ilegal dengan membobol masuk rumah-rumah orang kaya, serta menamakan diri mereka sendiri ‘The Edukators’.

Setelah pemaparan Jan yang cukup meyakinkan mengenai aksi The Edukators, yang termasuk di dalamnya mengenai ketidaktertarikan mereka untuk mencuri barang-barang dari setiap rumah yang mereka bobol, saat itu juga Jule tertarik untuk ikut mempraktikkan apa yang selama ini dilakukan oleh Peter dan Jan. Meski sebenarnya saat itu Peter sedang berada di luar negeri, Jule mengajak Jan untuk melakukan metode The Edukators terhadap rumah seseorang yang selama ini telah menjadikannya menderita; yang tidak lain adalah Hardenberg (Burghart Klaussner), orang yang membuat Jule berhutang padanya. Aksi terlalu spontan inilah yang membawa mereka pada rentetan masalah-masalah baru dengan sebuah solusi yang pahit, yakni bubarnya The Edukators termasuk aktivisme yang selama ini telah dilakukan.

Apabila dibandingkan dengan sebuah film yang pernah saya tonton―yang juga mengangkat isu resistensi terhadap kapitalisme―yaitu ‘Fight Club’, film ini memang terkesan lebih datar dengan minimnya sequence baku hantam dan lebih sarat percakapan. Namun, dengan hal tersebut film ini justru menjadi lebih gamblang dalam menuturkan fakta-fakta mengenai kapitalisme dan resistensi seperti apa yang relevan untuk dilakukan, ketimbang Fight Club yang cenderung abstrak dan malah memperkuat kesan fiktif film tersebut di benak penonton yang masih relatif asing dengan wacana kapitalisme.

Bentuk resistensi yang digambarkan di dalam film The Edukators ini juga terasa lebih wajar dengan menunjukkan bahwa: revolusi―dalam mengupayakan kebebasan―di tengah masyarakat yang menuntut kita untuk menjadi kompromis dengan bekerja dan sebagainya, memang bukan sesuatu yang mudah. Namun, itu merupakan satu hal yang perlu untuk dikerjakan agar kita tidak kehilangan segala hal yang sejatinya kita miliki. Seperti yang dikatakan dengan cukup gamblang oleh Jan, ketika Jule merasa bahwa keinginannya untuk menjadi liar dan bebas (wild and free) adalah sesuatu yang bodoh: “Anyhow, if you keep working for that asshole, you’ll lose faith in everything.”

16 Juni 2007

[Opini] Seringai Penjajah di Balik Jelantah

Produksi minyak kelapa sawit di Indonesia mencapai 16 juta ton per tahunnya. Tapi dari jumlah sebanyak itu, hanya 25 persen yang diperuntukkan bagi bangsa sendiri (sumber: Buletin Malam—RCTI, 16/6/2007). Selebihnya dijadikan komoditi ekspor. Tarif ekspor produk CPO dan produk turunannya memang telah dinaikkan per hari Jumat kemarin, 15 Juni 2007. Namun penaikan tarif yang cenderung reaksioner ini pun tidak terlalu signifikan; 5 persen saja—yakni dari awalnya 1,5 persen menjadi 6,5 persen. Regulasi yang diambil oleh pemerintah kali ini memberi kesan bahwa pemerintah ragu-ragu dalam menanggulangi kelangkaan dan melambungnya harga minyak goreng yang terjadi akhir-akhir ini. Padahal Menteri Keuangan Sri Mulyani Indriwati, di Istana Negara, juga mengatakan; bahwa melambungnya harga minyak goreng di pasaran ini merupakan pengaruh dari indeks harga komoditi ini di pasar internasional. Tapi konsekwensi dari ucapan Sri Mulyani tersebut, nampaknya tidak terlihat pada regulasi pemerintah kali ini.

Barangkali tak banyak masyarakat kita yang tahu, bahwasanya lemahnya regulasi-regulasi pemerintah dalam mengontrol negara merupakan konsekwensi dari keikutsertaan Indonesia dalam agenda-agenda Pasar Bebas, atau yang lebih kita kenal dengan Globalisasi. Dimana di antaranya adalah: deregulasi pemerintah; yakni hak pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan sepenuhnya berada di bawah kontrol negara-negara maju—yang notabene adalah negara-negara investor. Sebab memang negara-negara maju itulah yang selalu memberikan pinjaman-pinjaman kepada negara-negara dunia ketiga, melalui organisasi-organisasi bentukan mereka, seperti: IMF. Imbasnya, regulasi apapun yang dibuat oleh pemerintah, hendaknya tidak menyulitkan negara-negara investor tersebut dalam melanggengkan tujuan dan memperoleh keuntungannya.

Negara-negara dunia pertama adalah negara-negara yang miskin akan sumber daya alam. Namun, mereka memang memiliki modal dan juga menguasai teknologi. Negara-negara dunia ketiga sebaliknya, kaya akan sumber daya alam tetapi tidak memiliki modal dan teknologi. Hal inilah yang memancing inisiatif negara dunia pertama untuk melakukan invasi.

Pada abad ke-19, dari dalam buku-buku sejarah bangsa Indonesia, kita telah mengetahui bahwa bangsa kita pernah dijajah oleh bangsa-bangsa dari negara-negara maju. Mereka menyeberangi lautan untuk menguras sumber daya alam yang kita miliki, untuk kemudian mereka bawa pulang ke tanah airnya. Bahkan untuk mencapai tujuannya ini, para penjajah itu juga mempekerjakan tenaga bangsa kita sendiri. Selain diperbudak, bekerja tanpa diberikan bayaran, petani-petani juga diharuskan membayar upeti kepada pemerintah sistem kolonial (yang kita tahu juga bahwa pada saat itu sistem pemerintahan tersebut tidak hanya diduduki oleh bangsa asing seluruhnya, tapi juga oleh rakyat kita sendiri yang berpihak kepada mereka).

Apabila saat ini kita mengira bahwa bangsa kita telah terbebas dari penjajahan, atau dengan kata lain: telah merdeka, coba kita lihat lagi dengan lebih seksama. Saat ini ekonomi negara kita juga masih belum sepenuhnya lepas dari kebijakan-kebijakan hasil rundingan negara-negara maju (kita mengenal negara-negara ini sebagai negara-negara anggota G8: Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Britania Raya, Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia, serta Uni Eropa). Kita seharusnya sudah bisa menyadari hal ini semenjak pemerintah kita mulai menarik subsidi-subsidi yang diperuntukkan bagi sektor-sektor riil. Kita tahu kini nyaris tidak ada lagi sektor yang tidak dikuasai oleh swasta, bahkan itu sektor pendidikan dan kesehatan. Mahalnya biaya pendidikan ataupun rumah sakit dan obat-obatan adalah imbas dari dihapuskannya subsidi bagi sektor-sektor tersebut. Penghapusan subsidi dan juga pengendoran kendali pemerintah atas pasar ini sesungguhnya bertujuan untuk membuka peluang berkompetisi di antara swasta di dalam pasar itu sendiri. Pasar menjadi bebas dalam artinya tidak lagi dikendalikan oleh pemerintah. Sebab kendali pemerintah hanya akan menyulitkan swasta untuk menguasai pasar dan juga menentukan harga.

Dengan terbuka lebarnya peluang untuk berdagang di pasar, ini mengundang investor untuk menanamkan modalnya pada korporasi-korporasi yang berpotensi untuk menguasai pasar. Sedangkan kita tahu, pedagang manapun tidak pernah ada yang bersedia untuk mengalami kerugian. Dari sini saja kita sudah bisa melihat, bahwa orientasi sistem ini adalah keuntungan. Di sisi yang satunya lagi, negara yang seharusnya berorientasi melindungi kepentingan rakyat telah lepas kendali dengan adanya deregulasi-deregulasi tersebut, yang merupakan konsekwensi dari keikutsertaannya pada agenda Pasar Bebas.

