03 Februari 2008

Boneka

Aku memang pernah menyuruh diriku sendiri untuk diam, untuk lebih bisa mendengarkan suara-suara di luar diriku. Karena adalah sulit bagiku untuk berbicara dan mendengarkan dalam waktu yang sama. Tapi aku tidak mau, karena itu, pada akhirnya aku menjadi subordinat orang-orang yang memang tidak pernah senang mendengar. Dan mulut dan lidahku menjadi milik mereka.

28 Oktober 2007

Berharap di Atas Jalan yang Kian Sempit

Nurhana, perempuan kurus berusia 40 tahun itu, terlihat berusaha cukup keras untuk bisa tetap berdiri di dalam metromini bernomor trayek M 75 yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi Minggu (21/10/2007) malam itu. Tangannya tidak meraih pegangan besi yang menempel di langit-langit. Saat itu kedua tangannya memang sedang sibuk menghitung lembar-lembar rupiah. Sejurus kemudian ia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang masih kosong ketimbang bersusah payah mempertahankan keseimbangannya. Melihat itu semua membuat saya menaruh curiga, bahwasanya ia belum terbiasa melakukan ini. Ia memilih tempat duduk persis di samping saya. Memberi saya kesempatan untuk memastikan dugaan.

"Belum lama kok saya jadi kondektur. Baru setelah lebaran aja," akunya sembari tersenyum hangat. Senyuman yang saya yakin akan sangat sulit muncul dari sosok orang yang telah lama bekerja dengan profesi semacam ini.

Nurhana mau menjalani pekerjaan ini lantaran merasa berkewajiban untuk membiayai dua anak perempuannya yang masih bersekolah. Anak sulung Nurhana, laki-laki berusia 27 tahun, telah memilih pulang ke Cilacap, tanah kelahiran bapaknya, untuk mencari uang dengan mengemudikan ojek motor. Tanpa ada lagi anak laki-laki di tengah-tengah keluarganya, dirinya mengambil inisiatif untuk menjadi kondektur sang suami. Nurhana tidak merasa telah merebut lahan orang lain dengan melakukan ini. Meski dengan metode pasangan suami-istri bekerja di atas trayek yang sama, tampak seperti nepotisme. "Namanya juga orang cari makan," kata Nurhana.

Mungkin tanpa disadarinya betul, Nurhana sempat mengecam pembangunan busway koridor VI (Ragunan-Kuningan) yang menurutnya sangat berpengaruh pada penghasilan suaminya. Tapi pada akhir perbincangan, ia sempat mengungkapkan rasa bangga pada putrinya yang tak lama lagi akan segera lulus dari bangku kuliah. "Biarpun saya sama suami saya kerja kayak begini, tapi dia belajarnya rajin. IPK-nya nggak pernah di bawah tiga." Ungkapan yang sangat saya yakini ia ucapkan dengan sangat sadar. Sebab, jika tidak, rasanya tidak mungkin Nurhana rela melakukan ini semua dengan tetap tersenyum. Senyuman yang memancarkan kasih sayang seorang bunda pada anak-anaknya.[]

19 September 2007

Seri Rekaman Nyanyian Jalanan # 2

Pengamen Tanpa Nama

Mungkin memang tak mudah untuk membuat appointment dengan pengamen.


Adi Firmansyah. Saya merasa takjub pada kelugasan ia memperkenalkan namanya. Di balik pekerjaannya sebagai pengamen bis
kota
, ternyata masih tersimpan sebuah kebanggaan pada diri sendiri. Tidak seperti salah seorang pengamen lainnya, yang beberapa hari sebelumnya saya temui di salah satu bis jurusan Blok M, yang memperkenalkan dirinya dengan nama Bule. Setelah saya berkata padanya bahwa sudah semestinya kita merasa bangga pada nama pemberian orangtua, barulah Bule mau mengakui bahwa nama sebenarnya adalah Muhammad Yusuf. Saat itu juga saya bingung, mengapa ia merasa perlu untuk mencari nama lain sebagai pengganti nama sebenarnya yang sudah seperti nama seorang nabi. Dua orang, maksud saya. Untunglah teman saya, yang pada waktu itu sedang bersama saya di dalam bis tersebut, bisa menyudahi kebingungan saya dengan caranya yang jenaka. "Mungkin dia takut dipanggil Ucup," ujarnya. Bisa jadi.

