09 Agustus 2007

Memilih Hidup

Some set their hearts on a rocking chair. The better to sleep out the days. But I'm looking for a reason to kick and scream. I don't want to fade away.

Chumbawamba, Fade Away (I Don’t Want To)


Setelah mengajak Yana ber-high five, aku dan Edi segera meninggalkan kantor. Meninggalkannya yang tampaknya akan menetap lagi malam ini. Sembari berjalan menuju lift, aku menyempatkan diri menoleh ke belakang sekali lagi. Kemudian merasa high five tadi tidak cukup berhasil. Kelelahan itu masih kentara di wajahnya, meski ia telah mengusahakan sebuah senyuman saat telapak tangannya dan telapak tanganku tadi berjumpa di udara.

Aku maklum jika ia lelah. Pulang larut malam, bahkan tidak pulang sama sekali, memang menjadi suatu konsekwensi yang telah dijalaninya akhir-akhir ini semenjak terpilih sebagai salah satu orang yang akan dipersiapkan menjadi presenter.

“Anjir, kasian banget tu anak,” kata Edi, ketika kami sama-sama memasuki pintu lift yang sudah siap mengantar ke lantai dasar.

Untuk itulah aku mengajaknya ber-high five. Aku tidak suka merasa kasihan pada seseorang tanpa berbuat sesuatu apapun untuk berusaha menolongnya. Tapi kali ini, aku sungguh-sungguh merasa tidak bisa berbuat banyak. Karena bagaimanapun juga, apapun yang tengah kita masing-masing hadapi saat ini adalah konsekwensi yang harus kita terima setelah memilih untuk bekerja di sini. Maka rasa kasihanku itu hanya bisa terejawantahkan ke dalam suatu ajakan untuk tetap kuat. Kuat untuk menyongsong setiap konsekwensi dari pilihannya sendiri.

Bagiku, yang terpenting pada saat-saat seperti ini—ketika waktu hidup dalam duapuluh empat jam hanya dapat diisi dengan bekerja dan tidur—adalah bagaimana caranya mengusahakan pekerjaan menjadi sesuatu yang benar-benar dapat kunikmati. Apabila tidak, itu sama artinya aku tidak akan menikmati hidup itu sendiri, sama sekali.

“Apalagi kalo dateng ke kantor udah sampe bikin muntah-muntah, berak-berak… Itu sih udah nyiksa banget, men!” ujar Edi sembari wajahnya terlihat meringis.

Ketika mobil Kijang yang kami tumpangi melaju di jalan Gatot Subroto yang sudah lengang, Edi mulai bercerita mengenai seorang temannya yang pernah bekerja di E&Y. Aku mendengarkan kisahnya sembari menikmati rokok yang sudah kunyalakan sejak di tempat parkir.

Di perusahaan itu, ungkap Edi, ia telah berada pada suatu pencapaian yang lebih dari lumayan. Penghasilan lima juta rupiah sebulan. Tapi bekerja di perusahaan akuntan publik terkemuka semacam itu membuat hari-harinya hanya dipenuhi dengan imaji akan uang-uang yang tidak pernah menjadi miliknya. Keuntungan puluhan perusahaan besar yang bernilai puluhan milyar rupiah, hanya bisa singgah di pelupuk matanya sebagai akuntan, tanpa bisa ia mengenyam nilai sebanyak itu. Kecuali itu, ia merasa tidak pernah mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal lain selain bekerja dan tidur. Sebab mengurusi keuangan satu perusahaan saja, bisa memakan waktu sampai dua minggu. Pada saat-saat itulah—ketika ia sudah tidak dapat menikmati detik demi detik yang ia jalani, ketika pekerjaannya membuatnya merasa terasing dari apa yang ia kerjakan, dan ketika ia datang ke kantor hanya karena keharusan belaka—tubuhnya pun mulai berontak.

“Muntaber maksud lo, Ed?”

“Ha-ha! Bukan muntaber. Tapi muntah-muntah dan berak-berak karena udah muak ama apa yang dia kerjain,” terang Edi.