Pasar Bebas memungkinkan swasta berbuat apa saja untuk memperoleh keuntungan. Termasuk di dalamnya mengupah pekerja dengan nilai yang serendah-rendahnya. Dan lagi-lagi, pemerintah tidak mempunyai kendali lagi dalam hal ini (dimana menteri tenaga kerja saat ini pun dipilih dari kalangan yang bukan berpihak pada buruh, karena para investor banyak yang mengeluh dengan peraturan-peraturan yang lebih memihak buruh daripada investor-investor yang siap mengucurkan uangnya di Indonesia).

Maka apakah ada perbedaan yang signifikan antara imperialisme yang pernah ada di tanah air ini pada abad ke-18 dengan kondisi kita saat ini?

Kita sebenarnya berada di bawah imperialisme gaya baru. Apabila dahulu para penjajah itu datang jauh-jauh dari negaranya untuk membawa pulang sumber daya alam kita; kini mereka melakukannya dengan cara yang jauh lebih efektif. Mereka menciptakan pasar di tempat produksi itu sendiri bisa dilakukan. Kita tetaplah budak yang bekerja untuk mereka, memproduksi komoditi-komoditi, kemudian kita jugalah yang harus membeli komoditi-komoditi tersebut untuk bisa mendapatkannya. Sesungguhnya dengan cara ini mereka telah memotong biaya pengiriman bahan mentah ke negara mereka dan juga pengiriman produk jadi ke negara kita. Sebagai contoh, dengan dibangunnya pabrik NIKE di negara kita dan juga negara-negara miskin lain, mereka tidak perlu lagi membangun pabrik NIKE di negara mereka. Sebab dengan upah pekerja murah dan juga perlindungan hak pekerja yang lemah di negara kita (sehingga mereka bisa mempekerjakan pekerja dengan upah rendah dan dengan waktu-kerja yang panjang), mereka telah memotong sekian banyak ongkos yang seharusnya akan mereka keluarkan apabila mereka memproduksinya di negara mereka sendiri. Pertama, adalah ongkos yang mereka keluarkan untuk mengambil dan membawa pulang bahan mentah. Kedua, adalah ongkos produksi yang akan mereka keluarkan untuk mengupah pekerja di sana, yang sudah tentu mempunyai upah minimum regional yang tinggi. Ketiga, adalah ongkos untuk mengirimkan produk yang sudah jadi ke seluruh dunia. Sedang dengan cara yang mereka lakukan saat ini, mereka hanya mengeluarkan ongkos untuk membayar pekerja (itu pun dengan upah yang jauh dari bisa disebut layak, mengingat biaya hidup semakin tinggi—yang itu pun merupakan dampak dari deregulasi pemerintah), dan juga tarif ekspor. Cara ini juga membuat harga komoditi menjadi tinggi di pasar internasional. Pembenarannya adalah ongkos kirim. Tentu ini sudah masuk dalam pertimbangan mereka. Dengan pendapatan per kapita yang tinggi, tentu produk-produk itu tetap mempunyai pasarnya di negara-negara maju tersebut. Dan meski produk-produk tersebut diproduksi di negara kita, tidak menjadikan perbedaan harganya lebih rendah secara signifikan. Produk-produk hasil produsen yang sama tersebut tetaplah mahal, karena keseimbangan pasar bisa terganggu apabila terjadi perbedaan harga yang jauh di antara satu regional dengan regional lain.

Fenomena yang serupa juga terjadi pada komoditi minyak kelapa sawit akhir-akhir ini. Tingginya harga penjualan di pasar Indonesia, selain akibat kelangkaannya yang dikarenakan 75 persen dari hasil produksinya justru menjadi komoditi ekspor, juga karena pengaruh dari harga komoditi tersebut di pasar internasional.

Maka menaikkan tarif ekspor sesungguhnya hanya bisa mereduksi tingkat ekspor komoditi ini dengan lamban. Padahal yang bangsa kita butuhkan sekarang adalah sebuah gerak cepat dari pemerintah untuk meningkatkan limpahan komoditi kelapa sawit di negeri sendiri. Sebab dengan itu, dengan sendirinya harga akan turun (catatan: dengan mengecualikan kemungkinan terjadinya penimbunan di gudang).

Tapi kita tahu, pemerintah kita tidak pernah berani untuk mengambil langkah yang lebih kongkrit seperti: menyetop sama sekali ekspor suatu komoditi, dan menjadikan komoditi tersebut sepenuhnya milik bangsa Indonesia. Dengan dalih yang seperti biasanya, bahwa hal itu akan merusak perekonomian Indonesia di taraf global. Pertanyaannya: apabila terlibat di dalam perekonomian global hanya membuat negara kita, dan juga negara-negara dunia ketiga lain, selalu berada di bawah kendali negara-negara maju (dengan strategi peminjaman hutangnya yang justru meringkus kita ke dalam kebijakan-kebijakan mereka), untuk apa lagi kita ikut serta di dalamnya?

Apabila memang ingin memegang kendali penuh atas komoditi (sumber daya alam), negara kita haruslah merebut kembali semua sektor dari swasta, dan menyerahkannya kepada bangsa sendiri. Untuk itu kita juga harus serius dalam pengembangan ilmu pengetahuan-teknologi dan juga sumber daya manusianya. Sehingga, seluruh sektor bisa benar-benar tidak bergantung lagi kepada swasta dan para investornya. Dan seluruh rakyat bisa mudah mengaksesnya tanpa harus terjegal lagi dengan biaya-biaya yang melangit.

Pasar Bebas hanya menguntungkan investor dan juga pengusaha. Sebab sejatinya ia dieksekusi memang untuk itu. Memerah pada satu bagian, dan menumpuk hasil perahan itu di bagian yang lain. Memperbudak manusia di satu bagian, dan membangun koloni atau kerajaan di bagian lain. Penciptaan kebijakan-kebijakan oleh Dewan Grup Delapan (G8) tanpa mengajak pemerintah negara-negara dunia ketiga untuk berunding, sesungguhnya merupakan cara yang tidak jauh berbeda yang dilakukan oleh penjajah manapun di dunia ini dalam menentukan nasib suatu bangsa jajahan. Sedangkan bangsa yang terjajah, tidak diberi pilihan lain selain hanya untuk mengikuti sistim yang berlaku bagi mereka.

Kita tentu tahu, bahwa selalu ada yang diuntungkan dalam kasus-kasus penjajahan di manapun. Selain dari penjajah itu sendiri, juga selalu ada para penjilat (seperti tokoh demang dalam film ‘si pitung’) yang memperoleh keuntungan dengan membantu melanggengkan kepentingan penjajah. Di negeri kita sendiri, orang-orang itu adalah mereka yang selalu mengatakan bahwa ini semua memang harus terjadi; bahwa yang terpenting adalah investor tetap mau menanamkan modalnya di negara ini. Sementara orang-orang itu seolah tidak pernah mau menoleh kepada kita yang harus bersusah payah mencari alternatif untuk beras dengan membuat nasi aking; mencari alternatif untuk bisa tetap memasak dengan menggunakan minyak jelantah; dan juga kita yang menderita kekurangan gizi, busung lapar, tidak bisa bersekolah (apalagi kuliah), dll. Dan ketika kita tidak mampu mengakses semua itu dikarenakan kita miskin secara ekonomi, mereka menuding kita sebagai orang yang malas untuk bekerja keras. Padahal siapa yang membuat kita terasing dari hak-hak hidup kita sendiri dengan membuat semua itu menjadi mahal?

Masih berpikir bahwa kita telah merdeka? Mengapa tidak kita tanyakan saja pada saudara-saudara kita yang digusur rumahnya atau direbut tanahnya untuk kemudian dilepaskan kepada pihak swasta?[]

10 Juni 2007

Kebebasan Memang Sesuatu yang Harus Kita Raih Sendiri.