Berbeda dengan seorang pengamen yang beberapa hari sesudahnya saya jumpai di Patas sedang menyandang gitar kecilnya. Semenjak pertama kali menegurnya saja, saya sudah bisa merasakan satu kesan berbeda dari dirinya. Ia menanggapi saya dengan gaya yang santai, seolah-olah sedang berhadapan dengan kawan lamanya. Benar-benar berbeda dari sebagian pengamen yang cenderung terlihat inferior saat saya mengajak mereka berbincang.

Adi Firmansyah, ucapnya lugas seraya mengulurkan tangan kanan yang dengan seketika saya sambut. Dan seketika itu juga saya merasa senang karena berpikir telah menemukan seorang narasumber yang bersikap apa adanya. Setidaknya kesan itulah yang bisa saya tangkap dari mulai bagaimana ia memperkenalkan diri dengan nama asli, gesturnya, hingga bagaimana ia selalu memandang ke mata saya kala kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya, dan juga mulut saya.

Seiring perjalanan, ada perasaan resah dari dalam diri saya yang muncul pada saat itu juga. Saya merasa tidak rela apabila harus berpisah dengan Adi terlalu cepat. Mengingat, saya tidak mungkin untuk mengikuti perjalanannya karena sebetulnya tujuan saya menumpang bis tersebut pada hari itu adalah untuk mencapai kantor. Sementara di sisi lain, saya baru saja merasa menemukan narasumber yang cukup bisa diajak bekerja sama. Keresahan tersebut sepertinya lahir karena pengalaman kurang menyenangkan yang saya dapat akhir-akhir ini.

Mungkin memang tak mudah untuk membuat appointment dengan pengamen. Itulah persepsi yang terbentuk di benak saya setelah beberapa kali merasa gagal untuk bisa menemui mereka untuk yang kedua kalinya. Dua pengamen terakhir yang sempat saya ajak berkenalan, termasuk Bule, mengaku tidak mempunyai nomor telepon—ataupun nomor telepon orang terdekat yang bisa dihubungi. Maka akhirnya selalu sayalah yang memberikan nomor telepon seluler saya pada mereka dengan harapan agar mereka mau menghubungi. Tapi setelah melewati hari demi hari dengan penantian, kabar dari mereka tak pernah kunjung datang. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menanti dan mulai mencari narasumber yang lain.

Maka ketika Adi Firmansyah tengah asyik menceritakan pengalaman hidupnya—mengenai dirinya yang baru saja terkena operasi pembersihan oleh aparat dan harus merelakan ketika uang hasil mengamennya sebanyak 180.000 rupiah diambil; mengenai ia yang telah berhasil menyelesaikan program D2 Universitas Gunadarma dengan biaya hasil mengamennya; mengenai ia yang sehari-harinya mangkal di pintu tol Cibitung namun terkadang pula bermalam di UKI—pikiran saya disibuki oleh keresahan. Karena saya sadar, tak lama lagi saya harus turun.

Hingga akhirnya saya memang harus turun juga di depan kantor. Dan lagi-lagi apa yang bisa saya lakukan hanyalah meninggalkan nomor telepon seluler saya padanya agar ia bisa menghubungi sewaktu-waktu.

Di kantor, sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan, saya menyempatkan diri untuk mencatat informasi apapun yang sempat saya dapat tadi ke atas notes. Seketika saya menyesalkan kecerobohan yang telah saya lakukan. Saya lupa menanyakan usia pengamen tadi. Meski dari segi fisik saya bisa memperkirakan bahwa usia Adi Firmansyah beberapa tahun lebih muda dari saya, tapi saya tahu, demi akurasi apapun tidak bisa dikira-kira. Akhirnya, seperti otomatis saya pun mencoba mengingat-ingat kembali setiap detil yang sempat diutarakan oleh Adi demi mencari secuil petunjuk. Namun, ketika sedang berusaha sekuat tenaga mengingat-ingat apa yang telah lewat, saya malah dikejutkan oleh sebuah fakta: Bukankah Universitas Gunadarma tidak mempunyai program D2? Lalu mengapa Adi tadi mengakui bahwa dirinya lulusan D2 Universitas tersebut?