Pikiranku pun serta-merta mengenang beberapa kawan di perusahaan tempatku bekerja saat ini, yang beberapa hari belakangan sempat mengeluh padaku. Mereka mulai merasa keberatan dengan sistem perusahaan ini karena jam kerjanya yang tidak menentu. Sesuatu yang membuatku tak habis pikir kenapa dulu mereka memilih profesi yang, seperti dikatakan oleh Luwi Ishwara dalam bukunya: Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar, “wartawan, entah yang bekerja di surat kabar; majalah, radio, televisi, maupun yang di internet beroperasi 365 hari setahun dan 24 jam sehari. Seseorang tidak berhenti menjadi wartawan setelah pukul 5 sore seperti layaknya orang yang bekerja di kantor.”

Aku memerhatikan batang rokokku yang sengaja tak kutempatkan di dalam badan mobil, tapi tersemat di sela-sela jemari tangan kiriku yang tersodor ke luar jendela. Gesekan angin membuat rokok itu terbakar lebih cepat tanpa harus kuhisap. Saat itu juga aku merasakan relatifitas waktu. Waktu akan terasa lebih cepat mengikis habis ragaku, saat aku tidak dapat bersahabat dengannya dan menikmatinya. Sebisa mungkin aku harus segera menemukan kenikmatan dari apapun yang kukerjakan saat ini, apabila tidak ingin menemui ragaku sendiri berontak membunuhku.[]

06 Agustus 2007

Kontemplasi Ruang Tunggu

"Ilmu tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri. Mereka yang beruntung mampu mencurahkan dirinya kepada pengudian ilmu, harus yang pertama-tama menempatkan pengetahuan mereka untuk mengabdi umat manusia. Bekerjalah untuk umat manusia."

Kutipan ucapan Karl Marx oleh Paul Lafargue, Reminiscences of Marx

"Sukar sekali, jika tak hendak dikatakan tak mungkin, untuk memberikan introduksi tentang filsafat materialisme dialektik dan historis dalam satu kali kuliah. Tetapi saya yakin, bahwa kian hari akan kian banyak propagandis di Indonesia sini, karena hanya dengan populernya filsafat pembaruan itulah usaha pembaruan masyarakat Indonesia dipermudah."

— Njoto, Marxisme: Ilmu dan Amalnya, halaman 14




Pukul tujuh petang. Kantor masih dipenuhi orang. Tidak aneh, sebab ini kantor berita. Aku yang terbilang baru di sini, masih agak kikuk untuk menentukan apa yang mesti kukerjakan. Pun produserku dan tim liputannya tengah berada di Bali saat ini. Jadilah aku dan beberapa orang kawan, yang notabene sama statusnya denganku sebagai pekerja baru, berusaha mencari kesibukan masing-masing supaya tidak terlihat terlalu kontras dengan para reporter yang sibuk menulis naskah ataupun mem-preview gambar.

Ruang televisi lantai lima, yang konon juga merupakan ruang kumpul para camera-person, menjadi salah satu tempat favoritku selama seminggu terakhir—selain balkon di lantai tiga yang selalu kujadikan tempat untuk membakar rokok sembari menikmati permainan spektrum warna langit senja. Di tempat ini aku biasa mendaratkan bokong di atas sofa yang lumayan empuk sembari menyaksikan tayangan-tayangan National Geographic ataupun HBO. Tapi bukan saluran tivi kabel itu yang menjadikan tempat ini sebagai tempat favoritku. Melainkan, di sini, aku bisa sedikit menyingkir dari pergerakan orang-orang yang memang telah mengemban tugas dari para koordinator liputan.

Agak iri melihat Bam yang tiga bulan ke depan kebagian jatah posisi di Departemen Bulletin. Selama sepekan terakhir ini, ia nyaris tidak pernah terlihat berpangku tangan. Berangkat meninggalkan kantor pada pagi harinya, dan baru kembali lagi menjelang senja dengan membawa berita. Ia sudah mendapat kesempatan untuk melakukan liputan sekaligus merangkai naskah yang dipersiapkan untuk naik tayang; meski memang masih harus diedit lagi oleh produser. Tidak pasti tayang, memang. Maklumlah, sebagai pekerja pekerja baru, Bam juga masih harus menyesuaikan gaya menulisnya dengan standar yang dipakai oleh media ini.

Lain halnya denganku yang kebagian jatah posisi di Departemen Magazine. Aku masih belum pergi kemana-mana. Sepanjang hari aku hanya berada di dalam gedung ini, mencari kesibukan, supaya tidak terlihat terlalu kontras dengan orang-orang seperti Bam yang sibuk menulis naskah ataupun mem-preview gambar. Satu-satunya penugasan yang kuperoleh dari produserku dua hari lalu, sebelum ia berangkat ke Bali menyusul tim liputan yang sedang syuting di sana, adalah: riset. Aku kebagian tugas untuk mencari tahu mengenai Nanggroe Aceh Darussalam. Aku diminta untuk mencari kesenian khas Aceh yang unik dan layak untuk diangkat.