Dear Suci,


Dadaku selalu pedih setiap kali mengetahui dirimu sedang sakit. Aku tidak tahu pasti kenapa. Barangkali aku memang iba, meski aku juga tahu bahwa kamu tidak pernah suka dikasihani. Tapi mau bagaimana lagi? Kamu juga yang selalu mengeluhkan hal yang sama padaku di hampir setiap kesempatan kita bertemu. Bahwasanya kamu sudah benar-benar tidak punya lagi waktu untuk dirimu sendiri. Dan bahwasanya kamu sudah mulai merasa tertekan dengan segala sesuatu yang telah menjadi kewajiban. Lima hari dalam seminggu, delapan jam dalam sehari, kamu wajib berada di kantor untuk mengerjakan sesuatu yang aku tahu tidaklah mudah. Sementara pada dua hari sisanya kamu juga harus menunaikan kewajibanmu yang lain. Kuliah. Akhirnya tidak ada yang bisa kuperbuat untukmu dalam menyikapi setiap keluhanmu, selain menghela nafas dan berkata kepada diriku sendiri tentang betapa kasihannya dirimu.

Kamu masih ingat Minggu pagi lalu, saat aku sedang berada di Bandung, dan kamu menelponku? Saat itu sebetulnya aku baru saja hendak memejamkan mata setelah sepanjang malam tidak tidur. Kamu tahu, aku bukan orang yang punya penyakit sulit tidur, ataupun punya kecenderungan tidak bisa tidur di rumah orang lain. Melainkan memang malam itu menurutku terlalu sayang apabila kulewatkan dengan tidur. Karena beberapa kawan dari Apokalips ikut menginap bersamaku di rumah yang kutumpangi tersebut (kamu masih ingat kan dengan grup anti-otoritarian yang dulu sempat kuceritakan ini?). Iya, malam itu ada sekitar tujuh orang berada di dalam satu kamar; termasuk aku dan si pemilik kamar yang notabene juga termasuk salah seorang dari Apokalips. Kami memang tidak mendiskusikan sesuatu yang besar seperti kapitalisme, korporasi multinasional ataupun revolusi. Sebaliknya sepanjang malam itu kami hanya isi dengan obrolan-obrolan tidak penting yang diselingi dengan berbalas kentut. Tapi mungkin itulah yang sedang kucari; suasana santai yang bisa mengendurkan urat-urat di dahi yang, kuakui, akhir-akhir ini sedikit menegang karena mencoba menekuni beberapa buku teoritik sekaligus.

Dan pagi itu, ketika semua kawan sudah tidak ada yang bersuara lagi—kecuali dengkuran dari seorang kawan yang mengambil tempat di sofa—ponselku berdering. Itu kamu. Kemudian via telepon itu, setelah kamu mengatakan bahwa kamu sedang mengalami sakit yang hebat di bagian belakang kepala, kita berbicara sekitar satu jam lamanya.

Dalam kondisi benar-benar mengantuk seperti itu, aku tidak bisa mengingat banyak poin pembicaraan kita. Satu yang bisa kuingat dengan jernih adalah seputar keluhanmu. Keluhan yang sama, yang selalu kudengar dari waktu ke waktu. Tentang kejenuhanmu pada rutinitas yang selalu kamu jalani setiap hari, yang pada pagi itu kamu akui telah membuatmu depresi. Aku juga ingat saat kamu berkata bahwa kamu iri padaku yang telah bisa menemukan komunitasku sendiri; yang dengan itu aku bisa memperjuangkan sesuatu secara komunal. Saat itu aku tidak menanggapi ucapanmu terlalu serius. Sebetulnya aku ingin menjelaskan padamu untuk yang kesekian kalinya bahwa untuk bisa sampai pada titik ini, aku memang telah melewati suatu proses yang tidak sebentar. Bukan sesuatu yang instan. Antara lain aku harus mengatasi ketakutan-ketakutanku satu persatu, berdialektika, dan seterusnya. Tapi saat itu aku hanya berkata: kamu juga bisa, dan kamu bisa memulainya dengan menjalin pertemanan.

Aku akui saat itu aku memang kejam dengan memojokkan kamu yang selama ini selalu berusaha mencari kawan-kawan itu lewat dunia maya. Sesuatu yang saat itu aku sempat sebut sebagai sebuah pelarian dari ketidakmampuan kamu keluar dari kungkungan rutinitas. Tapi pasti aku akan lebih menyesal jika tidak mengutarakannya padamu. Karena itu memang kenyataan objektif.

Lihatlah apa yang terjadi di sekitar kamu akhir-akhir ini. Betapa nyaris semua buah teknologi saat ini telah menjadi sesuatu yang nyaris lepas dari nilai-pakai mereka. Betapa nilai-pakai pesawat televisi seolah-olah telah bergeser dari media informasi, menjadi sesuatu yang bisa memberikan kita penghiburan di tengah-tengah dunia yang sengkarut dan seolah-olah tidak ada harapan untuk diperbaiki. Aku sudah malas untuk mengkritisi metode sinetron-sinetron, infotainment ataupun reality show dalam membuat orang merasa seolah-olah hidup di dalamnya itu sehingga bisa menafikkan realita yang sesungguhnya. Karena aku pun sudah sering menyampaikannya padamu.

Tapi aku juga ingin kamu menyadari, bahwa internet pun juga punya potensi yang sama untuk lepas dari kodratnya. Sebab aku tahu, setiap hari kamu berada di sana. Kamu selalu antusias ketika mendapatkan satu forum baru yang di dalamnya terdapat orang-orang yang bisa mengimbangi pembicaraanmu. Ataupun ketika menemukan situs yang memberimu kesempatan untuk berkontribusi pada suatu petisi dengan hanya mengklik tombol ‘vote’.

Suci, aku ingin kamu tahu, dunia yang sebenarnya tidaklah serapi itu! Kamu tidak bisa menyelesaikan kemiskinan hanya dengan menutup window. Kamu tidak bisa menyampaikan uneg-unegmu pada setiap orang yang kamu temui di jalanan hanya dengan menitipkan surat pada mereka lalu pergi begitu saja. Dalam ‘dunia offline’ ini, tidak semudah itu untuk bergerak tanpa meninggalkan jejak. Dan sialnya, kita memang harus tidak terlacak sama sekali apabila ingin bebas, bukan? Iya. Karena itulah kamu, aku, siapa saja akan merasa lebih nyaman untuk melakukan apapun di dunia maya. Karena di sana kita bisa bebas berbicara dengan menggunakan nama orang lain, ataupun tanpa nama. Bahkan karena sudah terlalu biasnya soalan identitas dalam dunia maya itu, terkadang orang lain tidak akan tahu lagi apakah Suci adalah nama aslimu ketika kamu benar-benar mencantumkan nama itu di bagian bawah emailmu, atau di blogmu.

Dan lihatlah sekarang keluar jendela kantormu (apabila saat ini kamu sedang berada di kantor), adakah satu jengkal saja ruang yang bisa dengan mudah kamu klaim sebagai rumahmu semudah kamu membuat blog? Tidak. Karena apapun yang bisa terlihat berarti objek. Sementara semua objek adalah komoditi selama ia mempunyai nilai-pakai. Ini berlaku pada semua bentuk masyarakat. Masyarakat primitif pun akan mengakui bahwa babi hutan adalah komoditi, karena nilai-pakainya yang bisa memenuhi kebutuhan manusia akan makanan. Tapi dalam bentuk masyarakat kita saat ini, komoditi ternyata tidak hanya sekadar menjadi pemenuhan kebutuhan hidup, Suci! Ia telah berubah fungsi menjadi alat akumulasi modal.

Yang ingin aku katakan padamu adalah: hidup yang sebenarnya tidaklah mudah, Suci. Tidak ada yang mudah pada kenyataannya, bahkan hanya untuk sekadar berpikir dan berbicara. Tidak seperti di internet yang memberikan kamu ruang leluasa untuk memikirkan apa saja: di internet kamu bahkan bisa menjadi seorang komunis yang benar-benar mengerti betul setiap inchi peta pemikiran Karl Marx tanpa perlu merasa takut dipenjara dengan membuka marxist-dot-org. Kamu bisa memaki-maki sby-jk tanpa perlu merasa takut ditahan dengan mengisi kolom komentar di situs indymedia. Kamu bisa menjadi seorang revolusioner di dunia maya, Suci!