···

Hari demi hari kembali terlewati semenjak saya melompat turun dari bis dimana Adi Firmansyah tetap berada di sana, seraya tangannya tetap menggenggam secarik kertas berisi nomor telepon seluler yang sengaja saya tinggalkan untuknya agar ia bisa menghubungi. Tapi sampai saya menuliskan ini, kabar darinya yang saya tunggu-tunggu tak juga datang. Sulit untuk bisa tetap mempercayai seseorang apabila salah satu pondasi keyakinan yang menopangnya telah runtuh terlebih dahulu. Tidak mudah untuk tetap memegang satu ucapan seseorang, bila saya sudah tidak mempercayai ucapannya yang lain.

Kali ini bukan janji Adi untuk menelpon yang saya persoalkan. Bule, Akew, atau Rohim pun memiliki janji yang sama untuk menelpon saya dan mengatur pertemuan selanjutnya. Perkara mereka semua hingga detik ini belum juga memberi kabar, itu bisa mudah disikapi dengan pikiran positif, seperti: mungkin mereka memang benar-benar kesulitan mencari cara untuk menghubungi saya—mengingat, dari segi ekonomi, kondisi mereka memang lebih sulit ketimbang saya. Tapi mengatakan pernah mengambil program D2 Universitas Gunadarma, sedangkan saya tahu tidak ada program D2 di Universitas tersebut, itu lain perkara. Saya gagal menemukan cara yang bisa membuat saya tetap berpikiran positif untuk menyikapi kebohongan. Mungkin karena pada dasarnya saya tidak pernah suka dibohongi. Bahkan dengan perasaan sangat menyesal saya pun gagal untuk bisa tetap percaya bahwa Adi Firmansyah adalah nama orang itu yang sebenarnya.

Hingga suatu pagi, saat saya tidak sedang terlalu memikirkan soal pengamen ataupun menanti kabar dari mereka, saya mendapat kabar bahwa akan ada sebuah Perda baru yang saat ini masih disosialisasikan. Perda dengan nomor 8 tahun 2007 yang mengatur soal ketertiban umum itu akan menjadi dasar hukum lagi untuk menertibkan pengamen, pengemis, dan kelompok masyarakat miskin lainnya dari jalanan. Perda ini tidak hanya akan menjadi momok bagi kelompok-kelompok masyarakat miskin yang tetap harus berada di jalanan demi mengais rejeki. Tapi juga bagi pihak-pihak yang, menurut logika si pencetus Perda, mempertahankan keberadaan kaum miskin di jalanan; seperti memberikan receh kepada pengamen ataupun pengemis. Dalihnya, jalanan bukan tempat untuk berderma.

Saat itu juga saya segera teringat pada beberapa pengamen yang masih mempunyai janji untuk menghubungi saya. Saya membayangkan di mana pada saat itu mereka berada. Apakah di suatu tempat di luar sana mereka sedang berkejaran dengan waktu, memanfaatkan sisa waktu yang sedikit ini untuk mengamen sebelum Perda tersebut benar-benar diberlakukan? Apakah mereka sudah memutuskan untuk mengakhiri karir mereka sebagai pengamen lantaran ngeri pada Perda baru ini? Atau justru mereka bergeming, karena memang sudah biasa ditangkapi. Seperti yang sempat Adi katakan saat saya bertanya apakah ia takut ketika dikejar-kejar oleh aparat, sebelum pada akhirnya ia harus merelakan 180.000 miliknya.

“Biasa aja. Saya mah udah biasa. Kalo soal berurusan sama polisi sih, saya udah biasa. Lagipula kan dulu saya sekolah STM. Jadi udah sering ngerasain ketangkep pas tawuran.”

Saat itu saya hanya berharap dia benar-benar baik-baik saja di luar sana. Sebab saya memang masih menyimpan harapan untuk berjumpa dengannya lagi, entah dalam kesempatan yang seperti apa. Meski saya tidak tahu apapun mengenai dirinya, bahkan keaslian namanya yang saat itu sempat ia ucapkan dengan lugas dan membuat saya takjub, tapi saya tahu bahwa dia mempunyai harapan akan masa depan yang lebih baik. Sama seperti saya yang masih mengusahakan ini semua.[]