Awalnya, ini pekerjaan yang menggugah. Menelusuri narasumber hingga menemukan narasumber primer, tanpa kutahu harus mulai dari mana, adalah sesuatu yang menantang. Untuk itu aku jadi giat menjelajahi dunia maya. Mencari nama-nama instansi ataupun individu yang sekiranya bisa membawaku semakin dekat pada apa yang kutuju. Mempergunakan telepon pun tidak dilarang di kantor ini. Entah berapa ratus ribu rupiah sudah kuhabiskan untuk menelpon ke Serambi Mekah. Dan memang menggugah melakukan pendekatan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal demi mencari informasi. Berbincang via telepon dengan Marzuki Hasan—dosen IKJ yang konon paling sering bolak-balik Aceh-Jakarta—hingga dengan orang Dewan Kesenian Aceh Tengah. Aku merasa seperti seorang detektif.

Namun, sensasi itu tidak bertahan terlalu lama. Hari ini saja aku sudah mulai merasa jenuh untuk terus-terusan berada di dalam kantor, semenjak salah satu alasanku dalam memilih Pewarta sebagai profesi karena aktivitasnya yang lebih banyak dilakukan di luar sana.

Aku ingin menginjak aspal panas. Aspal yang juga diinjak oleh guru-guru, yang menuntut realisasi 20% anggaran pendidikan dari APBN. Aku ingin tersengat matahari. Matahari yang juga membakar kulit para buruh PT. NASA dan PT. HASI, yang menggugat NIKE karena ingin menghentikan orderannya pada dua pabrik tersebut. Aku juga ingin melihat kokohnya pagar besi gedung-gedung instansi, yang selalu berdiri di depan mata rakyat kecil setiap kali mereka datang untuk menyampaikan aspirasi. Aku ingin bersama mereka. Aku ingin berada di samping mereka, seraya mengatakan: hatiku selalu bersama kalian semua. Meski kata-kata itu hanya bisa termanifestasi dalam aktivitasku merekam apapun yang sedang kalian lakukan, dan menyampaikan kepada yang lainnya dengan seaktual dan sefaktual mungkin; agar setiap orang tahu bahwa kita memang tidak sedang baik-baik saja.

Saluran National Geographic tiba-tiba beralih ke AXN tanpa aku melihat lagi siapa yang memegang remote-control. Mungkin salah satu kawan di sampingku yang juga belum mendapat penugasan sepertiku. Atau mungkin seorang camera-person senior yang sejak tadi memang duduk di pojok ruangan ini untuk beristirahat. Aku tidak ambil pusing. Sejak tadi pun aku tidak terlalu berniat untuk menyaksikan apapun di dalam kotak televisi tersebut. Aku masih sibuk memikirkan apa lagi yang bisa kukerjakan, ketika para contact-personku meminta untuk ditelepon kembali baru keesokan pagi.

Tiba-tiba seorang kawan perempuan yang tengah dipersiapkan untuk menjadi presenter, memasuki ruang televisi dan mengambil tempat di sampingku. Wajahnya kelihatan sedikit lebih lesu dari biasanya. Meski memang ia memiliki perangai yang tidak ceria, dan cenderung dingin, tapi kali ini aku bisa melihat sesuatu yang berbeda pada raut wajahnya. Aku berpersepsi ia tidak sedang berada dalam suasana hati yang baik untuk diajak bicara. Tapi keegoisanku seolah mengabaikan persepsi itu. Aku membuka pembicaraan karena aku memang sedang butuh teman bicara. Aku membukanya dengan bertanya kenapa.

“Lagi bete nih gue. Masa gue musti…”

Ternyata dugaanku sedikit meleset. Ia memang sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Tapi tampaknya ia justru memang sedang butuh untuk berbicara. Maka jadilah aku seorang pendengar yang baik. Mendengarkan ia berkeluh kesah soal beberapa hal yang tidak menyenangkan hatinya. Mendengarkan semuanya dengan seksama sembari memerhatikan sorot matanya yang terkesan galak. Sorot mata yang memang selalu seperti itu semenjak aku mengenalnya.