Dan tahukah kamu kalau dunia maya kini sudah tidak selalu memerlukan koneksi internet? Iya, Suci. Akibat dari terlalu seringnya kamu hidup di dunia maya (internet) itu—bahkan dalam duapuluh empat jam yang kamu punya, bisa mencapai 70 persen hidupmu berada di sana—kamu merasa bahwa hidupmu yang sebenarnya berada dalam dunia maya itu. Kamu merasa cukup hanya dengan memiliki kawan-kawan yang tidak pernah kamu lihat wajahnya itu, kamu merasa cukup berbicara pada mereka hanya dengan mempergunakan keyboard komputermu, kamu merasa telah berbuat sesuatu untuk dunia hanya dengan membicarakan soal G8, WTO, atau pemanasan global bersama teman-teman mayamu. Kamu merasa revolusioner dan telah membuat perubahan! Dunia maya membuatmu merasa cukup untuk berada di sana saja, sementara dunia yang sebenarnya tetap berjalan sama seperti saat terakhir kamu tinggalkan—kamu tidak pernah berkontribusi pada dunia sebenarnya karena kamu tidak hidup di sana, apalagi menyentuhnya.

Coba kamu pikir, bukankah itu yang diinginkan oleh mereka? Iya, mereka yang tidak ingin dunia seperti sekarang ini mengalami perubahan, mereka yang ingin mempertahankan dunia seperti sekarang ini, mereka yang ingin mempertahankan status-quo. Sangat mudah bagi mereka untuk membuat dunia seperti sekarang ini bertahan lama, bahkan untuk limapuluh tahun ke depan. Mereka tinggal membuatmu jauh dari dunia ini. Mereka membuat dunia ini sama sekali tidak tersentuh olehmu. Caranya selain menawarkan dunia internet padamu, mereka kini menjual buku-buku yang revolusioner seperti buku-buku Che Guevara, Subcommandante Marcos, atau Karl Marx dengan bebas. Sebab mereka tahu, dengan mereka menawarkan sebuah dunia maya dimana kamu bisa memikirkan sebuah perubahan di sana, dan kamu menerimanya dengan senang hati, perubahan itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah.

Justru kamu menjadi begitu mudahnya untuk diarahkan menjadi konsumen pasif. Konsumen, karena untuk bisa memperoleh buku-buku ataupun kaos-kaos yang berhubungan dengan tokoh-tokoh revolusioner itu—sehingga kamu bisa merasa sangat revolusioner—kamu harus membelinya. Pasif, karena pada akhirnya kamu tidak pernah menyentuh dunia sebenarnya, dan perubahan yang kamu dan teman-temanmu bicarakan hanya sebatas wacana dunia maya, bacaan di buku-buku, tontonan di televisi. Sementara impuls-impuls untuk bergerak itu tidak pernah menjadi apa-apa karena selalu tertahan di tataran ide. Kalian tidak pernah tergerak untuk mulai menjadi produsen perubahan itu secara aktif!

Lihatlah bagaimana kini kawan-kawanmu di dunia maya, yang terlihat revolusioner dengan pemikiran-pemikirannya, tetap tidak bisa berbuat apapun pada kondisi sosial. Bagaimana mereka berpikir bahwa kesenjangan sosial dapat terselesaikan cukup dengan menyisihkan recehan untuk para pengamen dan anak jalanan. Bagaimana mereka berpikir bahwa hanya dengan mentransfer sejumlah uang pada rekening bank LSM-LSM yang mengatasnamakan ‘kepedulian sosial’, mereka telah berbuat banyak. Ini adalah sebuah paradigma bawaan dari dunia maya yang membuat mereka merasa tidak perlu bersentuhan langsung dengan kenyataan—dengan ‘dunia offline’. Tapi apakah memang sesederhana itu untuk berkontribusi pada dunia?

Kalau memang perubahan sosial bisa terjadi hanya dengan merogoh uang dari kantong, tentu aku akan lebih memilih melakukannya ketimbang capek-capek mengorganisir komunitas dan melakukan kampanye melawan neoliberalisme. Pada kenyataannya, perubahan tidak bisa dibuat. Perubahan harus dilakukan! ‘Membuat perubahan’ berarti kita duduk di suatu tempat, seperti tuhan yang merancang semesta, dengan ekspektasi segala materi di sekitar kita akan bisa bergerak seperti yang kita inginkan. ‘Melakukan perubahan’ berarti kita sendirilah yang ikut bergerak, aktif. Kita tidak bisa membuat orang lain mengerti mengenai dunia seperti apa yang kita dambakan hanya dengan berbicara saja. Tapi kita bisa langsung menciptakan dunia itu dengan ikut bergerak. Ini yang kumaksud dengan ‘kamu bisa memulainya dengan menjalin pertemanan’, membangun komunitas, dan kemudian membuat jejaring antar komunitas yang kamu suka.

Aku sudah sering mendengar apologimu mengenai betapa sempitnya waktu yang bisa kamu pergunakan untuk itu. Seharian bekerja di kantor, membuatmu merasa terlalu lelah untuk melakukan aktifitas lain di sisa waktunya. Kamu lebih memilih menggunakannya untuk beristirahat, mengingat keesokan harinya sudah harus berada lagi di kantor dan mengerjakan sesuatu yang berat. Padahal ‘tidak punya waktu lain selain untuk bekerja’, itu juga sebenarnya yang mereka inginkan dan ciptakan.

Kita adalah objek, Suci. Dan kita mempunyai nilai-pakai. Karena itu kita juga komoditi. Mereka, para pemilik modal dan pemiliki alat produksi, telah membeli kita untuk mereka jadikan alat akumulasi modal. Mereka tidak bisa lagi melihat kita sebagai manusia yang memiliki kehidupan. Di mata mereka, kita adalah komoditi. Komoditi yang harus bisa memberikan mereka keuntungan sebesar-besarnya. Dan aku tidak hanya sedang berbicara mengenai keahlian di sini. Aku berbicara mengenai waktu yang kamu dan aku miliki, yang bisa mereka pergunakan untuk memproduksi apa-apa yang mereka bisa jual. Sebab dari situlah mereka memperoleh keuntungan nantinya.

Kamu pikir bagaimana mereka bisa mempertahankan perusahaan tempatmu bekerja itu tetap eksis hingga detik ini? Apakah kamu pikir mereka bisa terus menerus memperoleh profit hanya dari apa yang mereka bisa jual? Tidak, Suci! Profit yang mereka dapatkan sesungguhnya berasal dari hasil kerjamu. Sekarang aku tanya padamu, berapa rupiah mereka membelimu? Ohya, ‘membeli’ di sini mengacu pada premis bahwa kamu adalah komoditi. Mereka membelimu dengan harga, semisal, dua juta rupiah. Dan uang sejumlah itu selalu mereka bayar padamu setiap bulan. Itu adalah hargamu sebagai komoditi.

Ada perbedaan signifikan dari dua bentuk masyarakat yang menjadikan komoditi sebagai tujuan akhir dan yang menjadikan uang sebagai tujuan akhirnya. Awalnya segala sesuatu di muka bumi ini adalah bebas untuk kita ambil sesuai dengan yang kita butuhkan. Bagi masyarakat yang bermata pencaharian berburu, komoditi yang mereka punya adalah hasil buruan. Sementara bagi masyarakat bermata pencaharian bertani, komoditi mereka adalah hasil tani. Tapi komoditi tidak akan mempunyai nilai-pakai apabila komoditi tersebut sudah mereka miliki. Sebaliknya, komoditi akan mempunyai nilai-pakai karena komoditi tersebut tidak mereka miliki. Seperti hasil tani yang menjadi sesuatu yang punya nilai-pakai oleh masyarakat pemburu, dan sebaliknya. Karena itulah sesuatu itu harus dipertukarkan. Sebab segala sesuatu yang mempunyai kualitas yang berbeda memang harus dipertukarkan—yang tentunya harus dengan kuantitas yang setara. Dalam bentuk masyarakat seperti ini, semua orang bekerja untuk dirinya sendiri. Dan kegiatan produksi masih merupakan suatu kegiatan manusia untuk menghasilkan kebutuhan hidupnya. Seperti seorang pemburu yang harus berburu karena memang ia membutuhkan makanan untuk hidup. Untuk bisa memperoleh nilai-pakai atas suatu komoditi, seseorang harus mau mempertukarkan komoditi yang ia punya dengan komoditi yang tidak ia punya. Pada bentuk masyarakat seperti ini, tidak ada penumpukan komoditi, sebab komoditi pada akhirnya menjadi sesuatu yang habis dipakai. Sementara untuk menghasilkan komoditi lagi, mereka harus bekerja untuk memproduksi lagi, mempertukarkan lagi apa-apa yang tidak mereka butuhkan dengan yang mereka butuhkan, dan begitu seterusnya. Namun lain halnya dengan bentuk masyarakat yang telah mengubah ‘pertukaran komoditi’ itu dengan ‘sirkulasi komoditi’. Sirkulasi komoditi pada bentuk masyarakat ini mempunyai kemungkinan untuk menghasilkan akumulasi kekayaan. Tapi akumulasi ini bisa, dan hanya bisa, diperoleh dari membeli komoditi tersebut dengan harga yang lebih rendah dari nilai-pakainya itu sendiri.

Seperti yang aku sebut tadi bahwasanya kita, pekerja, adalah suatu komoditi bagi para pemilik modal dan alat produksi. Karena itu kamu juga harus bisa menerima kenyataan bahwa mereka membeli kita dengan suatu harga; harga yang seharusnya setara dengan nilai-pakai itu sendiri. Di sini kamu perlu untuk mengerti apakah nilai tenaga kerja itu sendiri, sebelum kamu bisa memutuskan sendiri apakah harga yang mereka tentukan padamu sudah setara dengan nilai-pakai itu.

Dalam bentuk dan kondisi masyarakat sekarang, para pemilik modal menemukan suatu komoditi yang memiliki sifat khusus, yang penggunaannya merupakan suatu sumber nilai baru, merupakan suatu penciptaan nilai baru. Komoditi ini adalah kita; tenaga kerja.

Nilai setiap komoditi diukur dengan kerja yang diperlukan bagi produksinya. Komoditi yang satu ini, tenaga kerja, berada dalam bentuk pekerja yang hidup, yang memerlukan sejumlah tertentu kebutuhan hidup bagi dirinya sendiri dan untuk keluarganya, yang menjamin kesinambungan tenaga kerja. Karenanya, waktu-kerja yang diperlukan untuk memproduksi kebutuhan-kebutuhan hidup hidup ini mewakili nilai tenaga kerja. Nilai ini selalu mereka bayar pada kita dalam berbagai periode, umumnya sebulan sekali.

Kamu bingung? Oke, sekarang bayangkan apa yang tidak kamu miliki tapi sesungguhnya kamu butuhkan. Untuk bisa memperoleh komoditi tersebut, kamu harus mengeluarkan sejumlah nilai yang kamu berikan pada orang yang memilikinya. Pertukaran nilai ini adalah sesuatu yang niscaya apabila merujuk pada prinsip bahwasanya ‘segala sesuatu yang mempunyai kualitas yang berbeda memang harus dipertukarkan’. Kamu memperoleh nilai-pakai dari komoditi yang kamu dapatkan, dan si orang tadi memperoleh nilai-pakai dari apa yang kamu berikan padanya. Apakah nilai itu berupa uang ataupun komoditi lain, tidak kita persoalkan di sini. Tapi kita asumsikan saja bahwa nilai tersebut telah bermanifestasi ke dalam suatu bentuk-nilai, uang. Intinya, untuk bisa memperoleh komoditi yang nilai-pakainya kamu butuhkan tersebut, kamu harus menukarnya dengan nilai yang setara, yang parameternya adalah ‘kerja yang diperlukan’ bagi produksi komoditi tersebut.

Kamu bisa menjadi kaya dengan jalan menjual lagi apa yang kamu dapatkan dari orang tersebut dengan nilai yang lebih tinggi lagi. Penjelasannya seperti ini: Kamu memiliki uang sebanyak Rp. 10.000,-. Uang tersebut kamu gunakan untuk membeli barang—silakan bayangkan sendiri, barang apa yang bisa kamu dapatkan dengan uang sejumlah itu. Kini kamu sudah mempunyai sebuah barang dengan harga yang mungkin hanya kamu sendiri yang tahu. Untuk memperoleh akumulasi kekayaan darinya, kamu hanya tinggal menjual lagi kepada orang lain dengan harga yang lebih tinggi; Rp. 15.000,-, misalkan. Apabila kita gambarkan, sirkulasinya menjadi seperti ini: Uang – Barang – Uang = Rp. 10.000,- menjadi Barang menjadi Rp. 15.000,-. Maka dari satu proses yang kamu lakukan, kamu telah memperoleh keuntungan Rp. 5000,-. Itulah kapital. Sementara, uang sejumlah Rp. 10.000,- di tangan bisa kamu pergunakan untuk membeli barang lagi untuk kemudian kamu jual lagi dengan cara yang sama. Begitu seterusnya.

Dalam corak seperti di atas, kegiatan produksi manusia tidak lagi berorientasi pada pemenuhan kebutuhan hidup. Melainkan untuk mengakumulasi kapital. Dari sini saja ada sesuatu yang absurd yang terlihat dengan jelas. Proses pertukaran yang terjadi dengan corak seperti itu apabila disederhanakan sesungguhnya hanyalah seperti menukarkan nilai Rp. 10.000,- dengan nilai Rp. 15.000,-. Kita sudah melenceng dari prinsip, Suci! Prinsip bahwasanya ‘hanya kuantitas yang setara saja yang harus dipertukarkan’ seolah-olah telah kita nafikkan begitu saja. Dengan keluarnya kita dari ‘keseimbangan’ seperti ini, aku rasa kita sedang hidup di dalam dunia yang tidak sehat dan menuju kehancurannya.

Gajah-gajah diburu dengan brutal di Afrika, tanpa mempertimbangkan kelangkaannya; hanya karena kini di pasar harga daging mereka justru jauh lebih mahal dari harga gadingnya sendiri. Penebangan liar terus terjadi di hutan-hutan tropis, bukan sekadar untuk kebutuhan hidup seperti membangun rumah, tapi dijual, diekspor dengan harapan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Sumber mata air dieksploitasi oleh korporasi-korporasi, sehingga beberapa daerah mengalami kekeringan; dan penduduk setempat pada akhirnya tidak punya pilihan lain, selain membeli air mineral dalam kemasan produksi korporasi tersebut demi bisa mendapatkan air minum. Dan masih banyak lagi dampak keserakahan manusia yang membuat alam ini menjadi tidak seimbang.

Kita bisa melihat saat ini di setiap sudut bumi orang-orang berkompetisi untuk mengklaim sesuatu sebagai hak-miliknya. Orang-orang memprivatisasi apa-apa yang seharusnya bisa diakses oleh siapa saja. Ini adalah konsekwensi dari bentuk masyarakat yang ada sekarang. Aku tadi sempat mengatakan bahwa tidak ada sejengkal pun ruang di luar sana yang bisa dengan mudah kamu klaim sebagai rumahmu. Semua orang telah memperebutkan tanah di muka bumi ini jauh sebelum kita berdua lahir. Nyaris tidak ada ruang yang selamat dari perilaku ketamakan mereka itu. Yah, sebenarnya kita juga tidak bisa langsung menyalahkan pihak-pihak yang telah lebih dahulu ‘menancapkan bendera’ mereka di atas tanah-tanah itu sebagai bukti bahwa itu adalah milik mereka. Sebab dalam sistem seperti ini, hanya ada dua pilihannya: ‘memakan atau dimakan’, ‘menguasai atau dikuasai’. Kita ada di mana, Suci?