Ia menarik nafasnya setelah merasa cukup berbicara. Aku menanti beberapa detik, memberi kesempatan baginya apabila ia memang masih ingin melanjutkan. Tapi tampaknya ia memberi kesempatan itu padaku.

“Kita akan berdialektika kok,” ucapku hati-hati kemudian. Hati-hati karena beberapa hari yang lalu ia sempat menuduhku sebagai orang kiri. Aku khawatir dengan membuka wacana mengenai materialisme dialektik dan historis seperti yang baru saja kulakukan memberi ia afirmasi bahwa dugaannya itu benar.

“Maksud lo?” tanyanya dengan wajah bingung.

“Iya, A ketemu B harus jadi C. Itu dialektika. Seorang lo ketemu dengan sebuah perusahaan, itu harus menghasilkan sebuah nilai yang baru. Itu dialektika. Begitu juga dengan datangnya lo di perusahaan ini. Nggak bisa A itu harus tergerus dan B yang tetep eksis, pun sebaliknya. Harus ada gaya permainan baru yang dihasilkan dari pernikahan atara lo dan perusahaan ini. Gaya permainan yang nantinya dipake sama kedua pihak.”

“Tapi katanya kan kita musti nurut dulu sekarang. Nggak boleh ngelawan. Ngikutin standar.”

“Ya, iya sih…,” aku bingung harus melanjutkan apa lagi sebetulnya. Aku berusaha keras menemukan kalimat yang bisa menjadi penutup dari pembicaraan ini. Sebab aku sendiri merasa tidak pantas untuk berlagak bijak padanya, mengingat aku sendiri pun sedang merasakan kegelisahan yang tidak jauh berbeda dari dirinya. “Memang kita sekarang musti nurut dulu. Tapi pertahanin karakter lo aja. Karakter lo itu keras. Menurut gue itu bagus. Dengan itu lo jadi punya sikap. Nantinya orang-orang di sini akan ngeliat, dan lo sendiri juga akan tau, lo sebenernya cocok untuk ada di program acara yang kayak gimana. Soft News atau Hard News.”

Memang pandai sekali aku kalau bicara. Sedangkan menyelesaikan masalah sendiri pun aku belum berhasil. Aku sendiri masih berusaha melepaskan diri dari suasana hati yang buruk karena hingga kini belum ditugaskan untuk pergi kemana-mana. Kini aku sudah berlagak seperti seorang penasihat spiritual.

“Iya sih… Ah, tapi udahlah. Gue aja kali yang lagi mau dapet. Jadinya bete gini. He-he-he. Nggak usah dianggep lah omongan gue tadi,” ujarnya dengan gestur yang seolah ingin memberi impresi bahwa ia bukan seorang perempuan cengeng. Dan ia pun langsung meninggalkan ruang televisi.

Ah, iya. Sama-sama. Tidak perlu dipikirkan juga segala nasihat tadi. Sesungguhnya kata-kata itu lebih ditujukan kepada diriku sendiri. Selalu seperti itulah setiap nasihat yang tersaji lewat media bernama ‘mulut manusia’.[]

11 Juli 2007

[Review] The Edukators

Genre : Drama Action
Produksi : y3 film/coop 99
Sutradara : Hans Weingartner
Format : DVD
Durasi : 127 Menit
Tahun Produksi : 2004


Jule (Julia Jentsch) adalah seorang aktivis yang memprotes kapitalisme, namun ia juga terpaksa bekerja sebagai pelayan sebuah restoran mewah karena harus membayar 100.000 Euros atas kerusakan mobil Mercedes yang pada suatu hari ditabraknya. Sementara Peter (Stipe Erceg) dan Jan (Daniel Brϋhl) telah selangkah lebih maju dalam upaya mereka menentang sistem tersebut. Mereka berdua melakukan sebuah aksi-langsung dengan metode menyatroni rumah-rumah konglomerat. Alih-alih menjarahi barang-barang berharga yang terdapat di rumah-rumah mewah itu, mereka menata ulang perabotan di rumah-rumah itu serta meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan pendek: “Kamu memiliki terlalu banyak uang. Tertanda: The Edukators”.