Sebagai orang-orang yang tidak mempunyai aset produksi, kita bernasib menjadi subordinat. Diperbudak. Mau tidak mau kita harus bekerja untuk mereka yang mempunyai aset produksi. Itu satu-satunya cara apabila kita ingin tetap bertahan hidup. Mau tidak mau kita harus rela ketika diri kita pun dilabeli harga sebagai sebuah komoditi. Iya, mereka, para pemilik aset produksi itu, telah membeli kita. Membeli waktu kita. Berapa harga waktumu, Suci? Dua juta rupiah per delapan jam?

Kamu masih ingat dengan pelencengan prinsip yang mereka lakukan pada ‘proses pertukaran’; bahwa hanya yang berkuantitas setaralah yang harus dipertukarkan? Pada kita pun ternyata mereka melakukan hal yang sama. Keputusan mereka untuk menjadikan kita, tenaga kerja, sebagai komoditi ternyata merupakan sebuah keputusan yang cerdas. Sebab pada kita, mereka melihat ada suatu nilai baru yang bisa mereka peroleh dengan jalan mempekerjakan kita: yakni produk itu sendiri. Apabila mereka membeli ‘komoditi yang tidak bekerja’ untuk mereka jual dengan nilai yang lebih tinggi, kapital yang mereka peroleh hanyalah dari hasil penjualan komoditi tersebut. Tapi dengan membeli waktu kita, mereka memperoleh profit yang lebih banyak.

Pertama, mereka membeli waktumu [nilai-pakaimu] dengan nilai yang mereka tentukan sendiri. Kedua, kamu harus menukarkan waktumu [nilai-pakaimu] yang telah mereka bayar dengan jalan memproduksi komoditi yang nantinya mereka bisa jual lagi (ket: nilai yang mereka gantikan untuk nilai-pakaimu ini sesungguhnya adalah nilai yang mereka perhitungkan untuk kamu memproduksi/mengkonsumsi kebutuhan hidupmu sendiri seperti makanan, transportasi, obat-obatan di kala kamu sakit—yang sebetulnya kalau kamu hitung-hitung jumlah itu tidak pernah cukup untuk membiayai semuanya, bukan? Pada titik ini, bagi mereka baru terhitung impas. Impas karena kamu telah menggantikan nilai (rupiah) yang mereka berikan padamu dengan waktumu untuk memproduksi komoditi dalam jumlah yang setara. Tapi tentu bukanlah kapitalis apabila membeli sesuatu untuk menjualnya demi mendapatkan nilai yang setara (sekali lagi, ingat pelencengan prinsip ‘proses pertukaran’). Sesungguhnya, bagaimana perusahaan tempatmu bekerja itu bisa tetap eksis hingga detik ini adalah karena mereka tidak mempertahankan ‘kesetaraan pertukaran’. Karena kalau mereka membayar pekerjanya hanya untuk memperoleh waktu kerja yang telah dibayarkannya, perusahaan ini telah tutup sejak dahulu, karena labanya adalah nol! Penjelasannya hanya satu: kita telah memberikan nilai-pakai kepada mereka lebih banyak dari nilai yang mereka gantikan.

Mereka membeli waktu delapan jammu dalam sehari dengan bayaran sekitar Rp. 90.000,- (ini setelah aku mengasumsikan bahwa gajimu sebulan adalah Rp. 2.000.000,- dan kemudian aku membaginya dengan 22 hari kerja, 8 hari libur dalam 30 hari). Tapi untuk memperoleh kapital itu, dalam waktu delapan jam dalam satu hari, kamu diharuskan untuk memproduksi komoditi yang jauh melebihi nilai yang telah dibayarkan padamu. Mungkin mereka berekspektasi bahwa kamu seorang bisa memproduksi komoditi yang senilai Rp. 100.000,- atau Rp. 95.000,-. Tidak jadi soal berapa besarnya. Seratus rupiah ataupun satu rupiah pun, kelebihan tetaplah kelebihan. Kapital tetaplah kapital. Itu adalah sesuatu yang tidak dibayarkan padamu. Itu adalah kerjamu yang tidak dibayar. Lalu untuk apa kamu bekerja lebih jika kelebihan kerja itu tidak dibayarkan padamu? Untuk siapa sebetulnya kamu bekerja, jika kita kembali lagi pada definisi ‘produksi adalah kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya’? Sederhana, kamu bekerja untuk mereka sementara mereka asyik-asyikan duduk, tidak mengerjakan apa-apa, dan menikmati hasil dari kelebihan kerjamu yang terus-menerus mengalir itu.

Mereka mungkin mempunyai pembenaran untuk melakukan hal tersebut. Karena memang merekalah yang menguasai aset produksi yang tidak pernah kamu miliki. Tapi tidakkah kamu merasa aneh bahwa ada privatisasi atas sesuatu yang tadinya bebas dan bisa kamu garap sendiri, kini harus dikuasai oleh person-person tertentu supaya mereka bisa menjadikanmu pekerja bagi mereka, sementara mereka sendiri duduk santai menunggu kapital itu mengalir pada mereka.

Kamu mengadu padaku bahwa kepala bagian belakangmu sedang sakit. Waktu itu dengan agak semena-mena aku mengatakan bahwa itu akibat bahwa kamu terlalu banyak bekerja, hingga melupakan waktu untuk bermain. Aku tidak main-main. Bekerja pada mereka memang akan membuat hidupmu terbunuh.

Terlepas dari sakit fisik dan psikis yang sekarang sedang kamu derita akibat rutinitas harian yang harus kamu jalani itu, bekerja pada mereka juga berarti menjual waktumu untuk memproduksi sesuatu yang nantinya juga tidak menjadi milik kamu. Apa yang bisa kamu miliki hanyalah uang, bukan komoditi-komoditi yang sejatinya kamu butuhkan. Sementara untuk memperoleh komoditi-komoditi itu kamu harus menukarkan lagi dengan uang yang kamu dapat dari mereka itu. Tapi apakah iya, sisa waktu delapan jam kamu punya dalam sehari (setelah direduksi oleh waktu kerja delapan jam, dan waktu tidur delapan jam) hanya dipergunakan untuk membeli dan mengkonsumsi? Untuk itukah kamu hidup?

Kamu mengungkit lagi soal betapa beruntungnya aku karena telah menemukan komunitas. Tidak, Suci. Ini bukan soal keberuntungan. Ini soal usaha apa yang kita lakukan untuk bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan. Aku memang membutuhkan komunitas ini untuk mengusahakan dunia yang aku cita-citakan. Sebab aku memang menyadari bahwa dunia sekarang ini tidak sedang baik-baik saja. Aku tidak akan pernah memaksa kamu, ataupun siapa saja, untuk ikut berpikir bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja. Kamu punya hak untuk menerjemahkan dunia ini dengan cara yang kamu sukai. Karenanya akan sangat melelahkan bagiku sendiri untuk mengatakan ini semua kepada orang-orang yang tetap merasa tidak ada yang salah di dunia sekarang ini. Tapi aku tahu, kamu memang ingin tahu ini semua. Sebab kamu memang orang yang banyak bertanya (karena itu kamu masih tetap tekun membaca sampai pada baris ini, bukan?).

Ada kenyataan objektif yang akan tetap ada walaupun kita tidak meyakininya. Semisal bumi yang berputar pada porosnya; ia akan, dan memang telah, bergerak seperti itu walaupun kita berpikir bahwa bumi itu tidak berputar—atau bahkan kotak! Sama seperti sistem kapitalisme yang sekarang sedang menjelajahi setiap ruang hidup kita, ia akan tetap ada walau kita tidak mempercayainya. Kamu bisa pergi tidur dan memimpikan sesuatu yang indah dalam tidurmu, tidak ada kapitalisme di sana, tidak ada penguasaan manusia atas manusia, tapi yang namanya kenyataan objektif akan tetap ada walau kita berusaha menutup mata darinya. Intinya, apabila kita tidak peduli, apalagi berkontribusi untuk melakukan perubahan, maka kenyataan objektif yang sama yang akan tetap kamu temui sekembalinya kamu dari mimpi indahmu itu.

Sabtu sepekan yang lalu (30/5/2007) di Jawa Timur, tepatnya di Alas Tlogo Pasuruan, telah terjadi lagi satu insiden berdarah. Persoalannya adalah sengketa atas tanah yang memang telah berlangsung semenjak tahun 1970an. Klimaks dari persengketaan antara warga dengan pasukan marinir tersebut menimbulkan korban jiwa pada pihak warga. Setiap media-massa boleh saja menggambarkan apapun, seperti yang diakui oleh Komandan Korps Marninir Mayor Jenderal Safzen Noerdin, bahwa warga yang tiba-tiba menyerang lebih dahulu. Tapi kita juga seharusnya mengerti, bahwa tidak akan ada reaksi apabila tidak ada aksi yang mendahuluinya.

Kasus sengketa tersebut memang telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri Bangil dengan Angkatan Laut sebagai pemenangnya pada akhir Maret lalu. Tapi tidak berarti kemudian hak akses atas tanah tersebut telah sepenuhnya menjadi milik Angkatan Laut. Sebab faktanya ada poin-poin utama di dalam perjanjian kesepakatan belumlah dipenuhi oleh pihak-pihak yang berkewajiban untuk itu. Relokasi ganti rugi tanah sebanyak 500 meter persegi untuk tiap keluarga belum lagi diwujudkan, namun TNI-AL telah mengijinkan PT. Rajawali Nusantara untuk menggarap tanah sengketa. Padahal bersamaan dengan itu, warga juga sedang meminta banding. Hal ini yang membangkitkan amarah warga Alas Tlogo pada pihak yang telah mengklaim tanah warisan leluhur mereka tersebut.

Warga Alas Tlogo barangkali tidak pernah memahami soal kapitalisme ataupun privatisasi seperti kamu memahaminya. Tapi mereka tahu, bahwa dengan adanya perebutan tanah secara paksa seperti itu, berarti mereka telah kehilangan hak untuk mengolah tanah mereka sendiri. Dan dengan adanya represifitas dari pihak marinir pada Sabtu pagi itu, mereka menjadi semakin mengerti bahwa dunia ini memang tidak sedang baik-baik saja. Bahwa negara ini memang lebih melindungi kepentingan seseorang daripada kehidupan mereka. Peluru-peluru tajam yang bersarang di tubuh saudara-saudara mereka menjadi buktinya.

Ini bukan satu-satunya kasus yang memberi afirmasi pada kita mengenai betapa represifnya negara pada orang-orang yang sejatinya berjuang atas hak-hak hidup mereka. Ini hanyalah kasus kesekian setelah kasus-kasus sebelumnya yang terjadi di Banyuwangi, Rumpin, Argabinta, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Papua Barat, dan lain-lain. Kasus ini juga adalah salah satu calon lagi kasus yang pastinya akan simpang siur, seperti kasus-kasus sebelumnya. Karena di bawah sistem ini para tentara tak pernah bersalah. Mereka justru selalu benar karena hanya menjalankan tugasnya dalam membela negara dan menjaga stabilitas negara. Maka persis seperti apa yang dikatakan oleh Safzen, bahwa yang selalu bersalah dalam kasus-kasus semacam ini adalah rakyat. Kita, yang menolak untuk tunduk pada sistem yang telah menjelajahi setiap ruang hidup kita. Kita tidak pernah lagi punya hak untuk menolak ikut serta dalam melanggengkan kepentingan mereka. Karena menolak berarti melawan. Dan perlawanan bagi mereka hanya cocok dengan satu hal: represifitas.

Semenjak aku sadar bahwa aku memang harus berbuat sesuatu, tidak hanya pasrah mengikuti kemauan sistem ini dengan pola hidupnya: bekerja dan mengkonsumsi, aku telah sebisa mungkin mencari ruang dimana aku bisa bergerak dan bersuara seperti apa yang aku inginkan. Aku telah sampai pada titik ini. Dan titik ini tidak memberi aku kemungkinan untuk kembali. Aku telah terlibat terlalu jauh, Suci. Memasuki grup-grup anti-otoritarian, melakukan kampanye melawan neoliberalisme, mengikuti aksi-aksi dengan organ-organ mahasiswa maupun buruh; aku telah terlibat terlalu jauh. Aku telah menganalisa sistem ini dengan secermat mungkin, dan akhirnya sampai pada satu kesimpulan: bahwa sistem ini harus tumbang!

Maka sehari setelah kamu menelponku itu, Senin pukul sepuluh di pagi hari, aku sudah berada di Monumen Perjuangan, Jalan Dipati Ukur, Bandung. Aku berada di sana karena menerima ajakan dari kawan-kawan Apokalips semalam sebelumnya untuk ikut ‘turun ke jalan’ bersama Solidaritas Anti Kekerasan, SOAK. Aliansi ini merupakan bentukan dari beberapa organ. Aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu karena aku tidak bisa mengingat semuanya. FMN, FAMU, KMD, KAMMI—itu adalah beberapa organ dari mahasiswa yang kuingat. Sementara sisanya, yang bukan dari bentukan mahasiswa, termasuk Apokalips sendiri, kemudian ada dari Walhi, SP-FKK PT. DI yang mewakili buruh, dan juga dari tani. Saat itu aku mengenakan pakaian hitam-hitam, juga mengenakan kafiah sebagai penutup wajah—karena memang aku tergabung dengan grup Apokalips. Ada sekitar sembilan orang dari Apokalips yang saat itu hadir. Jumlah ini tentu cukup melegakan, mengingat Apokalips hanyalah satu dari banyak organ lain yang turun ke jalan pagi itu.

Meski kami turun atas nama aliansi SOAK, setiap organ pada pagi itu membawa panji mereka masing-masing. Begitu pula dengan Apokalips. Kami membawa bendera hitam berukuran besar, yang di tengah-tengahnya terdapat simbol ‘Circle-A’. Kamu tentu tahu arti dari simbol itu, bukan? Iya, ‘anarki’. Karena memang kami adalah para anarkis, meski belum banyak juga yang tahu akan hal ini. Lagipula itu juga tidak terlalu penting. Malahan sebaliknya ini bisa menjadi semacam masalah apabila diketahui oleh para organ kiri ortodoks yang tidak mau membuka dirinya pada kelompok-kelompok anarkis seperti kami. Padahal sebeda apapun pandangan politik kita, menurutku ada satu irisan yang bisa kita jadikan landasan untuk bergerak bersama. Yaitu: kita mempunyai satu musuh bersama. Tapi hari itu, kami merasa perlu untuk menyatakan sikap. Karena isu represifitas negara memang cocok untuk direspon dengan simbol-simbol yang jauh lebih frontal. Ya, simbol ‘Circle-A’ itu sendiri.

Tapi tahukah kamu, Suci, bahwa wacana anarkisme ini sendiri memang masih belum terdistribusi dengan baik di masyarakat kita? Sudah bukan rahasia lagi bahwa di dalam kelompok-kelompok anarkis sendiri masih ada individu-individu yang belum memahami betul mengenai anarki. Kebanyakan dari mereka hanya terjebak pada jargon-jargon anarkis yang selalu mengatakan bahwa ‘semua ini terjadi karena masih adanya negara’. Sementara apabila kamu bertanya pada mereka, solusi apa yang bisa mereka berikan, mereka akan menjawab dengan enteng: ‘bubarkan negara’. Semudah itu saja mereka berpikir, tanpa mereka pernah mempelajari sistem ekonomi yang sejatinya memang menjadi sesuatu yang sejak jaman dahulu kala telah menjadi penghubung antar individu di dalam sosial. Iya, mereka tidak tahu, apabila kamu menanyakan, sistem ekonomi seperti apa yang bisa menjadi alternatif dari sistem ekonomi yang ada sekarang.