Kapitalisme dalam film ini dikedepankan dengan fenomenanya yang paling populer, yakni: kesenjangan sosial. Dimana pada satu bagian film digambarkan dari sisi seorang Jule yang harus memutar otaknya demi memikirkan bagaimana cara untuk melunasi hutang, selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sementara di sisi seberangnya, digambarkan orang-orang yang telah berlimpah secara finansial, sehingga apa yang mereka pikirkan bukan lagi tentang bagaimana caranya untuk subsisten; melainkan hal-hal remeh-temeh seperti: kesempurnaan penyajian pear Brandy, yang harus dengan gelas khusus Brandy—bukan gelas liqueur. Singkatnya, gaya-hidup. Seperti yang juga dipaparkan oleh Jan kepada Jule, bahwa temannya itu selama ini telah membanting tulang hanya untuk mendanai seorang agar bisa mengendarai Mercedes. Padahal bagi para eksekutif itu, harga mobil tersebut sangatlah minor jika dibandingkan dengan nilai seluruh kekayaannya.

Hingga suatu saat, sisi revolusioner dalam diri Jule seperti terstimuli oleh kata-kata Jan mengenai ketidakadilan yang kerap dirasakan oleh orang-orang yang berada di kelas sosial seperti mereka. Jule menjadi tidak disiplin di restoran tempat ia bekerja, yang mengakibatkan dirinya diberhentikan dari pekerjaannya. Pada saat Jule tengah menyesali kecerobohannya itu, Jan membangkitkan semangatnya dengan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan dengan melawan atasan tersebut merupakan sesuatu yang hebat. Sebab itu menunjukkan konsistensi dari apa yang Jule lakukan selama ini dengan protes-protesnya terhadap eksploitasi dan penjajahan kapitalisme. Kemudian Jan mengajaknya ke suatu pemukiman mewah milik orang-orang kaya untuk melihat apa yang selama ini dikerjakannya bersama dengan Peter, yang notabene merupakan kekasih Jule. Di sinilah Jule baru mengetahui bahwa ternyata kekasihnya punya sebuah aktivitas ilegal dengan membobol masuk rumah-rumah orang kaya, serta menamakan diri mereka sendiri ‘The Edukators’.

Setelah pemaparan Jan yang cukup meyakinkan mengenai aksi The Edukators, yang termasuk di dalamnya mengenai ketidaktertarikan mereka untuk mencuri barang-barang dari setiap rumah yang mereka bobol, saat itu juga Jule tertarik untuk ikut mempraktikkan apa yang selama ini dilakukan oleh Peter dan Jan. Meski sebenarnya saat itu Peter sedang berada di luar negeri, Jule mengajak Jan untuk melakukan metode The Edukators terhadap rumah seseorang yang selama ini telah menjadikannya menderita; yang tidak lain adalah Hardenberg (Burghart Klaussner), orang yang membuat Jule berhutang padanya. Aksi terlalu spontan inilah yang membawa mereka pada rentetan masalah-masalah baru dengan sebuah solusi yang pahit, yakni bubarnya The Edukators termasuk aktivisme yang selama ini telah dilakukan.

Apabila dibandingkan dengan sebuah film yang pernah saya tonton―yang juga mengangkat isu resistensi terhadap kapitalisme―yaitu ‘Fight Club’, film ini memang terkesan lebih datar dengan minimnya sequence baku hantam dan lebih sarat percakapan. Namun, dengan hal tersebut film ini justru menjadi lebih gamblang dalam menuturkan fakta-fakta mengenai kapitalisme dan resistensi seperti apa yang relevan untuk dilakukan, ketimbang Fight Club yang cenderung abstrak dan malah memperkuat kesan fiktif film tersebut di benak penonton yang masih relatif asing dengan wacana kapitalisme.

Bentuk resistensi yang digambarkan di dalam film The Edukators ini juga terasa lebih wajar dengan menunjukkan bahwa: revolusi―dalam mengupayakan kebebasan―di tengah masyarakat yang menuntut kita untuk menjadi kompromis dengan bekerja dan sebagainya, memang bukan sesuatu yang mudah. Namun, itu merupakan satu hal yang perlu untuk dikerjakan agar kita tidak kehilangan segala hal yang sejatinya kita miliki. Seperti yang dikatakan dengan cukup gamblang oleh Jan, ketika Jule merasa bahwa keinginannya untuk menjadi liar dan bebas (wild and free) adalah sesuatu yang bodoh: “Anyhow, if you keep working for that asshole, you’ll lose faith in everything.”