Maka bukan menjadi hal yang aneh pula ketika Asdam, seorang koordinator dari FPR, yang pagi itu berdiri di atas mobil komando untuk berorasi, berkali-kali mengatakan hal yang keliru mengenai ‘anarki’. Ia berkali-kali mengatakan dengan lantang bahwa para marinir di Pasuruan telah melakukan tindakan yang anarkis dengan menembaki warga. Hmm, aku rasa ia ingin mengatakan ‘brutal’, tapi ia hanya lupa meletakkan kata itu di laci yang mana dalam perbendaharaan katanya. Tapi tetap saja aku merasa sedikit malu. Sementara di bawah sini kami mengusung-usung bendera anarki berukuran besar, di atas sana ada orang yang seolah-olah anti pada anarki. Dan sayangnya ia adalah seorang koordinator.

Pukul sepuluh lebih duapuluh, aliansi itu mulai bergerak ke Detasemen TNI AL yang terletak di Jalan Arya Jipang. Saat itu langit sedang baik pada kami semua. Matahari tidak terlalu terik, sehingga kami yang melakukan long-march tidak merasa terlalu tersiksa. Sebab perjalanan dari Monumen Perjuangan ke Detasemen TNI AL cukup jauh. Memakan waktu sekitar setengah jam.

Pukul sebelas kami tiba di depan Detasemen TNI AL. Di sana kami disambut oleh para wartawan yang sedang memburu berita. Aku dan seorang kawan Apokalipsku yang perempuan, yang saat itu berdiri persis di sampingku, menjadi objek menarik bagi mereka. Kami berdua berkali-kali dipotret dari berbagai sisi. Dandanan kami memang yang paling berbeda dari organ-organ lainnya. Mengenakan pakaian hitam-hitam, kafiah yang menutupi wajah; kami memang sengaja untuk menciptakan imaji di kepala orang-orang. Memainkan simbol-simbol yang bisa menarik perhatian mereka. Di tengah-tengah derasnya iklan-iklan produk yang mengarahkan orang-orang untuk menjadi konsumen, kami memang ingin membuat orang-orang itu berpaling sejenak dari bombardir iklan-iklan tersebut, dan mengarahkan pandangannya kepada kami. Dengan harapan mereka bertanya: “apa sih mereka itu?”, lalu “kenapa sih mereka seperti itu?”.

Tak lama kemudian seorang perwakilan dari TNI AL keluar. Ia mengenakan seragam khas TNI AL yang berwarna biru muda itu. Aku sempat membaca nama yang tertera di dada kirinya. Didik Prasetyo. Tapi, sialnya, aku belum bisa mengenali pangkat seseorang dari strip-strip yang ada di bahu.

Sebetulnya aliansi ini mempunyai ekspektasi bahwa Detasemen TNI AL Bandung mau memberikan pernyataan sikap berupa ketidaksetujuan atas tindakan represifitas yang terjadi di Pasuruan. Tapi ternyata apa yang Didik sampaikan hanyalah pemintaan maaf dan juga penyampaian informasi bahwasanya ‘kasus ini masih dalam proses’. Orang-orang dalam aliansi yang merasa kecewa langsung memberikan sorakan “huuuu…” yang panjang ketika Didik hendak kembali masuk ke markas tanpa memberikan apa yang aliansi ini harapkan. Akhirnya aliansi pun melanjutkan perjalanan ke Gedung Sate (kantor DPRD) yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana.

Setengah dua belas siang, aliansi telah tiba di depan pagar Gedung Sate. Saat itu matahari mulai terasa menusuk kulit. Aku melihat beberapa aparat kepolisian telah bersiaga menjagai gedung tersebut. Beberapa wajah dari polisi itu adalah wajah yang telah sering kulihat dalam setiap aksi. Yang paling mencolok di antara mereka adalah seseorang yang bernama Budhi. Ia adalah yang paling tinggi di antara semua polisi yang ada di situ. Wajahnya pun sedikit kebule-bulean. Ia membuatku terus menerus berpikir, dengan wajah setampan itu mengapa ia tidak memilih menjadi cover boy?

Ternyata kesempatan untuk bertanya pada Budhi itu datang, Suci. Pada aksi dorong-dorongan di pintu masuk dengan mereka, aku sempat bertanya padanya, “kenapa sih kamu ngejagain kapitalis?”. Dia hanya memelototiku. Aku tidak tahu pasti apakah ia melotot karena pertanyaanku, atau karena kesal sebab pagar yang ia dan teman-temannya jagai dari dalam hampir saja terbuka oleh aliansi yang berusaha merangsek masuk.

Tapi aksi dorong-dorongan itu tidak berlangsung lama. Karena akhirnya pihak perwakilan DPRD bersedia untuk keluar dan memberikan pernyataan sikap. Seluruh peserta aksi duduk dengan manis di aspal yang panas dan mendengarkan ocehan si perwakilan DPRD di atas mobil komando itu. Ia mengatakan bahwa kasus kebrutalan militer memang harus dituntaskan; hal yang mengundang tepuk tangan dari beberapa orang di dalam aliansi. Setelah ia selesai berbicara, seseorang dari FMN naik ke atas dan membawakan dua lembar kertas. Itu adalah sesuatu yang harus ditandatangani oleh orang tersebut. Aku tidak sempat melihat lagi apakah ia menandatanganinya atau tidak. Karena aku melihat semua orang mulai berdiri dari duduknya. Aku tahu bahwa sudah hampir tiba waktunya untuk bubar.

Jadi, begitulah, Suci. Aku tahu akhir-akhir ini waktuku hampir semuanya telah kupersembahkan untuk aktifitas semacam ini. Itu karena aku memang menyukainya. Aku merasa hidup di sini. Karena, bagiku, aku berada di planet ini memang untuk hidup. Bukan sekadar bertahan hidup. Maka selelah apapun aku setelah pulang dari kantor, sebisa mungkin aku akan memanfaatkan energi dan waktuku untuk membebaskan diri. Jika tidak begitu, hidupku tidak akan menarik. Bekerja, membeli, mengkonsumsi, lalu pada akhirnya mati. Apa yang kudapat dalam hidup ini? Dari mana aku bisa tahu bahwa aku pernah hidup ketika jasadku telah benar-benar mati nanti? Sebab seperti yang dikatakan oleh seorang kawan di Apokalips, “kematian terburuk terjadi justru saat raga kita masih hidup.”

Sekarang kamu sedang sakit, Suci. Herpes ternyata. Oke, mungkin tidak relevan juga jika hari Minggu lalu aku mengatakan itu adalah akibat dari kamu yang terlalu banyak bekerja. Tapi aku tahu kenapa akhir-akhir ini kamu jadi sering kembali menelponku meski hubungan kita sudah tidak lagi sama seperti dahulu: kamu hanya merasa kesepian dan tidak ada teman yang bisa kamu ajak berbicara, sementara melalui dunia maya pun kamu merasa tidak bisa menyentuh esensi dari apa-apa yang kamu cari. Aku katakan, kita semua memang kesepian di dalam sistem yang mengalienasi siapa saja ini. Dan aku tahu kamu sebetulnya bisa membebaskan dirimu sendiri dari alienasi itu. Kamu bisa. Karena memang hanya diri kita sendiri yang bisa menghadiahkan kebebasan pada diri kita sendiri. Tidak ada pahlawan di luar sana.

Aku tidak akan pernah menyelamatkanmu, karena kebebasanmu sejatinya memang hak kamu. Dengan cara inilah aku mencintaimu.

_____

Munir
Kontributor Apokalips